← Beranda
David Beckham Nggak Dihitung! Sir Alex Ferguson Ungkap 4 Pemain Terbaik Manchester United yang Pernah Dilatihnya
M Shofyan Dwi KurniawanJumat, 23 Januari 2026 | 23.57 WIB
Sir Alex Ferguson, pelatih legendari Manchester United. (Russell Cheyne/Reuters)

JawaPos.com - Selama 26 tahun menangani Manchester United, Sir Alex Ferguson dikenal bekerja dengan deretan pemain luar biasa, dari ikon akademi hingga superstar dunia. Namun, pandangan sang manajer legendaris soal istilah “kelas dunia” ternyata jauh lebih ketat dibanding kebanyakan orang.

Ferguson secara terbuka mengklaim bahwa dari sekian banyak pemain hebat yang pernah dilatihnya, hanya empat yang benar-benar pantas menyandang status pemain kelas dunia.

Pernyataan ini otomatis memicu perdebatan panjang, terutama karena beberapa nama besar justru tidak masuk dalam daftar tersebut.

David Beckham, misalnya, tidak termasuk dalam hitungan Ferguson. Padahal, ia merupakan ikon global dan bagian penting dari era keemasan United.

Selain Beckham, nama-nama besar lain seperti Wayne Rooney, Roy Keane, Ruud van Nistelrooy, Rio Ferdinand, Nemanja Vidic, hingga Peter Schmeichel juga tidak dianggap memenuhi kriteria “kelas dunia” versi Fergie.

Bagi banyak penggemar dan pengamat, sebagian besar nama tersebut justru identik dengan status elite. Namun, Ferguson tetap pada pendiriannya. Baginya, pengalaman melatih para pemain itu setiap hari memberinya sudut pandang yang berbeda.

Empat pemain pilihan Ferguson

Melansir Give Me Sport, menurut Ferguson, hanya empat pemain Manchester United yang benar-benar berada di level tertinggi: Eric Cantona, Ryan Giggs, Cristiano Ronaldo, dan Paul Scholes.

1. Eric Cantona

Cantona dianggap sebagai sosok yang mengubah arah sejarah klub di era awal Premier League. Meski hanya lima musim berseragam United, pengaruhnya sangat besar.

Empat gelar liga dan dua Piala FA menjadi bukti kontribusinya. Karisma, kepercayaan diri, dan kemampuan menentukan hasil pertandingan membuatnya dipandang sebagai figur unik yang sulit tergantikan.

Baca Juga: Pesan Perdana Pedro Matos ke Bonek! Playmaker Baru Persebaya Surabaya Siap Hadapi Dewa United

2. Ryan Giggs

Giggs adalah simbol konsistensi dan loyalitas. Dengan 963 penampilan, ia menjadi pemain dengan jumlah laga terbanyak dalam sejarah klub. Trofi demi trofi diraih selama kariernya, termasuk 13 gelar liga.

Meski kerap luput dari sorotan karena banyaknya bintang di sekelilingnya, Ferguson menilai Giggs sebagai pembeda sejati di lapangan.

3. Cristiano Ronaldo

Ronaldo berkembang pesat di bawah asuhan Ferguson, dari pemain muda penuh trik menjadi mesin gol kelas dunia. Selama enam musim di Old Trafford, ia meraih tiga gelar liga, Piala FA, dan Liga Champions, serta Ballon d’Or.

Ferguson bahkan menyebut Ronaldo sebagai yang paling istimewa di antara empat nama pilihannya.

4. Paul Scholes

Scholes dikenal sebagai otak permainan di lini tengah. Visi, teknik, dan kemampuannya mengontrol tempo pertandingan membuatnya sangat dihormati, bahkan oleh sesama legenda sepak bola.

Ferguson menilai Scholes sebagai pemain yang mampu mengubah jalannya laga besar dengan cara yang tidak selalu terlihat di statistik.

Siapa yang Terbaik?

Dari keempatnya, Cristiano Ronaldo dianggap Ferguson sebagai seperti 'hiasan di puncak pohon Natal'.

Pernyataan ini menegaskan bahwa, bagi Ferguson, Ronaldo berada satu tingkat di atas yang lain.

Ferguson juga pernah membenarkan pilihannya dalam sebuah wawancara. Ia menjelaskan bahwa sejak muda, fokusnya selalu tertuju pada pemain yang mampu menciptakan peluang dan membuat perbedaan langsung di lapangan.

"Saya pikir, sebagai penggemar atau ketika Anda menonton pertandingan sepak bola sebagai anak muda, saya selalu memperhatikan penyerang tengah atau pemain sayap–pemain yang menciptakan peluang, membuat gol, mencetak gol. Itu selalu menjadi mantra saya dalam hal menonton pertandingan sepak bola," ujarnya.

"Saya memiliki beberapa pemain sepak bola yang fantastis dan mungkin saya bisa menyebut mereka semua kelas dunia dari waktu ke waktu. Tetapi analisis akhir saya, ketika saya memikirkannya, keempat pemain itu membuat perbedaan yang luar biasa di berbagai periode pertandingan dan inilah alasannya."

Ferguson juga menekankan bahwa sepak bola tetaplah olahraga tim.

"Saya tidak bermaksud meremehkan atau mengkritik para pemain hebat yang pernah saya miliki–merupakan suatu kehormatan memiliki mereka–tetapi jangan lupakan satu hal: keempat pemain itu tidak pernah memenangkan trofi, timlah yang selalu memenangkan trofi."

Ia menutup argumennya dengan pandangan soal Ballon d’Or dan posisi pemain bertahan, menegaskan bahwa istilah “kelas dunia” sering kali lebih melekat pada pemain ofensif.

"Ini opini saya dan saya rasa saya berhak untuk berpendapat!" pungkasnya.

 

EDITOR: Banu Adikara