JawaPos.com - Ketegangan antara Real Madrid dan penyelenggara Ballon d'Or masih belum menemukan titik damai. Menurut laporan terbaru dari MARCA, upaya mediasi yang dilakukan sejauh ini belum mampu mencairkan suasana.
Semuanya berawal dari kontroversi musim lalu. Banyak pihak menilai Vinícius Júnior layak menggenggam Ballon d'Or, namun trofi justru jatuh ke tangan Rodri, gelandang Manchester City.
Keputusan itu membuat Real Madrid mengambil langkah tegas: memboikot seremoni penghargaan bergengsi tersebut. Tak ada satu pun perwakilan klub yang hadir, sebuah pesan diam yang terdengar lantang.
Baca Juga: Resmi! Xabi Alonso Dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik La Liga Bulan Agustus
Beberapa bulan kemudian, France Football mencoba merajut kembali hubungan. Delegasi mereka terbang ke Madrid, duduk semeja dengan pihak klub, membicarakan kemungkinan perdamaian menjelang edisi tahun ini.
Tapi, seperti dilaporkan media Spanyol itu, pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan. Madrid tetap menaruh curiga pada metode penilaian yang dianggap tidak transparan.
"Metode dan kriteria penilaian perlu diperjelas," begitu narasi yang menggambarkan sikap klub. Tambahan faktor baru, yaitu keterlibatan UEFA sejak musim lalu, justru memperkeruh keadaan.
Hubungan Madrid dengan badan sepak bola Eropa itu memang sudah lama tidak harmonis, dan keberadaan penghargaan UEFA di sela undian Liga Champions hanya menambah gesekan.
Perselisihan ini bahkan menimbulkan dampak personal. Carlo Ancelotti, yang dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Dunia musim 2023/24, hingga kini belum menerima Johan Cruyff Award perdananya. Ruang kosong di lemari trofi miliknya seakan menjadi simbol kebekuan hubungan antara klub dan ajang penghargaan.
Kini, menjelang malam Ballon d’Or yang akan digelar bulan ini, pertanyaan besar kembali muncul: akankah Real Madrid membuka pintu dan mengakhiri boikot, atau tetap berdiri di jalur protes?
Yang jelas, nama-nama besar seperti Vinícius Júnior dan Kylian Mbappe masuk dalam perbincangan kandidat. Situasi ini membuat sorotan semakin tajam. Bukan hanya pada siapa yang akan menang, tapi juga pada perdebatan panjang soal keadilan dan transparansi di penghargaan paling prestisius dalam sepak bola dunia.
Baca Juga: Konate Jadi Target Real Madrid, Liverpool Patok Harga Tinggi