← Beranda
Jepang Cahaya Asia! Hanya Kalah 5 Kali Sejak 2023, Rekor 100 Persen Menang Hadapi Raksasa Eropa
Moch. Rizky Pratama PutraKamis, 2 April 2026 | 18.29 WIB
Selebrasi pemain Jepang usai mencetak sejarah dengan mengalahkan Inggris di Wembley. (Dok. JFA)

JawaPos.com — Sorotan dunia kini tak lagi sepenuhnya milik Eropa dan Amerika Selatan jelang Piala Dunia 2026. Jepang muncul sebagai cahaya baru Asia dengan performa yang tak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Kemenangan demi kemenangan yang diraih Samurai Biru bukan sekadar hasil pertandingan biasa. Ini adalah akumulasi dari proses panjang yang kini mulai menunjukkan puncaknya.

Baca Juga: Italia Layak Gagal ke Piala Dunia 2026? Kartu Merah Alessandro Bastoni Picu Kekalahan dari Bosnia-Herzegovina

Dalam dua tahun terakhir, Jepang menjelma menjadi tim yang konsisten, solid, dan mematikan. Hanya lima kekalahan dari 40 pertandingan sejak 2023 menjadi bukti betapa kokohnya fondasi yang mereka bangun.

Rekor 30 kemenangan dari total 40 laga menghadirkan persentase kemenangan mencapai 75 persen. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan sinyal kuat Jepang sedang menuju level elite dunia.

Semua berawal dari 2023, saat Jepang membangun ulang kekuatan pasca Piala Dunia Qatar 2022. Kala itu, target utama adalah menjaga konsistensi sekaligus mengamankan tiket ke Piala Dunia kedelapan berturut-turut.

Perjalanan awal memang tidak sepenuhnya mulus. Hasil imbang melawan Uruguay dan kekalahan dari Kolombia sempat menimbulkan tanda tanya.

Namun, sejak kemenangan telak atas El Salvador pada Juni 2023, arah permainan Jepang berubah drastis. Mereka mulai menemukan ritme dan identitas baru yang lebih fleksibel dan efektif.

Lima kemenangan beruntun kala itu menjadi titik balik yang krusial. Jepang tidak hanya menang, tetapi juga tampil dominan dengan total 22 gol dan hanya kebobolan lima kali.

Permainan mereka berkembang jauh dari sekadar penguasaan bola. Jepang kini mampu bermain sabar, bertahan rapat, lalu menghukum lawan lewat serangan balik cepat.

Baca Juga: Magis Kaoru Mitoma di Wembley! Jepang Negara Asia Pertama Kalahkan Inggris di Rumah Sendiri

Transformasi itu terlihat jelas sejak kemenangan mengejutkan atas Jerman dan Spanyol di Piala Dunia 2022. Filosofi tersebut terus diasah hingga menjadi senjata utama saat ini.

Kekuatan Jepang tidak lepas dari melimpahnya pemain berkualitas di Eropa. Lebih dari 50 pemain mereka kini berkarier di berbagai liga top, membawa pengalaman yang sangat berharga ke tim nasional.

Kaoru Mitoma menjadi wajah baru kebangkitan Jepang. Ia tidak hanya bersinar di klub, tetapi juga tampil konsisten bersama tim nasional. Mitoma menjadi simbol kecepatan dan kecerdasan di sisi sayap.

Menariknya, Jepang tidak lagi bergantung pada satu atau dua pemain bintang. Kedalaman skuad mereka kini menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola Jepang.

Siapa pun yang dimainkan, kualitas tim tetap terjaga. Bahkan pemain terbaik pun tidak dijamin mendapat tempat di starting line-up.

Situasi ini menciptakan persaingan sehat di dalam tim. Setiap pemain dipaksa tampil maksimal untuk mempertahankan posisinya.

Jika dibandingkan era sebelumnya, perubahan ini sangat terasa. Dulu, Jepang sangat bergantung pada figur seperti Keisuke Honda atau Hidetoshi Nakata.

Kini, ketergantungan itu telah hilang. Jepang menjelma menjadi tim kolektif yang sulit diprediksi dan lebih berbahaya.

Di balik semua itu, sosok Hajime Moriyasu memainkan peran sentral. Keputusan mempertahankannya setelah Piala Dunia 2022 terbukti sangat tepat.

Moriyasu menjadi pelatih Jepang pertama yang melanjutkan tugas setelah turnamen besar. Ia mendapat kepercayaan penuh hingga 2026 untuk membangun generasi baru.

Kepercayaan itu dijawab dengan keberanian melakukan regenerasi. Ia memasukkan banyak pemain muda tanpa mengorbankan keseimbangan tim.

Duet Takehiro Tomiyasu dan Ko Itakura menjadi contoh sukses regenerasi di lini belakang. Mereka mampu menggantikan peran penting yang ditinggalkan Maya Yoshida.

Di lini depan, muncul nama-nama baru seperti Keito Nakamura yang memberikan energi segar. Sementara Seiya Maikuma menambah opsi di sektor pertahanan.

Fleksibilitas taktik juga menjadi kekuatan utama Jepang. Mereka mampu beralih dari formasi 4-2-3-1 ke 4-3-3 bahkan lima bek dengan mulus.

Kemampuan beradaptasi ini membuat Jepang sulit ditebak. Mereka bisa bermain menyerang atau bertahan sesuai kebutuhan pertandingan.

Puncak dari perkembangan Jepang terlihat jelas pada 2025 dan 2026. Dunia mulai benar-benar memperhatikan ketika mereka menumbangkan tim-tim besar.

