← Beranda
Benarkah Real Madrid Lebih Baik Tanpa Kylian Mbappe?
M Shofyan Dwi KurniawanMinggu, 12 April 2026 | 21.09 WIB
Real Madrid menghadapi dilema antara kekuatan individu Kylian Mbappe dan keseimbangan tim. (ig @realmadrid)

 

JawaPos.com–Ketika Real Madrid berhasil mengamankan tanda tangan Kylian Mbappe menjelang musim 2024–25, banyak yang langsung membayangkan lahirnya era dominasi baru. Kombinasi skuad bertabur bintang dan tambahan pemain sekelas Mbappe terlihat seperti resep sempurna untuk menguasai Eropa.

Namun, hampir dua tahun berselang, realitas berkata lain. Alih-alih semakin solid, Los Blancos Real Madrid justru terlihat rapuh Bersama Klyan Mbappe.

Cedera di lini belakang, pergantian pelatih, hingga inkonsistensi permainan membuat musim Real Madrid terasa seperti roller coaster tanpa arah jelas. Yang menarik, di tengah semua masalah itu, nama Kylian Mbappe justru ikut terseret dalam perdebatan. Bukan karena ia tampil buruk justru sebaliknya.

Baca Juga: Tiga Pemain Real Madrid yang Tampil Buruk Saat Ditahan Imbang Girona

Kalau bicara angka, sulit menyalahkan Mbappe. Dengan 39 gol di semua kompetisi musim ini, dia jelas menjadi mesin gol utama tim. Bahkan sempat disebut sebagai kandidat kuat peraih Ballon d'Or 2026.

Melansir Sports Illustrated, di banyak pertandingan, Mbappe memang jadi penyelamat. Dia mencetak gol saat tim buntu, membawa kemenangan saat permainan tidak berkembang. Secara kasat mata, Real Madrid jelas akan lebih buruk tanpa kontribusinya.

Tapi, sepak bola bukan cuma soal angka. Dalam laga-laga besar, performa Mbappe justru sering menghilang. Saat melawan Liverpool, dia nyaris tak terlihat. 

Baca Juga: Lakukan 4 Penyelamatan, Emil Audero Gagal Bawa Cremonese Raih Kemenangan Lawan Cagliari

Dalam kekalahan dari Osasuna dan Celta Vigo, kontribusinya minim. Bahkan ketika aktif seperti saat menghadapi Mallorca dan Girona, penyelesaian akhirnya justru mengecewakan.

Empat pertandingan tersebut bukan sekadar hasil buruk. Itu bisa jadi penentu hilangnya peluang gelar. Dan di sinilah statistik mulai terasa menipu.

Mbappe Mengganggu Aliran Serangan Real Madrid

Masalah utama bukan pada kemampuan individu Mbappe, melainkan bagaimana tim bermain di sekelilingnya. Saat Mbappe berada di lapangan, pola permainan Real Madrid menjadi sangat sederhana: berikan bola kepadanya. Gelandang, winger, bahkan full back semuanya seperti punya satu misi yang sama.

Akibatnya? Permainan jadi mudah ditebak. Ketika strategi ini berhasil, Mbappe terlihat seperti pahlawan. Tapi ketika gagal, seluruh sistem ikut runtuh. Real Madrid mendadak terlihat seperti tim yang kehabisan ide.

Bandingkan dengan saat Mbappe absen. Permainan menjadi lebih cair. Bola mengalir lebih cepat, ruang terbuka lebih banyak, dan pemain lain seperti Vinicius Junior, Federico Valverde, hingga Aurelien Tchouameni ikut berkontribusi secara signifikan.

Faktanya, dalam tujuh laga tanpa Mbappe sebagai starter, tiga nama tersebut mencetak 13 dari 16 gol tim. Sebuah distribusi yang jauh lebih sehat.

Baca Juga: Statistik Chelsea vs Manchester City: Rekor Buruk Tuan Rumah dan Ancaman Haaland

Peran yang Tidak Pernah Jelas

Masalah lain yang tak kalah krusial adalah soal peran. Mbappe bukan penyerang nomor 9 klasik, itu sudah jelas sejak lama. Namun di sistem Real Madrid saat ini, dia diposisikan sebagai ujung tombak. Dan di situlah konflik dimulai.

Alih-alih aktif di dalam kotak penalti, Mbappe sering bergerak melebar atau menunggu bola di area pinggir. Dia jarang melakukan penetrasi yang seharusnya menjadi tugas utama seorang striker.

Situasi ini membuat Vinicius Junior harus beradaptasi. Dari yang sebelumnya bermain dengan striker seperti Karim Benzema atau bahkan sistem false nine, kini dia harus menyesuaikan diri dengan gaya Mbappe.

Baca Juga: Enzo Fernandez Minta Maaf, Liam Rosenior Tetap Coret sang Pemain dari Laga Kontra Manchester City

Hasilnya? Tidak selalu cocok.

Kalau masih ragu, lihat saja data performa tim tanpa Mbappe. Saat sang bintang absen karena cedera, Real Madrid justru mencatat enam kemenangan dari tujuh pertandingan. Mereka bahkan mengalahkan tim-tim besar seperti Benfica, Manchester City (dua kali), dan Atlético Madrid.

Di La Liga, mereka menang empat dari lima laga tanpa Mbappe dengan total 15 gol. Di Liga Champions, dua kemenangan dari tiga laga tanpa dirinya juga bukan angka kecil.

Baca Juga: Real Madrid Dapat Kabar Baik, Thibaut Courtois Bisa Pulih Lebih Cepat

Begitu Mbappe kembali? Hasilnya justru menurun: dua kekalahan beruntun dan satu hasil imbang. Kebetulan? Mungkin. Tapi kalau pola ini terus berulang, rasanya sulit untuk mengabaikannya.

Jadi, Lebih Baik Tanpa Mbappe?

Jawaban singkatnya: tidak sesederhana itu. Mbappe tetap pemain kelas dunia. Dia bisa memenangkan pertandingan sendirian, mencetak gol dari situasi mustahil, dan menjadi pembeda di momen krusial.

Namun, dalam konteks tim, ada tanda tanya besar soal kecocokannya dengan sistem Real Madrid saat ini. Apakah tim ini lebih seimbang tanpa dirinya? Dalam beberapa kasus, iya. Apakah mereka lebih berbahaya tanpa Mbappé? Belum tentu.

Yang jelas, Real Madrid sedang menghadapi dilema klasik: memilih antara kekuatan individu luar biasa atau keseimbangan kolektif tim.

Baca Juga: Roberto De Zerbi Siap Beri Dukungan pada Antonin Kinsky

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah