← Beranda
Sejarah Baru Bundesliga! Marie-Louise Eta Jadi Perempuan Pertama Latih Tim Putra Union Berlin
Moch. Rizky Pratama PutraMinggu, 12 April 2026 | 21.49 WIB
Marie-Louise Eta mencatat sejarah sebagai pelatih perempuan pertama di Bundesliga putra bersama Union Berlin. (Instagram @marielouiseeta)

 

JawaPos.com–Penunjukan Marie-Louise Eta sebagai pelatih sementara Union Berlin langsung mencuri perhatian publik sepak bola Bundesliga dan Eropa. Dia bukan sekadar pengganti, tetapi simbol perubahan besar dalam dunia yang selama ini didominasi pria.

Marie-Louise Eta dipercaya memimpin Union Berlin hingga akhir musim usai pemecatan Steffen Baumgart. Keputusan ini sekaligus mencatatkan sejarah baru karena Eta menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai pelatih kepala di Bundesliga putra.

Langkah berani mengangkat Marie-Louise Eta sebagai pelatih ini diambil setelah performa Union Berlin terus merosot dalam beberapa pekan terakhir di Bundesliga. Kekalahan 1-3 dari Heidenheim menjadi titik akhir bagi Baumgart dan stafnya.

Baca Juga: Benarkah Real Madrid Lebih Baik Tanpa Kylian Mbappe?

Selain Baumgart, dua asistennya yakni Danilo de Souza dan Kevin McKenna juga harus angkat kaki. Manajemen klub merasa perlu melakukan perubahan cepat demi menyelamatkan posisi tim di klasemen.

Union Berlin saat ini berada di peringkat ke-11 Bundesliga dengan kondisi yang belum aman sepenuhnya. Mereka hanya terpaut tujuh poin dari zona play off degradasi, situasi yang membuat tekanan semakin besar.

Dalam enam pertandingan terakhir di semua kompetisi, Union hanya meraih satu kemenangan. Catatan ini menjadi alarm serius bagi manajemen untuk segera bertindak.

Baca Juga: Tiga Pemain Real Madrid yang Tampil Buruk Saat Ditahan Imbang Girona

Direktur sepak bola klub Horst Heldt mengakui kondisi tim sangat mengkhawatirkan. Dia menegaskan klub tidak bisa hanya bergantung pada posisi klasemen saat ini tanpa melihat performa di lapangan.

”Kami telah mengalami paruh kedua musim yang sangat mengecewakan sejauh ini dan tidak akan membiarkan diri kami dibutakan oleh posisi liga kami,” ujar Heldt dikutip dari SBC Sports, Minggu (12/4).

Dia menambahkan situasi tim tetap genting dan membutuhkan poin demi bertahan di Bundesliga. Heldt juga menyoroti minimnya kemenangan sejak jeda musim dingin. Dua kemenangan dari 14 laga dinilai tidak cukup untuk memberikan keyakinan tim bisa bangkit tanpa perubahan.

Karena itu, manajemen memutuskan untuk memulai babak baru. Penunjukan Eta dianggap sebagai langkah segar sekaligus solusi jangka pendek yang realistis.

Menariknya, sebenarnya Eta sudah diproyeksikan menjadi pelatih kepala tim putri Union Berlin mulai musim panas mendatang. Namun situasi darurat membuatnya harus naik kelas lebih cepat dari rencana.

Perempuan berusia 34 tahun ini bukan sosok baru di klub tersebut. Dia sudah bergabung sejak 2023 sebagai bagian dari staf pelatih.

Baca Juga: Lakukan 4 Penyelamatan, Emil Audero Gagal Bawa Cremonese Raih Kemenangan Lawan Cagliari

Saat itu, Eta menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai asisten pelatih di Bundesliga pria. Dia bahkan turut terlibat dalam kompetisi Liga Champions UEFA edisi pria.

Pengalamannya semakin bertambah ketika sempat memimpin tim pada Januari 2024. Kala itu, dia menggantikan pelatih kepala Nenad Bjelica yang terkena sanksi satu pertandingan.

Dalam laga tersebut, Union Berlin sukses meraih kemenangan tipis 1-0 atas Darmstadt. Hasil itu menjadi bukti Eta mampu mengatasi tekanan di level tertinggi.

Baca Juga: Statistik Chelsea vs Manchester City: Rekor Buruk Tuan Rumah dan Ancaman Haaland

Kini, tantangan yang dihadapi jauh lebih besar. Dia harus mengangkat performa tim sekaligus mengamankan posisi Union Berlin di kasta tertinggi sepak bola Jerman.

”Mengingat selisih poin di bagian bawah klasemen, posisi kami di Bundesliga belum aman,” ujar Eta.

Dia mengaku siap menghadapi tantangan besar yang diberikan klub. Eta juga menekankan kekuatan utama Union Berlin terletak pada kebersamaan tim. Dia percaya solidaritas bisa menjadi kunci untuk keluar dari situasi sulit.

Baca Juga: Enzo Fernandez Minta Maaf, Liam Rosenior Tetap Coret sang Pemain dari Laga Kontra Manchester City

”Salah satu kekuatan Union selalu, dan tetap, adalah kemampuan untuk bersatu dalam situasi seperti ini,” lanjut Marie-Louise Eta.

Dia optimistis tim mampu mengamankan poin penting hingga akhir musim. Penunjukan Eta juga mempertegas statusnya sebagai pelopor di dunia sepak bola. Dia diyakini menjadi perempuan pertama yang melatih di lima liga top Eropa untuk tim putra.

Meski demikian, dia bukan satu-satunya pelatih perempuan di sepak bola pria Jerman. Sabrina Wittmann saat ini menangani FC Ingolstadt di divisi tiga.

Karir kepelatihan Eta sendiri dibangun dari fondasi yang kuat. Dia pernah bekerja sebagai pelatih tim junior nasional putri Jerman.

Baca Juga: Bisa Unggul 12 Poin dari Manchester City! Mikel Arteta Bertekad Bawa Arsenal Menang Lawan Bournemouth

Sebelum beralih ke dunia kepelatihan, Eta adalah pemain sepak bola. Dia pernah memperkuat Werder Bremen dalam sebagian besar karirnya.

Namun dia memutuskan pensiun dini pada usia 26 tahun. Keputusan itu diambil untuk fokus meniti karier sebagai pelatih. Kini, jalan hidupnya membawanya ke panggung terbesar sepak bola Jerman. Ia tidak hanya membawa harapan bagi Union Berlin, tetapi juga membuka jalan bagi lebih banyak perempuan di sepak bola pria.

Eta dijadwalkan langsung memimpin tim dalam laga penting melawan Wolfsburg. Pertandingan tersebut menjadi ujian awal yang krusial dalam misinya menyelamatkan Union Berlin dari ancaman degradasi.

Baca Juga: Imbang Lawan Girona, Alvaro Arbeloa Yakin Real Madrid Masih Bisa Raih Gelar Liga Spanyol

Semua mata kini tertuju pada sosoknya. Jika berhasil, Eta bukan hanya mencetak sejarah, tetapi juga mengubah cara pandang dunia terhadap peran perempuan di sepak bola.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah