JawaPos.com - Kisah kepindahan Emmanuel Adebayor dari Arsenal ke Manchester City pada tahun 2009 selama ini kerap dianggap sebagai transfer yang didorong faktor finansial.
Namun, cerita di balik transfer tersebut ternyata jauh lebih kompleks dan menyisakan luka mendalam bagi sang pemain.
Adebayor bergabung dengan Arsenal pada 2006 dan langsung menjelma menjadi salah satu penyerang paling berbahaya di Liga Inggris.
Baca Juga: Kabar Buruk dari Belanda: Sejumlah Pemain Indonesia Kena Investigasi Izin Kerja dan Gaji
Ia bahkan sempat digadang-gadang sebagai penerus Thierry Henry. Puncak penampilnya terjadi pada musim 2007/2008 ketika ia mencetak 30 gol di semua kompetisi, sebuah catatan impresif yang mengukuhkan posisinya sebagai ujung tombak utama tim.
Kesetiaan Adebayor kepada Arsenal juga sempat diuji ketika ia menolak tawaran dari AC Milan.
Keputusan itu diambil demi tetap bertahan di London. Namun, loyalitas tersebut ternyata tidak berbuah manis.
Baca Juga: Mario Suryo Aji Sesalkan Poin Terbuang Karena Terjatuh di Moto2 Amerika
Pada 2009, situasi berubah drastis. Dalam sebuah pertemuan internal, pelatih Arsène Wenger disebut meminta Adebayor untuk meninggalkan klub.
Keputusan itu bukan semata faktor teknis, melainkan karena manajemen Arsenal tergoda oleh tawaran besar dari Manchester City.
Adebayor mengaku tidak diberi banyak pilihan, bahkan sempat dilarang berlatih bersama tim utama.
Kepindahan itu pun memicu persepsi negatif. Ia dicap sebagai pemain “mata duitan” yang mengkhianati klub.
Padahal, menurut pengakuannya, situasi yang terjadi justru sebaliknya. Ia merasa dipaksa hengkang tanpa mendapatkan penjelasan yang layak.
Puncak ketegangan terjadi saat Manchester City menghadapi Arsenal beberapa waktu setelah transfer tersebut.
Baca Juga: FIFA Series 2026 Selesai, Dony Tri Pamungkas Dapat Banyak Pengalaman Bersama Timnas Indonesia
Sepanjang pertandingan, Adebayor menjadi sasaran ejekan dari suporter mantan klubnya. Ia mengaku menerima berbagai nyanyian yang tidak hanya menyakitkan, tetapi juga menyentuh ranah pribadi.
Momen paling ikonik sekaligus kontroversial terjadi di menit ke-80. Adebayor mencetak gol lewat sundulan dan langsung berlari hampir sepanjang lapangan menuju tribun suporter Arsenal. Ia kemudian melakukan selebrasi “knee slide” di depan mereka, sebuah aksi yang memicu kemarahan besar.
Selebrasi tersebut berujung pada denda dan sanksi. Namun bagi Adebayor, tindakan itu bukan sekadar provokasi.
Baca Juga: Fabio Quartararo Khawatirkan Performa Yamaha, Makin Tercecer Setelah GP Amerika Serikat
Itu adalah bentuk pelampiasan emosi atas rasa sakit yang ia pendam merasa dibuang, disalahpahami, dan dicap buruk oleh publik.
Kini, kisah tersebut menjadi salah satu cerita paling emosional dalam sejarah rivalitas Arsenal dan Manchester City, sekaligus pengingat bahwa di balik sebuah transfer besar, sering kali tersimpan cerita yang tidak sesederhana yang terlihat.