Kemenangan dramatis 3-2 atas Brasil pada Oktober 2025 menjadi peringatan keras. Jepang bahkan mampu bangkit dari ketertinggalan dua gol dalam laga tersebut.

Momentum itu berlanjut hingga 2026. Jepang mencetak sejarah dengan mengalahkan Inggris 1-0 di Wembley.

Gol tunggal Kaoru Mitoma menjadi momen bersejarah. Untuk pertama kalinya, negara Asia mampu mengalahkan Inggris di stadion ikonik tersebut.

Atmosfer Wembley malam itu berubah menjadi panggung kejutan. Ratusan suporter Jepang merayakan kemenangan yang terasa begitu emosional.

Moriyasu tetap merendah meski mencatat sejarah. Ia menegaskan timnya masih memiliki banyak hal untuk diperbaiki.

"Kami memiliki beberapa pemain hebat hari ini. Saya senang kami bisa menang, tetapi kami masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh. Kami harus lebih kuat lagi," ujarnya.

Ia juga menekankan kemenangan tersebut bukan akhir dari perjalanan. Jepang masih harus membuktikan diri di panggung yang lebih besar.

"Kemenangan ini memberi kami kepercayaan diri menjelang Piala Dunia. Kami berhasil menang hari ini, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa ini bukanlah pertandingan yang mudah bagi kami."

Meski menang, Moriyasu tetap realistis melihat kondisi lawan. Ia menyadari Inggris tidak tampil dengan kekuatan penuh.

"Menang di sini bukanlah hal yang mudah. Tetapi kami berhasil melakukannya, jadi saya senang akan hal itu. Tetapi pada saat yang sama, saya tidak sepenuhnya puas."

Ia juga menyoroti absennya beberapa pemain kunci Inggris. Hal itu menjadi catatan penting menjelang Piala Dunia.

"Saya pikir Inggris bisa saja menurunkan tim yang kuat. Saya pikir itu salah satu hal yang perlu saya pertimbangkan."

Kerendahan hati itu justru menunjukkan kedewasaan Jepang. Mereka tidak terlena oleh kemenangan besar.

Sebaliknya, Jepang terus menjaga fokus menuju target utama. Piala Dunia 2026 menjadi panggung pembuktian sesungguhnya.

Dengan lima kemenangan beruntun jelang turnamen, kepercayaan diri tim meningkat pesat. Jepang datang bukan sekadar sebagai peserta, tetapi penantang serius.

Secara statistik, performa mereka sangat mengesankan. Dari 40 pertandingan, hanya lima yang berakhir dengan kekalahan.

Lima hasil imbang juga menunjukkan konsistensi mereka. Jepang jarang benar-benar kehilangan kendali dalam pertandingan.

Total 27 negara telah mereka hadapi dalam periode tersebut. Ini menunjukkan pengalaman internasional yang semakin matang.

Kemenangan atas tim-tim Asia bahkan sering berakhir dengan skor telak. Jepang menunjukkan perbedaan level yang semakin jelas di kawasan.

Namun yang paling mencolok adalah performa melawan tim non-Asia. Jepang kini mampu bersaing bahkan mengalahkan tim-tim elite dunia.

Kemenangan atas Jerman, Turki, Brasil, hingga Inggris bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari sistem yang berjalan dengan baik.

Gaya bermain Jepang kini menjadi kombinasi ideal antara teknik, disiplin, dan kecepatan. Mereka tidak lagi inferior saat menghadapi tim besar.

Mentalitas tim juga mengalami peningkatan signifikan. Jepang tampil lebih percaya diri dan berani mengambil risiko.

Hal ini terlihat saat mereka bangkit melawan Brasil. Atau saat bertahan disiplin menghadapi tekanan Inggris.

Kunci lainnya adalah manajemen tim yang stabil. Moriyasu mampu menjaga harmoni sekaligus meningkatkan kualitas permainan.

Tidak banyak tim yang memiliki kestabilan seperti ini. Jepang menikmati keuntungan dari kontinuitas dan kepercayaan jangka panjang.

Kini, target Jepang semakin jelas. Mereka ingin melangkah lebih jauh dari sekadar babak 16 besar.

Dalam empat dari enam edisi terakhir, Jepang selalu terhenti di fase tersebut. Ini menjadi motivasi besar untuk menciptakan sejarah baru.

Ambisi mencapai perempat final bahkan lebih bukan hal mustahil. Dengan performa saat ini, Jepang memiliki semua syarat untuk melakukannya.

Moriyasu bahkan menunjukkan optimisme tinggi. Ia percaya timnya bisa menghadapi siapa pun di Piala Dunia.

"Saya rasa memenangkan Piala Dunia bukanlah tugas yang mudah. Saya yakin kami bisa menang, siapa pun lawan kami," katanya.

Pernyataan itu bukan sekadar optimisme kosong. Statistik, performa, dan kualitas pemain mendukung keyakinan tersebut.

Dunia kini mulai melihat Jepang dengan perspektif berbeda. Mereka bukan lagi kuda hitam, melainkan kekuatan nyata.

Jika tren ini terus berlanjut, Jepang bisa menjadi sejarah baru bagi Asia. Bukan tidak mungkin mereka menembus batas yang selama ini sulit dicapai.

Samurai Biru kini berdiri tegak sebagai simbol kebangkitan sepak bola Asia. Dan dunia harus mulai bersiap menghadapi kenyataan baru itu.

EDITOR: Hendra