JawaPos.com - Malam penuh hujan di London Barat berubah jadi pesta besar bagi para penggemar Chelsea. Dalam laga Liga Champions di Stamford Bridge, skuad muda The Blues tampil luar biasa dan menghancurkan Ajax dengan skor telak 5–1.
Melansir SI.com, bermain dengan keunggulan jumlah pemain sejak menit ke-17, anak-anak asuh Enzo Maresca menunjukkan kualitas dan kepercayaan diri tinggi yang membuat para pendukung mereka bersorak puas.
Chelsea sempat kesulitan menemukan ritme permainan di awal pertandingan. Namun, keadaan berubah drastis setelah kapten Ajax, Kenneth Taylor, diusir dari lapangan akibat pelanggaran keras terhadap Facundo Buonanotte.
Baca Juga: Legenda Hidup The Blues, John Terry Ungkap Satu Mimpi Terakhir dalam Kariernya: Melatih Chelsea
Wasit Felix Zwayer yang semula hanya memberi kartu kuning, mengubahnya menjadi kartu merah setelah intervensi VAR.
Momen itu menjadi titik balik. Dari tendangan bebas berikutnya, Marc Guiu langsung membuka keunggulan lewat sundulan jarak dekat setelah bola hasil duel udara Wesley Fofana jatuh di depannya.
Beberapa menit berselang, Moisés Caicedo menggandakan keunggulan lewat sepakan spekulatif jarak jauh yang berbelok arah dan menghujam tiang gawang sebelum masuk.
Baca Juga: Chelsea Bantai Ajax 5-1, Para Pemain Muda The Blues Tampil Gemilang
Gol itu menjadi yang keempat bagi gelandang muda tersebut di musim ini. Sebuah pencapaian impresif untuk pemain yang biasa beroperasi sebagai gelandang bertahan.
Ajax Gagal Bangkit, Chelsea Makin Tak Terbendung
Harapan sempat muncul bagi tim tamu setelah Wout Weghorst sukses mengeksekusi penalti, memperkecil ketertinggalan menjadi 2–1. Namun, kebangkitan itu tak bertahan lama.
Tepat sebelum turun minum, Enzo Fernández menambah keunggulan dari titik putih setelah Weghorst melakukan pelanggaran ceroboh. Hanya beberapa menit kemudian, Estêvão juga mencatatkan namanya di papan skor lewat penalti kedua Chelsea.
Pemain berusia 18 tahun itu resmi menjadi pencetak gol termuda The Blues di Liga Champions, memecahkan rekor yang baru saja dibukukan Guiu sebelumnya.
Babak pertama ditutup dengan skor 4–1 untuk Chelsea.
Enzo Maresca melakukan rotasi besar-besaran di babak kedua, memberi menit bermain untuk sederet pemain muda lainnya. Keputusan itu langsung terbayar.
Baru beberapa menit setelah masuk, Tyrique George menambah keunggulan menjadi 5–1 lewat tembakan tenang dari tepi kotak penalti. Gol tersebut juga menjadi yang kelimanya musim ini, menandai konsistensi luar biasa dari pemain berusia 19 tahun itu.
Sisa laga berjalan sepihak. Chelsea menciptakan peluang demi peluang, terutama lewat duet Estêvão dan Romeo Lavia yang tampil dominan di lini tengah. Estêvão bahkan nyaris mencetak gol keduanya lewat tendangan salto yang memukau penonton, meski bola hanya melebar tipis.
Dengan rata-rata usia 22 tahun 163 hari, tim yang diturunkan Maresca menjadi kesebelasan termuda kedua dalam sejarah klub Inggris di Liga Champions.
Lebih hebatnya lagi, Chelsea menjadi tim pertama yang memiliki tiga pencetak gol remaja berbeda dalam satu pertandingan di kompetisi ini: Guiu, Estêvão, dan George. Sebuah pencapaian luar biasa yang menandai lahirnya generasi baru Stamford Bridge.
Kemenangan besar ini bukan sekadar tiga poin, tapi juga pernyataan keras bahwa Chelsea tengah membangun masa depan cerah dengan generasi muda berbakat.