JawaPos.com–Real Madrid takluk dari Atletico Madrid pada Sabtu (27/9) kalah dengan skor 2–5. Derbi Madrid pertama La Liga musim 2025/2026 itu digelar di Stadion Metropolitano.
Meskipun mengawali musim 2025/2026 dengan sempurna dengan enam kemenangan beruntun, Real Madrid tak mampu berbuat banyak. Madrid dibobol gol-gol Robin Le Normand, Alexander Sorloth, brace Julián Alvarez, dan Antoine Griezmann.
Meskipun Kylian Mbappe dan Arda Guler sempat membawa Los Blancos unggul untuk sementara hingga menjelang babak pertama berakhir, tetapi semangan juang Los Rojiblancos di hadapan pendukungnya tak dapat dibendung.
Kekalahan 2–5 atas rival sekota sekaligus yang menjadi pertama musim ini, membuat posisi puncak Real Madrid sedikit terancam. Sebab, Barcelona baru akan tampil pada Minggu (28/9) malam.
Tiga Masalah Penyebab Kekalahan Real Madrid di Stadion Metropolitano.
Real Madrid Tak Bisa Mengatasi Masalah Bola Mati
Ada banyak hal yang patut dikritik atas upaya pertahanan Real Madrid di laga derbi, tetapi satu hal yang menonjol yaitu ketidakmampuan mereka membangun pertahanan yang kuat untuk mengatasi bola mati.
Empat dari lima gol Atletico Madrid di Metropolitano tercipta dari bola mati atau dari momen-momen setelah umpan bola mati dilepaskan. Membuat kiper kelas dunia seperti Thibaut Courtois terpaksa memungut bola dari gawangnya sebanyak lima kali.
Yang pertama, sapuan yang gagal dari tendangan bebas berbahaya Alvarez membuka peluang bagi Le Normand untuk menyundul bola sebagai gol pembuka pertandingan. Sorloth kemudian mencetak gol kedua sekaligus penyeimbang beberapa detik setelah lemparan ke dalam.
Selanjutnya adalah Alvarez, yang mencetak gol kemenangan Los Rojiblancos dari titik penalti sebelum ia memastikan kemenangan dengan tendangan bebas yang gemilang menembus gawang Real Madrid.
Atletico Madrid selalu membuat Real Madrid kebingungan dan lengah, menghukum tim tamu dengan relatif mudah. Pasukan Alonso tampak sangat membutuhkan latihan lebih dalam untuk memperbaiki posisi dan penjagaan mereka ketika menghadapi bola mati.
Alvaro Carreras Gagal di Ujian Besar Pertama
Sejak kedatangannya di ibu kota Spanyol, Alvaro Carreras telah menjelma menjadi bintang Real Madrid. Bek kiri ini adalah satu dari hanya tiga pemain yang selalu menjadi starter di setiap pertandingan pada musim 2025/2026, dengan mulus menggantikan Ferland Mendy.
Namun, Carreras benar-benar kesulitan dalam derby Madrid pertamanya. Bek kiri ini kesulitan menahan Pablo Barrios sepanjang pertandingan, dan terus-menerus mengejar pemain Spanyol itu, yang hampir bebas bergerak di sisi kanan lapangan.
Bahkan ketika diminta untuk membantu menjaga bola mati, pemain yang direkrut musim panas ini tampil buruk. Entah karena sapuan atau penempatan posisi yang buruk, Carreras dengan cepat menjadi beban di dalam kotak penaltinya sendiri.
Mantan bek sayap Benfica ini benar-benar kehilangan kendali di depan Sorloth menjelang turun minum dan berdiri diam ketika sang striker melompat ke udara untuk menyamakan kedudukan bagi tuan rumah.
Carreras juga tampil tidak lebih baik saat menguasai bola. Ia tampak panik hampir setiap kali menguasai bola, mencari celah tercepat untuk melepaskan diri dan seringkali membuat timnya kehilangan penguasaan bola.
Satu penampilan buruk tidak menghapus semua penampilan solid Carreras di awal kariernya di tim ibu kota ini, tetapi hal itu bisa membuat Alonso berpikir dua kali untuk memainkan pemainnya sebagai starter di pertandingan-pertandingan besar setelah Mendy pulih dari cedera.
Kebimbangan Jude Bellingham Memimpin Serangan atau Membantu Pertahanan
Alonso menjadi pusat perhatian ketika ia memberi isyarat kepada Jude Bellingham untuk langsung tampil. Pemain internasional Inggris itu baru bermain total 20 menit sejak pulih dari cedera dan tiba-tiba harus menghadapi derby Madrid di Metropolitano.
Seperti kebanyakan musim lalu, Bellingham dengan cepat beradaptasi dan mampu memperbaiki timnya yang sedang kesulitan. Sebagai gelandang nomor 10 dengan tumpuan ketika membangun serangan memaksanya mundur untuk menutupi permainan ceroboh rekannya.
Faktanya, bahkan dengan empat bek dan dua gelandang bertahan di lapangan, Bellingham-lah yang melakukan tekel penyelamatan di dalam kotak penaltinya sendiri untuk mencegah Atlético Madrid mencetak tiga gol di babak pertama.
Pemain yang baru berusia 22 tahun itu mengakhiri pertandingan dengan lima tekel, tertinggi di pertandingan, dan memenangkan sembilan dari 12 duelnya dalam 70 menit di lapangan sebelum diganti Rodrygo.
Los Blancos membutuhkan kreativitas dan visi Bellingham di sepertiga akhir lapangan jika mereka ingin mengalahkan dan membongkar pertahanan tim-tim papan atas di Spanyol dan Eropa.
Serangan Alonso hanya menghasilkan dua tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan. Real Madrid tidak boleh bermain buruk dalam hal bertahan sehingga memaksa pemain nomor 10, seperti Bellingham ini lebih cenderung berada di belakang.