JawaPos.com - Gennaro Gattuso resmi memulai babak baru dalam karier kepelatihannya setelah diperkenalkan sebagai pelatih Lazio pada Sabtu (11/7/2026) di pusat latihan klub, Formello.
Dalam konferensi pers pertamanya, mantan gelandang Timnas Italia itu tidak hanya berbicara mengenai target bersama Biancocelesti, tetapi juga mengungkapkan perasaan yang masih membekas usai gagal membawa Italia lolos ke Piala Dunia 2026.
Gattuso mengaku menerima tantangan melatih Lazio setelah memahami situasi yang sedang dihadapi klub. Ia menyebut sejak awal sudah berdiskusi dengan Presiden Claudio Lotito dan Direktur Olahraga Angelo Fabiani mengenai kondisi tim, sehingga datang dengan ekspektasi yang realistis.
Baca Juga: Melesat ke Semifinal Piala Dunia 2026, Lionel Scaloni Akui Swiss Sulitkan Argentina
"Saya tahu apa yang sedang dihadapi Lazio. Kami harus bekerja keras, fokus, dan siap menghadapi tantangan. Tugas saya adalah membangun tim yang mampu menghormati sejarah besar klub ini," ujar Gattuso.
Pelatih berusia 48 tahun itu juga mengungkapkan bahwa Lazio sebenarnya bukan klub baru dalam perjalanan kariernya.
Ia mengaku pernah beberapa kali mendapat kesempatan untuk menangani klub ibu kota tersebut, tetapi baru kali ini merasa waktunya benar-benar tepat.
Menurut Gattuso, kembali ke Serie A setelah lima tahun berkarier di luar Italia merupakan keputusan yang sudah dipertimbangkan dengan matang.
Baca Juga: Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Thibaut Courtois Ingin Istirahat 1 Tahun dari Timnas Belgia
Pengalamannya melatih di berbagai negara membuatnya merasa berkembang, baik dari sisi taktik maupun cara memimpin tim.
Meski kini fokus membangun Lazio, Gattuso tak menampik bahwa kegagalannya bersama Timnas Italia masih meninggalkan luka yang sulit dilupakan. Ia mengaku sangat terpukul karena tidak mampu membawa Gli Azzurri tampil di putaran final Piala Dunia.
"Saya berterima kasih kepada semua pemain tim nasional. Mereka sudah memberikan segalanya. Dalam sepak bola, sering kali hasil ditentukan oleh momen-momen kecil. Ketika masih menjadi pemain, saya beberapa kali mendapatkan keberuntungan. Sebagai pelatih, saya justru menerima pukulan yang sangat menyakitkan," katanya.
Gattuso menambahkan, kegagalan tersebut akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
"Luka itu akan saya bawa seumur hidup. Namun hidup harus terus berjalan. Saya tetap percaya dengan cara kerja saya dan saya datang ke Lazio dengan semangat serta motivasi yang lebih besar," lanjutnya.
Baca Juga: Thomas Tuchel Sebut Inggris Beruntung Kalahkan Norwegia di Perempat Final Piala Dunia 2026
Dalam kesempatan yang sama, Gattuso memilih tidak memasang target muluk-muluk untuk Lazio pada musim 2026/2027. Menurutnya, kondisi tim saat ini belum cukup ideal untuk langsung bersaing di papan atas Serie A.
Ia menilai masih ada tujuh hingga sembilan klub yang memiliki kekuatan lebih baik. Karena itu, fokus utama adalah membangun fondasi tim yang solid sebelum berbicara mengenai posisi di klasemen.
"Kami hanya membutuhkan dua atau tiga pemain lagi. Tidak perlu merekrut banyak pemain hanya untuk memenuhi kuota. Yang kami cari adalah pemain yang benar-benar bisa meningkatkan kualitas tim," jelasnya.
Gattuso juga mengomentari kepergian bek Mario Gila yang sebelumnya menjadi salah satu andalan Lazio. Ia mengungkapkan bahwa keputusan melepas sang pemain merupakan hasil pertimbangannya sendiri.
Menurutnya, apabila seorang pemain sudah tidak memiliki keinginan untuk bertahan, maka klub sebaiknya menghormati keputusan tersebut dan mencari solusi terbaik bagi semua pihak.
Sementara itu, absennya Presiden Lazio Claudio Lotito dalam acara perkenalan juga sempat menjadi perhatian. Namun Gattuso justru menganggap situasi tersebut sebagai hal yang positif.
Ia menilai konferensi pers perdananya seharusnya menjadi momen untuk memperkenalkan pelatih baru, bukan membahas hal-hal lain di luar sepak bola. Bahkan, dengan nada bercanda, Gattuso menyindir Lotito yang menurutnya terlalu sering berbicara melalui telepon.
Kini, Gattuso berharap seluruh elemen klub bisa bersatu menghadapi musim baru. Ia optimistis Lazio mampu berkembang apabila para pemain, manajemen, dan suporter berjalan ke arah yang sama. Baginya, kerja keras menjadi modal utama untuk membawa Biancocelesti kembali bersaing di papan atas Serie A.