← Beranda
Dari Pesta ke Kontroversi: Kericuhan di Final AFCON dan Dampaknya bagi Maroko di Piala Dunia 2030
Andre Rizal HanafiRabu, 21 Januari 2026 | 00.11 WIB
Ilustrasi: Kericuhan di AFCON. (Istimewa)

JawaPos.com - Final Piala Afrika (AFCON) 2025 di Rabat, Maroko meninggalkan lebih banyak cerita panas dibanding euforia juara.

Laga penentuan antara tuan rumah Maroko vs Senegal yang seharusnya menjadi perayaan sepak bola Afrika justru berakhir dengan kericuhan, memunculkan pertanyaan tentang kesiapan Maroko sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030.

Pertandingan yang berlangsung di Stadion Pangeran Moulay Abdellah itu dimenangi Senegal dengan skor tipis 1-0 lewat gol di perpanjangan waktu.

Gol kemenangan yang dicetak Pape Gueye menit ke 94 memastikan trofi AFCON dibawa pulang ke Dakar, Senegal.

Namun, hasil tersebut tertutup oleh aksi kontroversi wasit, aksi protes pemain, serta kerusuhan suporter yang mencoreng laga final tersebut.

Situasi mulai memanas saat memasuki waktu injury time babak kedua. Senegal sempat merayakan gol Ismaila Sarr, tetapi wasit menganulirnya.

Tak lama berselang, Maroko mendapat penalti setelah Brahim Diaz dinilai dilanggar. Keputusan ini memicu reaksi keras dari kubu tim Senegal.

Pelatih Senegal, Pape Thiaw, kemudian menarik timnya keluar lapangan sebagai bentuk protes. Pertandingan tertunda lebih dari seperempat jam sebelum akhirnya dilanjutkan.

Penalti Maroko yang dieksekusi Brahim Diaz dengan gaya Panenka justru gagal setelah ditepis dengan mudah oleh Edouard Mendy.

Momentum itu berlanjut hingga perpanjangan waktu, di mana Senegal tampil lebih tenang dan efektif.

Ketegangan di dalam lapangan ternyata merembet ke tribun penonton. Sejumlah suporter Senegal mencoba memasuki area lapangan dan terlibat bentrokan dengan petugas keamanan.

Lemparan benda dan aksi saling dorong tak terhindarkan. Seorang relawan dilaporkan mengalami cedera dan harus dibawa keluar stadion.

Insiden tidak berhenti sampai di situ. Seusai pertandingan, pelatih kedua tim terlibat adu argumen, sementara suasana konferensi pers berubah kacau akibat pertikaian antarsesama jurnalis. Final AFCON yang seharusnya menjadi cerminan positive sepak bola Afrika justru berubah menjadi citra negatif.

Reaksi keras datang dari berbagai pihak. Presiden FIFA Gianni Infantino secara terbuka mengecam insiden tersebut. Ia menilai kejadian di Rabat tidak bisa ditoleransi dan menegaskan bahwa kekerasan, baik di dalam maupun di luar lapangan, tidak memiliki tempat dalam sepak bola modern.

CAF selaku otoritas sepak bola Afrika juga bergerak cepat. Dalam pernyataan resminya, CAF mengutuk perilaku tidak pantas yang terjadi selama final dan memastikan akan melakukan penyelidikan menyeluruh.

Seluruh rekaman pertandingan dan laporan keamanan akan dikaji sebelum keputusan penganbilan sanksi.

Sementara itu, Federasi Sepak Bola Maroko memilih fokus pada aksi protes Senegal. Mereka menilai keputusan meninggalkan lapangan telah merusak ritme pertandingan dan mencederai semangat fair play. Keluhan resmi pun diajukan ke CAF dan FIFA, dengan tuntutan sanksi tegas bagi Senegal.

Di tengah polemik tersebut, sorotan global tertuju pada satu hal penting dampaknya terhadap Piala Dunia 2030.

Maroko, bersama Spanyol dan Portugal, akan menjadi tuan rumah ajang terbesar sepak bola dunia. AFCON 2025 sejatinya menjadi ajang uji coba besar bagi kesiapan Maroko, mulai dari infrastruktur hingga manajemen keamanan.

Sejauh ini, FIFA belum menunjukkan tanda-tanda akan perubahan status Maroko sebagai tuan rumah Piala Dunia. Infantino tetap memuji penyelenggaraan AFCON secara keseluruhan dan menyebut Maroko sebagai tuan rumah yang baik.

Investasi besar dalam stadion, transportasi, dan fasilitas pendukung dinilai sebagai bukti keseriusan Maroko.

Sejarah juga menunjukkan bahwa insiden keamanan di laga besar bukan hal yang baru. Final Euro 2020 dan Copa America 2024 sama-sama diwarnai dengan kericuhan, namun tidak berujung pada pencabutan status tuan rumah turnamen untuk tim yang terlibat.

Meski demikian, final AFCON di Rabat menjadi peringatan penting. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan, pengelolaan suporter, dan komunikasi wasit menjadi sebuah kewajiban.

Jika tidak ditangani dengan serius, kejadian serupa bisa menjadi masalah lebih besar di panggung Piala Dunia.

Bagi Maroko, kekacauan ini bukan akhir segalanya, melainkan ujian awal. Cara mereka belajar dan berbenah dari final AFCON akan menentukan seberapa siap negara ini menyambut dunia pada 2030.

EDITOR: Banu Adikara