JawaPos.com - Manchester United akhirnya mengakhiri kerjasama dengan pelatih Ruben Amorim per 5 Januari 2026. Sebagian kalangan menganggap hal ini mengejutkan, tetapi sebagian lain menilai langkah Man United sudah tepat.
Jika melihat kiprah Amorim di Man United, bisa dikatakan ia masih jauh dari kata memuaskan. Musim lalu, di bawah komandonya, Setan Merah finis di peringkat 15 Liga Inggris, posisi paling buruk mereka sejak era Premier League.
Selain itu, ia gagal meraih kompetisi piala, sehingga Man United tidak meraih gelar apapun musim lalu. Dan, jika dianalisis lagi, ada sejumlah faktor yang bisa dikatakan sebagai dosa Amorim yang membuatnya gagal total di Man United. Apa saja itu?
1. Membuang Rashford dan Pemain Potensial Lainnya
Amorim secara mengejutkan berani mendepak pemain-pemain potensial yang ia anggap tidak sesuai dengan filosofi bermainnya. Salah satu yang disorot adalah mendepak Marcus Rashford, bintang asli binaan akademi Man United.
Rashford memang sempat menurun performanya di era akhir kepemimpinan Erik ten Haag, tapi pada awal masuknya Amorim, Rashford malah sempat mencetak gol dan berangsur-angsur kembali pada performa terbaiknya.
Tapi, bagi Amorim, Rashford adalah pemain buruk, kurang berambisi, dan tidak cocok dengan game plan miliknya. Ia pun kemudian dipinjamkan ke Aston Villa dan musim ini kembali dipinjamkan ke Barcelona.
"Saya bahkan akan menempatkan pelatih kiper saya, Jorge Vital (di bangku cadangan) daripada memasukkan pemain yang tidak memberikan yang terbaik setiap hari (Rashford)," ungkap Amorim dalam sebuah kesempatan seperti dikutip dari ESPN.
Selain Rashford, Amorim juga mendepak Jadon Sancho, Garnacho, Anthony, sampai Rasmus Hojlund. Alasannya kurang lebih sama, tidak bisa berkontribusi lagi, serta tidak cocok dengan game plan. Garnacho, yang bahkan punya peran besar membantu Man United lolos ke final Liga Europa pun didepak, bahkan dibuat tidak nyaman pada final tersebut, di mana ia hanya dicadangkan dan baru masuk pada pertengahan babak kedua.
Nyatanya, setelah mereka keluar, sebagian dari mereka ternyata tampil cukup apik. Rashford bisa berperan penting bagi Barcelona lewat gol dan assist-nya, meski harus bersaing dengan Raphinha dan Lamine Yamal.
Lalu, Rasmus Hojlund bersinar bersama Napoli, Garnacho dan Anthony tampil relatif baik bersama Chelsea dan Real Betis. Hanya Jadon Sancho saja yang tetap meredup.
Padahal, jika mereka masih diberi kesempatan, bisa saja mereka mampu memberi dampak positif bagi Man United, terutama yang kini bersinar bersama klub barunya.
2. Tetap Kukuh Pakai Pola 3-4-3
Dosa kedua adalah tetap teguh pendirian untuk menggunakan pola 3-4-3. Padahal, pola tersebut tak kunjung berhasil. Hal itu memang sulit diterapkan karena Man United tidak terbiasa menggunakan pola tersebut.
Man United sudah terbiasa menggunakan pola empat bek sejak dulu hingga era Ten Hag. Apalagi, di Liga Inggris, pola tiga bek nyaris tidak dipakai karena terlalu riskan.
Jadi ketika tiba-tiba dirubah menjadi tiga bek, otomatis MU kalang kabut, terutama barisan belakangnya. Efeknya, Man United terjerembab di posisi 15 pada klasemen akhir musim lalu, dan hingga pertengahan musim ini, Man United juga sering gagal menang meski kekalahannya tidak sebanyak musim lalu.
3. Gagal di Final Liga Europa
Final Liga Europa musim 2024/2025 seharusnya menjadi kesempatan bagi Amorim untuk meraih gelar prestisius bagi Man United, sekaligus membuktikan bahwa ia sosok yang layak melatih pelatih Setan Merah.
Apalagi, mereka lolos ke final dengan meyakinkan, dan lawan yang dihadapi adalah Tottenham Hotspur, tim yang secara mentalitas di final seharusnya di bawah Man United, yang lebih berpengalaman di laga puncak level Eropa.
Tapi, faktanya, Tottenham malah menang 1-0 dan Man United nyaris mati kutu dengan tampil tidak meyakinkan.
Man United pun gagal mengambil kesempatan meraih satu-satunya gelar prestisius dengan tidak mencetak gol di final dan gagal tampil di Liga Champions.
4. Berseteru dengan Manajemen
Dosa terakhir yang Amorim buat adalah pernyataannya di awal 2026 ini, yaitu ia tidak hanya ingin menjadi pelatih Manchester United, tetapi juga sebagai manajer Man United.
Sebagai manajer, berarti ia juga punya kendali untuk menangani perekrutan pemain yang ia inginkan sesuai kebutuhannya.
"Saya datang ke sini untuk menjadi manajer Manchester United, bukan hanya menjadi pelatih Manchester United. Itu sudah jelas," ujar Amorim setelah laga terakhirnya bersama Man United, yaitu seri menghadapi Leeds, dikutip dari Sky Sports.
Sayangnya, hal itu malah membuat manajemen Man United kebakaran jenggot. Dan, setelah pernyataan tersebut, ia dipecat dari jabatannya sebagai pelatih kepala Setan Merah.
Sekarang setelah keluarnya Amorim, para fans Man United berharap manajemen Setan Merah merekrut pelatih yang berkompeten dan punya mentalitas juara. Bukan pelatih hijau yang bahkan bukan seorang mantan pemain Man United, dan tidak memahami kultur di klub tersebut. Sehingga, Man United bisa kembali meraih kejayaan layaknya sebuah tim yang punya DNA juara.