← Beranda
Magis Samurai Biru! Fondasi Hajime Moriyasu Sejak 2023 Sukses Tumbangkan Brasil dan Inggris
Moch. Rizky Pratama PutraKamis, 2 April 2026 | 17.18 WIB
Hajime Moriyasu jadi sosok kunci transformasi Jepang menuju Piala Dunia 2026 dengan kalahkan Brasil dan Inggris. (Dok. FIFA)

JawaPos.com — Dominasi Jepang dalam dua tahun terakhir bukan sekadar tren sesaat yang muncul tiba-tiba di panggung sepak bola dunia. Semua berawal dari fondasi kuat yang dibangun Hajime Moriyasu sejak 2023, saat Samurai Biru mulai menata ulang identitas permainan mereka.

Kala itu, Jepang tengah memburu tiket ke Piala Dunia kedelapan secara beruntun dengan tekanan besar dari publik dan ekspektasi global. Namun di balik tekanan itu, Moriyasu justru menemukan formula yang kini menjelma jadi kekuatan menakutkan.

Baca Juga: Begini Bunyi Hukum Wenger! Aturan Offside ala Arsene Wenger Siap Diterapkan Liga Kanada

Samurai Biru kini menjelma menjadi salah satu tim dengan performa paling stabil di dunia. Lima kemenangan beruntun menjadi bukti Jepang tak lagi sekadar kuda hitam, melainkan penantang serius di level tertinggi.

Bukan hanya menang, Jepang juga tampil meyakinkan dengan gaya bermain agresif dan efisien.

Dalam lima laga tersebut, mereka mencetak 22 gol dan hanya kebobolan lima kali, sebuah statistik yang mencerminkan keseimbangan sempurna antara lini depan dan belakang.

Kemenangan atas tim-tim kuat Eropa seperti Jerman dan Turki menjadi sinyal awal Jepang telah naik kelas. Ritme serangan yang cepat dan transisi yang rapi membuat mereka sulit ditebak lawan.

Perubahan terbesar Jepang terlihat sejak Piala Dunia FIFA 2022. Di turnamen itu, Samurai Biru membuktikan fleksibilitas taktik yang luar biasa, termasuk saat menumbangkan raksasa seperti Jerman dan Spanyol.

Jika sebelumnya Jepang identik dengan penguasaan bola dan umpan pendek, kini mereka juga mahir bermain reaktif. Strategi bertahan rapat lalu melancarkan serangan balik cepat menjadi senjata mematikan.

Transformasi ini tak lepas dari munculnya generasi emas pemain Jepang yang berkarier di Eropa. Nama-nama seperti Kaoru Mitoma, Takefusa Kubo, dan Kyogo Furuhashi menjadi wajah baru kebangkitan Samurai Biru.

Baca Juga: Magis Kaoru Mitoma di Wembley! Jepang Negara Asia Pertama Kalahkan Inggris di Rumah Sendiri

Mereka membawa pengalaman dari liga-liga top dunia ke dalam skuad nasional. Kecepatan, teknik, dan kecerdasan bermain mereka membuat Jepang tampil lebih modern dan dinamis.

Tak hanya itu, lebih dari 50 pemain Jepang kini merumput di Eropa. Jumlah tersebut menjadi bukti kualitas individu pemain Jepang terus meningkat secara signifikan.

Namun, kekuatan Jepang tidak hanya terletak pada bintang utama. Kedalaman skuad menjadi salah satu faktor pembeda yang membuat mereka konsisten di berbagai pertandingan.

Bahkan, pemain sekaliber Takefusa Kubo tidak selalu mendapat tempat di starting line-up. Hal ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan internal di tubuh Samurai Biru.

Situasi ini berbeda jauh dengan era sebelumnya yang sangat bergantung pada figur seperti Keisuke Honda dan Hidetoshi Nakata. Ketika itu, absennya satu pemain kunci bisa langsung memengaruhi performa tim secara keseluruhan.

Kini, Jepang memiliki banyak opsi di setiap posisi. Pergantian pemain tidak lagi menurunkan kualitas tim, bahkan seringkali justru memberikan energi baru.

Persaingan sehat antar pemain menciptakan standar tinggi dalam latihan maupun pertandingan. Setiap pemain dipaksa tampil maksimal jika ingin mendapat tempat di skuad utama.

Di sisi lain, keberlanjutan kepemimpinan Moriyasu menjadi faktor penting dalam stabilitas tim. Setelah membawa Jepang ke babak 16 besar di Qatar, ia tetap dipercaya melanjutkan proyek jangka panjang hingga 2026.

Keputusan tersebut terbukti tepat meski awal periode keduanya sempat tersendat. Jepang gagal menang melawan Kolombia dan Uruguay pada Maret 2023, namun segera bangkit dengan kemenangan besar atas El Salvador.

Momentum itu menjadi awal dari rangkaian kemenangan yang terus berlanjut hingga kini. Moriyasu menunjukkan kemampuannya dalam meracik ulang strategi dan menjaga motivasi tim.

