← Beranda
Sebelum Disingkirkan, Xabi Alonso Bawa Kembali Semangat Jose Mourinho di Real Madrid
M Shofyan Dwi KurniawanSelasa, 13 Januari 2026 | 23.50 WIB
Xabi Alonso (kanan) menghadirkan pendekatan taktis ala Jose Mourinho saat Real Madrid menghadapi Barcelona di Piala Super Spanyol. (Instagram/@realmadrid)
 

JawaPos.com - Xabi Alonso seolah membangkitkan kembali semangat Jose Mourinho saat Real Madrid menghadapi Barcelona di final Piala Super Spanyol. Sayang, hal itu tak menggugah hati manajemen Los Blancos yang tetap menyingkirkannya.

Seperti yang pernah dilakukan Mourinho menjelang final Copa del Rey 2011 dengan memainkan Pepe sebagai gelandang, pelatih asal Basque itu memilih rencana yang sama-sama berani dan tak terduga.

Melansir MARCA, Alonso menurunkan lima pemain bertahan, mengubah peran Tchouameni menjadi bek tengah, menugaskan Gonzalo untuk menjaga Pedri, serta menempatkan Vinicius sebagai penyerang tengah. 

Pendekatan ini jelas tidak dirancang untuk mendominasi permainan, melainkan untuk mengejutkan lawan, mengacaukan struktur Barcelona, dan mematahkan rencana yang telah disiapkan tim asuhan Hansi Flick.

Skema tersebut memang tidak menghasilkan peningkatan signifikan dalam kualitas permainan Real Madrid. Namun, seperti era Mourinho melawan Barcelona-nya Guardiola, pendekatan pragmatis ini cukup membuat Madrid mampu bersaing secara setara. 

Xabi Alonso, yang pernah merasakan langsung duel klasik tersebut sebagai pemain, tampaknya mencatat pelajaran itu dengan baik.

Madrid tampil lebih agresif, lebih intens dalam duel, dan jauh lebih berkomitmen tanpa bola. Taktik ini memang tidak cukup untuk mengantarkan mereka pada gelar juara, tetapi cukup untuk membuat mereka tetap bertahan dalam permainan dan bagi Xabi untuk menunjukkan bahwa ia masih 'hidup'. 

Tidak ada kebangkitan besar yang dijanjikan, tetapi setidaknya jarak antara dua raksasa Spanyol itu tidak lagi terasa begitu jauh.

Raphinha Menggila

Hanya sedikit pemain di dunia yang mampu tampil dengan intensitas yang sama di setiap pertandingan, dan Raphinha adalah salah satunya. Entah melawan Guadalajara di Copa del Rey atau Real Madrid di Supercopa, pemain Brasil itu tidak pernah setengah-setengah.

Sekali lagi, Raphinha menjadi mimpi buruk bagi Los Blancos. Ia ada di mana-mana: menekan, merebut bola, berdebat, menghadapi lawan, menggiring bola, hingga mencetak gol.

Peluang emas pertamanya memang terbuang, tetapi kesempatan kedua berbuah gol. Gol keduanya di laga itu, dengan bantuan pantulan dari Marco Asensio, menutup malam yang nyaris sempurna. 

Gol-gol tersebut terasa pantas untuk gelar juara, dan Raphinha kembali membuktikan dirinya sebagai pemain kelas dunia, meski namanya jarang masuk daftar elite global.

Gol ala Raul

Gonzalo Garcia menghadirkan momen nostalgia ala Raul Gonzalez pada menit ke-50 untuk mengubah skor menjadi 2-2. Sebuah gol striker murni: oportunis, penuh keyakinan, dan lahir dari posisi sulit.

Dalam situasi di mana pemain lain mungkin akan terjatuh dan meminta penalti dari Pedri, Gonzalo justru menyundul bola dan melepaskan tembakan yang tidak lazim, namun tak terbendung oleh Joan Garcia.

Gol itu menjadi pengingat bahwa striker tradisional masih memiliki tempat, sebuah gol penyelamat yang menjaga Madrid tetap bernapas.

Vinicius Akhirnya Pecah Telur

Vinicius Jr. juga tampil di saat Madrid paling membutuhkannya. Gol Raphinha sempat membuka jalan menuju kemenangan Barcelona, tetapi Vinicius mengambil bola dari lini tengah dan mengubah situasi biasa menjadi gol luar biasa.

Ia menyeret Kounde ke area penalti, mengecohnya lewat sela-sela kaki—sebuah risiko besar di area sendiri—lalu melewati Cubarsi sebelum menaklukkan Joan Garcia dengan tembakan silang. 

Gol tersebut mengakhiri puasa 15 pertandingan tanpa gol dan menjadi pernyataan bahwa Vinicius masih memiliki banyak hal untuk ditunjukkan di Real Madrid. Pada laga ini, ia jelas tidak pantas diganti pada menit ke-82.

Xabi Mengejutkan Flick (Dua Kali)

Kejutan pertama datang dari pengumuman susunan pemain resmi. Pada pukul 18.30, Real Madrid mengumumkan Gonzalo sebagai starter dan peran Arda sejak awal. 

Namun, dalam 20 menit, terjadi koreksi akibat kesalahan manusia yang awalnya mencantumkan pemain Spanyol, bukan pemain Turki.

Kejutan kedua jauh lebih penting: formasi lima bek dengan Tchouameni ditempatkan di antara Asencio dan Huijsen. Barcelona kesulitan menembus pertahanan Madrid yang bermain dengan tempo rendah, setidaknya hingga menit-menit akhir ketika semua rencana taktis mulai berubah.

Masalah Cedera yang Tak Ada Habisnya

Xabi Alonso jelas sedang menghadapi periode yang sangat sulit. Cedera terus menghantui Real Madrid, memaksanya merombak tim dari satu pertandingan ke pertandingan lain. 

Los Blancos memasuki final dengan Rudiger hanya mengenakan pakaian biasa, sementara Mbappe duduk di bangku cadangan sebagai opsi darurat.

Situasi itu ternyata belum cukup buruk. Di babak kedua, Fede Valverde mengalami cedera, Huijsen menyusul, dan Madrid akhirnya harus memainkan Alaba yang sudah lama absen dari sorotan. Sebuah drama yang mencerminkan betapa rapuhnya kondisi skuad saat ini.

Mbappe Tetap yang Terbaik

Kylian Mbappe tetap menjadi sosok sentral, bahkan ketika kondisinya jauh dari ideal. Ia datang ke Arab Saudi dengan tujuan menakut-nakuti lawan, dan itu berhasil. 

Bermain sekitar 15 menit dengan mungkin hanya 50 persen kemampuannya, Mbappe tetap mampu memancing kartu merah dan menciptakan peluang terakhir pertandingan, yang berakhir dengan tembakan Carreras ke tangan Joan Garcia.

Apa pun yang bisa dilakukan Xabi Alonso hingga akhir musim, satu hal tampak jelas: Real Madrid, dalam banyak hal, masih berada di tangan Mbappe.

EDITOR: Edi Yulianto