JawaPos.com - Premier League memasuki musim baru dengan perhatian khusus terhadap satu masalah yang kerap muncul dalam situasi bola mati yaitu aksi tarik-menarik pemain di dalam kotak penalti.
Mulai musim 2026/27, wasit akan diminta lebih tegas dalam menangani pelanggaran yang terjadi saat tendangan sudut maupun situasi set-piece lainnya.
Langkah ini diambil setelah aksi saling dorong, menahan, hingga bergulat menjadi pemandangan yang cukup sering terlihat sepanjang musim lalu.
Baca Juga: Rachmat Irianto Bongkar 5 PR Besar Persebaya Surabaya Jelang Hadapi Bhayangkara FC
Masalah tersebut bahkan mendapat sorotan dari sejumlah pelatih. Manajer Everton, David Moyes, pernah mengkritik wasit setelah pertandingan melawan Manchester United pada Februari lalu.
Ia menilai pengadil pertandingan terlalu enggan mengambil tindakan terhadap pelanggaran yang terjadi di dalam kotak penalti.
Situasi serupa kembali terjadi pada laga West Ham United melawan Arsenal pada Mei. Ketika itu, sebuah gol West Ham dianulir setelah VAR menemukan sejumlah potensi pelanggaran dalam satu rangkaian sepak pojok.
Baca Juga: Chant Anti-Palestina Menggema Usai Manor Solomon Cetak Gol, West Ham Buka Suara
Persoalan tersebut kemudian dibahas dalam pertemuan yang melibatkan kapten tim, pelatih, wasit, dan sejumlah pihak terkait selama musim panas.
Wasit Diminta Lebih Berani
Pada dasarnya, tidak ada perubahan terhadap aturan dasar permainan. Namun, fokus terhadap perilaku pemain akan diperketat.
Wasit akan lebih memperhatikan aksi menahan lawan yang memberikan dampak terhadap permainan. Terutama ketika seorang pemain tidak berusaha memainkan bola dan hanya fokus menghentikan pergerakan lawannya.
Beberapa tindakan yang menjadi perhatian antara lain memegang lawan dengan kedua tangan, menahan pemain secara terus-menerus, menarik pakaian, atau melakukan kontak yang jelas bertujuan menghentikan lawan tanpa adanya upaya memainkan bola.
Kepala wasit Premier League, Howard Webb, meminta para pengadil pertandingan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.
Musim depan, wasit diharapkan mengurangi pemberian peringatan dan lebih sering langsung memberikan pelanggaran ketika menemukan tindakan yang memenuhi kriteria tersebut.
Namun, bukan berarti seluruh kontak fisik di dalam kotak penalti akan dianggap pelanggaran. Premier League tetap ingin mempertahankan unsur fisik yang menjadi bagian dari permainan.
Perlindungan terhadap kiper juga tidak akan diterapkan seketat yang terlihat pada Piala Dunia. Benturan ringan dengan penjaga gawang tidak otomatis membuat gol dianulir.
Sebaliknya, apabila seorang pemain benar-benar membatasi pergerakan kiper, terutama pada bagian tangan atau lengannya, pelanggaran tetap dapat diberikan.
Baca Juga: Target Main Intensitas Tinggi! Bernardo Tavares Siap Memasak Skuad Persebaya Surabaya di Thailand
Bisa Mengubah Strategi Bola Mati
Kebijakan baru ini berpotensi memengaruhi strategi klub-klub Premier League. Pasalnya, bola mati menjadi salah satu sumber gol penting dalam kompetisi.
Musim lalu tercipta 269 gol dari situasi set-piece, tidak termasuk penalti dan tendangan bebas langsung. Angka tersebut menyumbang 25,7 persen dari total gol Premier League.
Arsenal menjadi tim paling produktif melalui bola mati dengan 25 gol. Mereka juga hanya kebobolan tujuh gol dari situasi serupa.
Manchester United berada di belakang Arsenal dengan 21 gol, sedangkan Tottenham Hotspur mencetak 19 gol.
Di sisi lain, Liverpool menjadi tim yang paling sering kebobolan dari set-piece dengan 19 gol. Chelsea dan Newcastle United masing-masing kemasukan 17 gol.
Karena itu, perubahan pendekatan wasit bisa membuat klub harus menyesuaikan strategi mereka. Tim yang selama ini mengandalkan duel fisik dan penjagaan ketat di dalam kotak penalti mungkin harus mencari cara berbeda.
Premier League kini berharap aturan tersebut tidak hanya diterapkan secara ketat pada awal musim. Tujuan utamanya adalah mengubah kebiasaan pemain sehingga situasi tarik-menarik dan aksi bergulat saat sepak pojok perlahan berkurang.