← Beranda
Kevin Lamour Tinggalkan FIFA Usai Kritik Kebijakan Kontroversial Gianni Infantino
Aprillia JPRabu, 19 Agustus 2026 | 13.18 WIB
Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Kevin Lamour meninggalkan jabatannya sebagai Chief Operating Officer (COO) FIFA pada Senin (17/8), hanya beberapa pekan setelah mengkritik rencana kontroversial Presiden FIFA Gianni Infantino terkait pengelolaan Piala Dunia.

Kepergian Lamour memperparah krisis tata kelola FIFA. Langkah itu menyusul penolakan sejumlah konfederasi atas rencana Infantino menjual saham pengelola Piala Dunia kepada investor swasta.

“FIFA dapat mengonfirmasi bahwa hubungan kerja antara FIFA dan Kevin Lamour sebagai Chief Operating Officer FIFA telah berakhir pada 17 Agustus 2026. FIFA berterima kasih kepada Kevin atas dua tahun pengabdiannya dan mendoakan yang terbaik untuk masa depannya. Tidak ada komentar lebih lanjut mengenai masalah ini,” kata juru bicara FIFA dikutip dari ESPN.

Baca Juga: 3 Perubahan Besar VAR Premier League: Suara Wasit hingga Penilaian Kesalahan Mulai Dibuka

Lamour sebelumnya menjadi salah satu pejabat FIFA yang secara terbuka mengungkapkan kekhawatirannya terhadap rencana Infantino terkait penjualan saham Piala Dunia. Proposal itu juga memicu penolakan dari tiga konfederasi kontinental, seperti AFC, Concacaf, dan UEFA sebelum akhirnya ditarik kembali.

Dalam pesan perpisahannya kepada para staf FIFA setelah diberhentikan dari jabatannya, Kevin Lamour mengungkapkan bahwa 17 Agustus 2026 menjadi hari terakhirnya bekerja di badan sepak bola dunia tersebut. “Sayangnya, itu adalah hari terakhir saya di FIFA,” tulis Lamour dalam pesan yang dilansir dari RMC Sport.

Mantan pejabat nomor tiga FIFA itu juga mengaku bahwa dirinya belum mampu memberikan dampak seperti yang diharapkan selama berada di organisasi. “Saya tidak berhasil memberikan dampak yang saya harapkan di organisasi ini dan saya ingin meminta maaf untuk itu. Saya minta maaf jika telah mengecewakan sebagian dari kalian. Terkadang, bahkan niat terbaik pun tidak cukup,” ujarnya.

Baca Juga: Giannis Konstantelias Dijual ke Borussia Dortmund, Ratusan Suporter PAOK Salonika Duduki Stadion

Lamour kemudian mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan yang diterimanya dari para staf FIFA setelah dirinya secara terbuka mengkritik proyek Infantino. “Terima kasih atas ratusan pesan yang kalian kirimkan kepada saya selama dua pekan terakhir. Saya tidak menyangka dan pesan-pesan itu benar-benar menyentuh hati saya, lebih dari yang kalian bayangkan. Kalian adalah FIFA. Dan tanpa kalian, FIFA bukanlah apa-apa,” tulisnya.

Dalam bagian lain pesannya, Lamour menegaskan pentingnya mempertahankan prinsip meski berada dalam situasi sulit. “Jangan pernah lupa bahwa dalam hidup, persoalannya bukan melakukan apa yang mudah, melainkan melakukan apa yang benar. Sebagian besar dari kalian telah memahami hal itu dan menerapkannya dalam pekerjaan setiap hari. Angkat topi dan rasa hormat yang mendalam untuk kalian,” katanya.

Sementara itu, menurut Press Association (PA), staf FIFA menerima pemberitahuan mengenai kepergian Lamour melalui surat elektronik yang dikirim Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom. Dalam pesan tersebut, kontribusi Lamour selama dua tahun, termasuk upayanya memperbaiki hubungan FIFA dengan sejumlah pemangku kepentingan sepak bola, turut mendapat apresiasi.

Kepergian Lamour terjadi pada hari yang sama ketika dukungan terhadap Infantino kembali berkurang. Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) secara resmi menyatakan tidak akan memberikan suara untuk mendukung Infantino dalam pemilihan presiden FIFA pada 2027.

Chief Executive SFA Ian Maxwell menegaskan sikap itu sejalan dengan posisi UEFA yang selama ini telah dipertahankan Asosiasi Sepak Bola Skotlandia. “Scottish FA tidak akan memilih Gianni Infantino. Itu sejalan dengan posisi UEFA dan kami mempertahankan sikap tersebut sepanjang waktu,” kata Maxwell.

Baca Juga: Andhika Wijaya Tulis Pesan Perpisahan Usai Resmi Dipinjamkan Bali United

Maxwell juga menyoroti perubahan fokus FIFA yang menurutnya semakin jauh dari sepak bola itu sendiri. “Ketika Anda menjadi administrator sepak bola, seharusnya Anda tidak terlalu sering berada di depan kamera seperti yang terjadi selama ini,” ujar Maxwell.

Maxwell menilai ada masalah ketika Piala Dunia yang sukses dan didukung luas malah lebih disorot akibat kontroversi di luar lapangan ketimbang pertandingan itu sendiri. “Jelas ada kegagalan dalam tata kelola, kurangnya transparansi dan kurangnya keterlibatan dengan asosiasi anggota. Itu sesuatu yang perlu kami atasi. Transparansi dan tata kelola harus berubah,” katanya. Sikap SFA menjadi penting karena Presiden SFA Mike Mulraney saat ini menjabat sebagai ketua komite keuangan FIFA.

EDITOR: Banu Adikara