JawaPos.com - Di balik sorot lampu stadion Amex yang masih menyala terang, wajah-wajah pemain Manchester City terlihat lesu.
Kekalahan 2-1 dari Brighton bukan hanya menyakitkan karena menghapus keunggulan awal, tetapi juga menjadi tanda peringatan bahwa juara bertahan Liga Primer ini belum menemukan ritme terbaik mereka di awal musim.
Rodri, gelandang andalan sekaligus salah satu pemimpin di ruang ganti, menjadi sosok yang paling menyoroti penampilan timnya.
Dalam nada yang tegas, ia mengungkapkan pandangannya soal apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Kemenangan yang Terlepas di Tangan Sendiri
Manchester City memulai pertandingan dengan percaya diri. Erling Haaland membawa mereka unggul di babak pertama, sebuah gol yang lahir dari dominasi penuh dalam penguasaan bola.
Brighton bahkan hanya mencatatkan peluang dengan nilai expected goals (xG) 0,04 hingga menit ke-60. Namun, pergantian empat pemain oleh tim tuan rumah mengubah jalannya pertandingan secara drastis.
City kehilangan momentum. Tekanan dari Brighton meningkat, dan dalam situasi penuh tekanan itu, kesalahan-kesalahan kecil mulai bermunculan.
Sebuah handball dari Matheus Nunes menghadiahkan penalti yang diselesaikan James Milner dengan dingin, sebelum Brajan Gruda mencetak gol penentu kemenangan di menit-menit akhir.
Pep Guardiola mencoba merespons dengan perubahan taktik, tetapi semua terasa sia-sia. City pulang tanpa poin, dan yang lebih menyakitkan, tanpa jawaban jelas atas penurunan performa mereka.
Rodri Merasa City Mengalami Penurunan Level
Dilansir dari Manchester Evening News, usai pertandingan, Rodri berbicara dengan nada jujur. Namun, di balik ketegasannya, ada rasa frustrasi yang sulit disembunyikan.
"Kami kecewa karena kami Manchester City, dan kami datang ke sini untuk menang. Tapi kenyataannya, kami tidak berada di level yang seharusnya," ujarnya kepada Sky Sports.
Bagi Rodri, masalah bukan hanya soal hasil, melainkan bagaimana mereka kehilangan kendali di momen-momen penting. Ia menilai dua kesalahan besar di babak kedua menjadi titik balik yang mematikan peluang timnya untuk pulang dengan tiga poin.
Rekor satu kemenangan dari tiga pertandingan awal mungkin tampak tidak mengkhawatirkan bagi sebagian orang. Namun, bagi Rodri, ini lebih dari sekadar angka di papan klasemen.
"Sejujurnya, saya tidak peduli orang-orang berkata apa. Yang penting kami bekerja keras, fokus pada diri sendiri, dan bicara lagi di akhir musim," katanya, seolah menegaskan bahwa komentar luar tak akan mengganggu fokus tim.
Namun, ia juga tidak menutupi bahwa perubahan komposisi pemain turut memberi tantangan tersendiri.
"Pemain baru harus beradaptasi, dan ketika tim berubah sebanyak itu, memang sulit. Tapi ini bukan alasan. Ini realitas kami, dan kami harus menyadari bahwa ini bukan cara untuk mencapai sesuatu."
Rodri Mengkritik Detail Kecil yang Terlewat
Rodri menyoroti bahwa kesalahan yang terjadi melawan Brighton bukanlah kesalahan dari sisi strategi, melainkan hal-hal sederhana yang seharusnya bisa dihindari.
"Beberapa kesalahan yang kami lakukan adalah kesalahan anak-anak. Kurang konsentrasi, kurang perhatian pada detail. Kalau mau bersaing di level tertinggi, kami harus memperbaiki itu," tegasnya.
Pernyataannya bukan hanya kritik, tetapi juga seruan agar City segera kembali ke standar permainan yang selama ini membuat mereka mendominasi Inggris dan Eropa.
Guardiola dikenal sebagai pelatih yang mampu mengembalikan timnya ke jalur yang benar setelah periode sulit. Namun, dengan jadwal padat yang menanti, City tak punya banyak waktu untuk meratapi kekalahan.
Rodri pun menutup komentarnya dengan nada reflektif, "Sekarang saatnya istirahat dan menyegarkan pikiran. Kami harus kembali dengan energi baru dan fokus pada cara bermain yang benar."
Kekalahan di Brighton mungkin hanya akan menjadi catatan kecil dalam perjalanan panjang Manchester City musim ini. Namun, cara mereka meresponsnya akan menentukan apakah tim ini masih memiliki mental juara yang sama seperti musim-musim sebelumnya.