← Beranda
Kapten Emosi Tendang Kursi Medis! Momen Mencekam Warnai Kegagalan JDT ke Semifinal Liga Champions Asia Elite
Moch. Rizky Pratama PutraSabtu, 18 April 2026 | 17.51 WIB
Momen tegang saat pemain JDT terkapar dan kapten tim bereaksi emosional di pinggir lapangan. (Dok. Instagram/@seasiagoal)

JawaPos.com — Momen genting di tengah lapangan menjadi titik balik dramatis yang mengguncang Johor Darul Ta'zim saat menghadapi Al Ahli. Insiden ketika pemain JDT terkapar dan aksi nekat sang kapten menendang kursi medis mencuri perhatian dalam laga panas tersebut.

Johor Darul Ta'zim sebenarnya datang dengan kepercayaan diri tinggi usai mencatat sejarah dengan menembus perempat final Liga Champions AFC musim ini.

Baca Juga: Berkaca dari Pengalaman Musim Lalu, Arsenal Waswas Lawan Atletico Madrid!

Namun, langkah mereka harus terhenti setelah kalah 1-2 dari juara bertahan Al Ahli di Stadion King Abdullah Sports City.

Laga berjalan tidak mudah sejak awal karena Al Ahli langsung menekan di hadapan puluhan ribu pendukungnya. Meski begitu, JDT mampu mencuri keunggulan lebih dulu melalui situasi tak terduga pada menit ke-19.

Berawal dari duel di sisi lapangan, Jairo berhasil merebut bola dan mengirim umpan berbahaya ke depan gawang. Bola kemudian berujung gol setelah terjadi sentuhan yang membuat lini belakang Al Ahli panik.

Keunggulan tersebut membuat JDT semakin percaya diri mengendalikan permainan. Situasi semakin menguntungkan ketika Al Ahli harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-37.

Insiden kartu merah itu terjadi setelah tekel berbahaya yang mengenai wajah Jairo. Benturan keras tersebut membuat pemain JDT itu langsung terkapar dan menciptakan suasana tegang di lapangan.

Para pemain JDT bereaksi keras melihat rekannya tergeletak tanpa respons. Ketegangan memuncak saat beberapa pemain terlibat dorong-dorongan dengan lawan di sekitar lokasi kejadian.

Situasi semakin mencekam ketika tim medis terlambat masuk ke lapangan untuk memberikan pertolongan. Hal itu memicu emosi kapten JDT, Natxo Insa, yang berlari ke pinggir lapangan dan menendang kursi tim medis.

Baca Juga: Real Madrid Didepak Bayern Munich dari Liga Champions, Alvaro Arbeloa di Ujung Tanduk?

Dengan penuh frustrasi, ia berusaha mengambil tandu sendiri demi mempercepat penanganan. Dalam momen emosional itu, ia bahkan menendang kursi medis sebagai bentuk protes terhadap lambatnya respons.

Aksi tersebut membuat suasana semakin panas dan tak terkendali untuk beberapa saat. Wasit akhirnya harus mengeluarkan kartu kuning kepada beberapa pemain, termasuk sang kapten.

Setelah situasi mereda, Jairo akhirnya dibawa keluar lapangan untuk mendapatkan perawatan intensif. Momen itu menjadi titik emosional yang menguras fokus para pemain JDT.

Padahal secara situasi, JDT berada di atas angin karena unggul jumlah pemain dan skor. Namun, momentum tersebut justru tidak mampu dimanfaatkan dengan maksimal.

Alih-alih mengunci keunggulan, JDT justru lengah di penghujung babak pertama. Mereka gagal mengantisipasi sepak pojok yang dimanfaatkan Al Ahli untuk menyamakan kedudukan.

Gol penyeimbang itu mengubah arah pertandingan secara signifikan. Al Ahli yang sempat tertekan justru kembali menemukan kepercayaan diri mereka.

Memasuki babak kedua, tekanan Al Ahli semakin meningkat meski bermain dengan 10 orang. Mereka bahkan mampu mencetak gol kedua lewat aksi individu spektakuler dari luar kotak penalti.

Gol tersebut menjadi pukulan telak bagi JDT yang sebelumnya diunggulkan dalam situasi tersebut. Mereka dipaksa mengejar ketertinggalan dalam kondisi mental yang sudah terganggu.

JDT sebenarnya masih mampu menciptakan beberapa peluang berbahaya. Namun, penyelesaian akhir yang kurang efektif membuat peluang tersebut terbuang sia-sia.

Kiper Al Ahli tampil gemilang dengan beberapa penyelamatan krusial. Termasuk pada menit akhir saat menggagalkan peluang emas yang nyaris menyamakan skor.

Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 2-1 tetap bertahan untuk kemenangan Al Ahli. JDT pun harus mengubur mimpi melangkah ke semifinal meski sempat berada di posisi ideal.

Kekalahan ini terasa menyakitkan karena mereka gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Statistik menunjukkan JDT bahkan kalah penguasaan bola meski bermain 11 lawan 10.

Momen insiden di tengah lapangan seolah menjadi simbol hilangnya fokus mereka. Emosi yang meluap justru mengganggu ritme permainan yang sebelumnya berjalan baik.

Di sisi lain, Al Ahli menunjukkan mental juara yang luar biasa. Mereka mampu bangkit dari tekanan dan membalikkan keadaan dalam kondisi sulit.

Bagi JDT, hasil ini tetap menjadi pencapaian penting dalam perjalanan mereka di level Asia. Namun, kekalahan ini juga menjadi pelajaran berharga untuk menghadapi level kompetisi yang lebih tinggi.

Mereka harus belajar mengelola emosi dan momentum dalam pertandingan besar. Terutama ketika berada dalam situasi yang seharusnya menguntungkan.

Langkah ke perempat final sudah menunjukkan perkembangan signifikan klub tersebut. Namun, untuk melangkah lebih jauh, mereka harus meningkatkan konsistensi dan ketenangan dalam situasi krusial.

Kejadian dramatis ini akan terus dikenang sebagai salah satu momen paling emosional dalam perjalanan JDT. Sekaligus menjadi pengingat sepak bola bukan hanya soal taktik, tetapi juga kontrol emosi.

EDITOR: Hendra