Ia juga berani memberikan kesempatan kepada pemain muda. Nama-nama seperti Takehiro Tomiyasu dan Ko Itakura menjadi tulang punggung baru di lini pertahanan.

Selain itu, kehadiran pemain seperti Keito Nakamura dan Seiya Maikuma memperkaya variasi permainan Jepang. Regenerasi berjalan mulus tanpa mengganggu keseimbangan tim.

Fleksibilitas taktik menjadi ciri khas lain Jepang era Moriyasu. Mereka mampu beralih dari formasi 4-2-3-1 ke 4-3-3, bahkan ke skema lima bek, tergantung situasi pertandingan.

Makin Garang Jelang Piala Dunia 2026

Semua fondasi itu akhirnya mencapai puncaknya pada 2025 hingga 2026. Jepang mulai mencatatkan kemenangan-kemenangan besar yang mengejutkan dunia.

Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah kemenangan 3-2 atas Brasil pada Oktober 2025. Jepang bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk membalikkan keadaan secara dramatis.

Kemenangan itu menjadi bukti mentalitas baru Samurai Biru. Mereka tidak lagi mudah runtuh saat tertinggal, melainkan mampu bangkit dengan penuh determinasi.

Puncaknya terjadi saat Jepang menaklukkan Inggris 1-0 di Wembley. Gol tenang dari Kaoru Mitoma di babak pertama menjadi penentu kemenangan bersejarah tersebut.

Itu adalah kemenangan pertama Jepang atas Inggris sejak pertemuan mereka dimulai pada 1995. Stadion Wembley pun menjadi saksi lahirnya sejarah baru bagi sepak bola Asia.

Ratusan suporter Jepang merayakan momen tersebut dengan penuh haru. Para pemain bahkan menari di lapangan, menikmati hasil kerja keras yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

“Kami memiliki beberapa pemain hebat hari ini. Saya senang kami bisa menang, tetapi kami masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh. Kami harus lebih kuat lagi,” kata Moriyasu.

“Kemenangan ini memberi kami kepercayaan diri menjelang Piala Dunia. Kami berhasil menang hari ini, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa ini bukanlah pertandingan yang mudah bagi kami.”

Meski menang, Moriyasu tetap realistis dalam menilai performa timnya. Ia menyadari Inggris tidak tampil dengan kekuatan penuh pada laga tersebut.

“Menang di sini bukanlah hal yang mudah. Tetapi kami berhasil melakukannya, jadi saya senang akan hal itu. Tetapi pada saat yang sama, saya tidak sepenuhnya puas,” katanya.

“Saya pikir Inggris bisa saja menurunkan tim yang kuat. Saya pikir itu salah satu hal yang perlu saya pertimbangkan.”

“Menjelang Piala Dunia, saya tahu tim Inggris akan sangat berbeda. Selain itu, bagi kami, pertandingan ini pada akhirnya hanyalah pertandingan persahabatan.”

Sikap tersebut menunjukkan Jepang tidak terlena oleh kemenangan. Mereka tetap fokus pada target utama di Piala Dunia 2026.

Saat ini Jepang berada di peringkat 18 dunia dan terus menunjukkan tren positif. Mereka bahkan menjadi negara pertama yang memastikan tiket ke turnamen di Amerika Utara.

Dengan lima kemenangan beruntun sebagai bekal, kepercayaan diri skuad semakin meningkat. Jepang kini membidik pencapaian terbaik mereka sepanjang sejarah, yakni menembus perempat final.

Moriyasu bahkan menunjukkan keyakinan tinggi terhadap timnya. Ia percaya Jepang mampu bersaing dengan siapa pun di panggung dunia.

“Saya rasa memenangkan Piala Dunia bukanlah tugas yang mudah. Saya yakin kami bisa menang, siapa pun lawan kami,” katanya.

Keyakinan tersebut bukan tanpa alasan. Jepang kini memiliki kombinasi ideal antara pengalaman, kedalaman skuad, dan fleksibilitas taktik.

Pemain-pemain seperti Daichi Kamada dan Ao Tanaka juga menambah kekuatan di lini tengah. Mereka membawa pengalaman bermain di liga top Eropa.

Semua elemen itu menjadikan Jepang sebagai salah satu tim paling siap menghadapi Piala Dunia 2026. Dunia pun mulai menaruh perhatian lebih pada Samurai Biru.

Dari fondasi yang dibangun sejak 2023, Jepang kini menjelma menjadi kekuatan baru yang sulit dipandang sebelah mata. Kemenangan atas Inggris dan Brasil hanyalah awal dari potensi besar yang masih bisa mereka capai.

Jika konsistensi ini terus terjaga, bukan tidak mungkin Jepang akan menciptakan sejarah baru di Piala Dunia mendatang. Samurai Biru kini benar-benar siap menantang dunia.

EDITOR: Hendra