JawaPos.com - Era baru segera dimulai untuk timnas Prancis. Setelah Didier Deschamps mengakhiri masa jabatan usai Piala Dunia 2026, Federasi Sepak Bola Prancis resmi menunjuk Zinedine Zidane sebagai pelatih kepala baru dengan kontrak hingga 2030.
Penunjukan ini sebenarnya tidak mengejutkan. Selama beberapa tahun terakhir, Zidane memang disebut-sebut menunggu kesempatan untuk menangani Les Bleus. Kini, legenda sepak bola Prancis itu akhirnya mendapat pekerjaan yang telah lama diidamkannya.
Meski baru pernah melatih satu klub sepanjang karir kepelatihannya, keberhasilan Zidane bersama Real Madrid menjadi gambaran bagaimana kemungkinan akan membangun tim Prancis.
Baca Juga: Cesc Fabregas Dukung Penuh Penunjukkan Roberto Mancini yang Kembali Latih Timnas Italia
Mengandalkan Formasi 4-3-3 yang Fleksibel
Melansir Sporting News, saat menukangi Real Madrid, Zidane lebih sering menggunakan formasi 4-3-3. Namun, dia bukan pelatih yang kaku terhadap sistem permainan.
Tiga gelandang menjadi fondasi utama permainan. Mereka bertugas menjaga keseimbangan, mengontrol tempo, sekaligus menciptakan keunggulan jumlah pemain di area tengah.
Sementara itu, lini depan diberi kebebasan untuk bergerak dan saling bertukar posisi. Yang membuat Zidane berbeda adalah kemampuannya menyesuaikan taktik dengan karakter pemain yang dimiliki.
Baca Juga: Bomber Timnas Indonesia Viral Sempat Tawarkan CV! Sumardji: Mitchell Baker Dipantau BTN Sejak Lama
"Sistem permainan Zidane bukanlah model tetap. Dia beradaptasi dengan para pemain yang dimiliki di Real Madrid," ujar jurnalis AS Carlos Forjanes kepada RMC Sport.
Pendekatan seperti ini membuat Zidane dinilai akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan skuad Prancis yang memiliki banyak pemain bertipe menyerang.
Memberi Kebebasan kepada Para Bintang
Kesuksesan Zidane di Real Madrid tidak hanya datang dari strategi di papan taktik, tetapi juga kemampuannya mengelola pemain-pemain bintang. Alih-alih memberikan instruksi yang terlalu rumit, dia lebih memilih membangun organisasi tim yang solid, kemudian membiarkan para pemain mengekspresikan kreativitas mereka di lapangan.
Pendekatan itu terbukti efektif ketika Real Madrid meraih tiga gelar Liga Champions beruntun. Kemungkinan besar filosofi serupa akan dibawa ke timnas Prancis yang kini dihuni sederet pemain kelas dunia seperti Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, hingga Michael Olise.
Meski memiliki lini depan yang menakutkan dan pertahanan yang solid, Prancis masih memiliki pekerjaan rumah besar di sektor tengah. Aurelien Tchouameni masih menjadi satu-satunya gelandang yang tampil konsisten di level tertinggi. Sementara N'Golo Kante sudah memasuki usia senja, Adrien Rabiot mengalami penurunan performa, dan Warren Zaïre-Emery masih terus berkembang.
Sebagai salah satu gelandang terbaik sepanjang sejarah sepak bola, Zidane diyakini memiliki kemampuan untuk memaksimalkan potensi para pemain tengah Prancis.
Baca Juga: Mengapa Manchester United Tak Pernah Beli Pemain Seharga £100 Juta? Begini Strategi Baru INEOS
Namun, berbeda dengan melatih klub, waktu yang dimiliki pelatih tim nasional jauh lebih terbatas. Karena itu, solusi yang paling realistis adalah menyusun sistem permainan yang mampu menutupi kekurangan di lini tengah sekaligus memaksimalkan kualitas para pemain yang tersedia.
Zidane Diprediksi Lebih Pragmatis
Selama di Real Madrid, Zidane dikenal sebagai pelatih yang pragmatis. Ia tidak terpaku pada satu gaya bermain tertentu. Saat menghadapi lawan yang lebih lemah, timnya mampu mendominasi penguasaan bola. Namun ketika bertemu lawan kuat, Zidane juga tidak ragu bermain lebih langsung dan mengandalkan serangan balik cepat.
Fleksibilitas seperti inilah yang diperkirakan akan menjadi kekuatan utama Prancis di bawah kepemimpinanannya. Dengan materi pemain yang sangat lengkap, Zidane diprediksi akan lebih fokus menciptakan keseimbangan tim daripada memaksakan filosofi permainan tertentu.
Baca Juga: Real Madrid Tetap Kukuh Mempertahakan Vinicius Mesti Segera Datangkan Yan Diomande
Debut Zidane Bersama Les Bleus
Zidane resmi mulai bekerja sebagai pelatih timnas Prancis pada 1 Agustus 2026. Laga pertamanya akan berlangsung pada 25 September saat Prancis bertandang menghadapi Turki di ajang UEFA Nations League.
Les Bleus dijadwalkan menghadapi Belgia sebelum menjalani laga kandang perdana di bawah arahan Zidane melawan Italia di Stade de France.
Dengan pengalaman luar biasa sebagai pemain maupun pelatih, ekspektasi terhadap Zidane tentu sangat tinggi. Kini, tantangan terbesarnya adalah mengembalikan Prancis ke puncak sepak bola dunia dan memburu gelar Piala Dunia 2030.