JawaPos.com - Gelandang Fenerbahce Matteo Guendouzi terlibat keributan usai timnya menyingkirkan Lyon pada leg kedua playoff Liga Champions, Kamis (27/8). Mantan pemain Marseille itu menjadi sorotan setelah melakukan selebrasi provokatif di depan pendukung Lyon.
Guendouzi memang menjadi sasaran cemoohan sepanjang pertandingan di Groupama Stadium. Pemain asal Prancis itu bahkan harus ditahan rekan-rekannya ketika suasana mulai memanas setelah peluit panjang dibunyikan.
Dalam sebuah rekaman yang beredar, Guendouzi terlihat meneriakkan Allez l'OM (Majulah Olympique de Marseille) ke arah kamera di pinggir lapangan. Ungkapan tersebut merupakan bentuk dukungan kepada Marseille, klub yang menjadi rival berat Lyon di sepak bola Prancis.
Situasi kemudian semakin panas. Seseorang yang mengenakan seragam Lyon terlihat mendekati Guendouzi saat sang gelandang berjalan menuju lorong. Tidak lama kemudian, keributan antarpemain dan staf kedua tim pecah di lapangan hingga menjalar ke lorong menuju ruang ganti.
Lyon kemudian menyoroti tindakan Guendouzi melalui pernyataan resmi mereka. “Menit-menit akhir pertandingan ditandai dengan ketegangan tinggi setelah selebrasi provokatif Matteo Guendouzi di depan pendukung Lyon,” kata Lyon dikutip dari ESPN.
Guendouzi kemudian memberikan penjelasan mengenai insiden tersebut. Ia mengaku merasa tidak dihormati oleh pendukung Lyon yang menurutnya telah melontarkan hinaan kepada keluarganya sepanjang pertandingan.
“Anda tahu, ketika ada 60 ribu orang menghina keluarga, ibu, dan anak-anak Anda, bahkan sebelum pertandingan dimulai, dan tidak ada seorang pun dari tim wasit yang meminta stadion untuk tenang,” kata Guendouzi usai laga.
Menurut Guendouzi, hinaan tersebut terus terdengar selama 90 menit, bahkan sejak pemanasan. Karena itu, ia merasa berhak memberikan respons terhadap provokasi yang diterimanya.
“Jika ingin saling meledek, maka harus berlaku dua arah. Mereka menghina ibu dan keluarga saya. Bagi saya, itu tidak menghargai,” ujarnya.
Guendouzi juga ditanya mengenai gestur tangan yang dilakukannya kepada pendukung Lyon, yang dikenal sebagai Jul sign. Gestur tersebut merupakan simbol yang dikaitkan dengan rapper asal Marseille, Jul.
Guendouzi menegaskan bahwa dirinya memang merupakan pendukung Marseille dan tidak pernah menyembunyikan kecintaannya terhadap klub tersebut.
“Semua orang tahu saya mendukung OM. Saya tidak pernah merahasiakannya. Itu hanya sedikit lelucon, mereka menghina keluarga saya. Jika kami tidak boleh membuat Jul sign sebagai respons, lalu bagaimana?” kata Guendouzi.
Mantan pemain Arsenal itu kemudian membandingkan situasi tersebut dengan sejumlah pertandingan sebelumnya ketika pemain Lyon melakukan selebrasi di depan pendukung Marseille di Stadion Velodrome.
“Saya pernah melihat pertandingan ketika pemain Lyon merayakan gol di depan tribun di Velodrome. Ini harus berlaku dua arah. Bagi saya, saya berhak merayakan. Tidak ada niat jahat dalam Jul sign,” tutur Guendouzi.
Guendouzi baru bergabung dengan Fenerbahce pada Januari 2026 setelah meninggalkan Lazio. Kini, ia turut membantu klub Turki tersebut kembali ke panggung utama Liga Champions untuk pertama kalinya sejak musim 2008/2009.
Fenerbahce memastikan tiket ke Liga Champions setelah menang 2-1 atas Lyon pada leg kedua playoff. Hasil tersebut membuat Fenerbahce unggul 3-2 secara agregat.
Hingga artikel ini ditulis, UEFA belum memberikan tanggapan terkait insiden yang terjadi setelah pertandingan tersebut.