JawaPos.com–Final Piala Afrika 2026 yang semula berakhir manis untuk Timnas Senegal kini berubah menjadi salah satu kontroversi terbesar di level internasional. Keputusan terbaru dari Confederation of African Football membuat hasil laga dibalik, sekaligus mencabut gelar juara dari Senegal dan memberikannya kepada Timnas Maroko.
Pada laga final yang berlangsung Januari, kedua tim bermain ketat dengan skor 0-0 hingga masa injury time. Situasi memanas ketika Brahim Diaz terjatuh di kotak penalti dan wasit menunjuk titik putih untuk Maroko.
Keputusan ini langsung menuai protes keras dari pemain Senegal yang menilai kontak yang terjadi sangat minim. Ketegangan memuncak ketika sebagian pemain Senegal memilih meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes.
Aksi walkout tersebut berlangsung sekitar 15 menit sebelum akhirnya mereka kembali bermain setelah dibujuk Sadio Mane.
Drama belum berhenti di situ. Eksekusi penalti dari Brahim Diaz justru gagal berbuah gol. Laga kemudian berlanjut ke babak tambahan waktu, di mana Senegal berhasil mencetak gol tunggal yang memastikan kemenangan 1-0 sekaligus mengunci gelar juara.
Namun, cerita berubah drastis dua bulan berselang. Federasi sepak bola Maroko, Royal Moroccan Football Federation, mengajukan banding resmi kepada CAF terkait aksi walkout Senegal.
Baca Juga: Mikel Arteta: Serangan Arsenal Harus Lebih Tajam untuk Kalahkan Bayer Leverkusen
Awalnya banding tersebut sempat ditolak, namun dalam keputusan terbaru, CAF justru mengabulkan protes tersebut. Dalam putusannya, CAF menyatakan Senegal melakukan pelanggaran serius karena meninggalkan lapangan di momen krusial pertandingan.
Akibatnya, Senegal dinyatakan kalah 0-3 secara administratif. Hasil ini otomatis membatalkan kemenangan mereka dan menetapkan Maroko sebagai juara baru.
Keputusan tersebut langsung memicu perdebatan luas di kalangan penggemar sepak bola. Banyak yang menilai hukuman tersebut terlalu berat, mengingat pertandingan sudah dilanjutkan hingga selesai dan menghasilkan pemenang di lapangan.
Di sisi lain, ada pula yang menilai aturan harus ditegakkan tanpa kompromi, terutama dalam kompetisi sebesar Piala Afrika. Terlepas dari itu, kasus ini menjadi pengingat bahwa sepak bola tidak hanya soal permainan di lapangan, tetapi juga keputusan administratif yang bisa mengubah segalanya.
Kontroversi ini diperkirakan masih akan menjadi pembahasan panjang, terutama terkait konsistensi regulasi dan penerapan sanksi di level internasional.