JawaPos.com - Liga Champions musim 2025/2026 kembali menghadirkan cerita baru. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, FC Kairat Almasty, klub asal Kazakhstan, berhasil menembus fase grup kompetisi paling bergengsi di Eropa itu.
Kehadiran tim asal Kazakstan ini melengkapi daftar tiga debutan baru di Liga Champions tahun ini, bersama Bodø/Glimt dari Norwegia dan Pafos FC dari Siprus. Khusus bagi Kairat, perjalanan menuju panggung utama Eropa bukanlah hal yang mudah.
Klub yang bermarkas di Almaty itu harus melewati jalur kualifikasi panjang. Mereka menyingkirkan Olimpija Ljubljana (Slovenia), KuPS (Finlandia), Slovan Bratislava (Slovakia), dan yang paling mengejutkan, mengalahkan Glasgow Celtic, salah satu tim langganan Liga Champions asal Skotlandia.
Keberhasilan ini membuat Kairat menjadi klub kedua asal Kazakhstan yang pernah mencatatkan nama di Liga Champions, setelah FC Astana pada musim 2015/2016.
Kenapa Klub Asal Kazakhstan Bisa Tampil di Liga Champions?
Mungkin banyak yang bertanya, mengapa klub dari Kazakhstan, negara yang secara geografis berada di Asia, bisa tampil di Liga Champions yang notabene kompetisi antarklub Eropa.
Jawabannya cukup sederhana.
Kazakhstan memang negara lintas benua. Sekitar 10–15 persen wilayahnya masuk ke kawasan Eropa.
Karena itu, sejak 2002, Federasi Sepak Bola Kazakhstan memutuskan untuk bergabung dengan UEFA dan meninggalkan AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia).
Langkah ini tidak hanya soal teknis keanggotaan, tapi juga bagian dari strategi identitas. Lewat olahraga, Kazakhstan ingin lebih lekat dengan Eropa, baik secara budaya maupun politik.
Maka jangan heran jika klub-klub dari sana berkompetisi di ajang UEFA, termasuk Liga Champions dan Liga Europa.
Klub Tua dengan Sejarah Panjang
FC Kairat sendiri bukan klub baru. Berdiri pada tahun 1954 dengan nama awal Lokomotiv Almata, klub ini menjadi salah satu tim bersejarah di Kazakhstan.
Markas mereka adalah Central Stadium di Almaty, dengan kapasitas 23.804 penonton. Stadion klasik ini sudah menjadi rumah Kairat sejak era Uni Soviet.
Meski tak sepopuler klub-klub Eropa Barat, Kairat punya basis fans fanatik di Kazakhstan. Mereka kerap disebut sebagai klub rakyat karena mewakili salah satu kota terbesar di Kazakstan.
Didukung Miliarder Tajir, tapi Minim Bintang
Salah satu faktor menarik dari Kairat adalah status finansialnya. Klub ini dimiliki oleh Kairat Boranbayev, salah satu orang terkaya di dunia.
Kekayaannya ditaksir mencapai 590 miliar dolar AS, jumlah yang membuatnya masuk daftar 50 orang terkaya versi Forbes.
Namun uniknya, meski dimiliki miliarder supertajir, Kairat tidak jor-joran dalam belanja pemain.
Tidak ada nama besar yang mereka datangkan seperti kebanyakan klub elite Eropa.
Tim ini lebih mengandalkan pemain dengan kualitas solid tapi bukan bintang kelas dunia.
Di lini depan, mereka bertumpu pada striker Portugal bernama Jorginho. Gelandang andalan mereka adalah Valery Gromyko, pemain timnas Belarusia.
Sementara di lini belakang ada bek veteran Alyaksandr Martynovich, juga dari Belarusia.
Pelatih yang menangani tim ini adalah Rafael Urazbaktin, sosok pelatih lokal asal Kazakstan yang dipercaya membawa Kairat bersaing di level Eropa.
Perjalanan Menuju Liga Champions
Jika ditarik ke belakang, perjalanan Kairat menuju fase grup musim ini bisa dibilang dramatis.
• Di babak awal, mereka menyingkirkan Olimpija Ljubljana dengan agregat tipis.
• Lalu melanjutkan langkah dengan mengalahkan KuPS asal Finlandia.
• Ujian lebih berat datang saat bertemu Slovan Bratislava dari Slovakia. Kairat mampu tampil disiplin dan lolos dengan agregat ketat.
• Puncaknya terjadi saat mereka dipertemukan dengan Glasgow Celtic. Hampir semua prediksi menjagokan Celtic untuk melaju, tapi Kairat berhasil mencetak kejutan besar dengan menyingkirkan raksasa Skotlandia itu.
Kemenangan atas Celtic inilah yang kemudian membuat nama Kairat mencuat dan menjadi sorotan media dunia.
Tantangan di Liga Champions
Meski euforia keberhasilan lolos sangat besar, Kairat tetap harus realistis menghadapi fase grup Liga Champions. Lawan-lawan yang akan dihadapi jelas berada di level berbeda. Sebagai debutan, mereka tentu tidak dijagokan untuk melangkah jauh.
Namun, sepak bola selalu penuh kejutan. Dengan gaya main disiplin dan kerja keras, Kairat bisa saja menjadi kuda hitam yang merepotkan lawan-lawan besar.
Warna Baru bagi Liga Champions
Kehadiran Kairat Almasty menambah warna baru di Liga Champions. Turnamen ini kini benar-benar jadi ajang global, meskipun secara resmi hanya melibatkan klub-klub dari kawasan Eropa.
Kazakhstan, dengan sejarahnya sebagai pecahan Uni Soviet dan letaknya yang unik di antara Asia dan Eropa, menjadikan kehadiran Kairat di Liga Champions sebagai simbol tersendiri.
Bagi masyarakat Kazakhstan, lolosnya Kairat adalah bentuk pengakuan bahwa mereka juga mampu bersaing di panggung besar Eropa.
Apapun hasil yang diraih nanti, perjalanan FC Kairat Almasty musim ini sudah masuk buku sejarah. Dari tim yang jarang diperhitungkan, mereka kini berdiri sejajar dengan klub-klub elite Eropa.
Setidaknya, bagi fans Kairat dan masyarakat Kazakhstan, bisa mendengar lagu anthem Liga Champions berkumandang di Central Stadium adalah mimpi yang akhirnya jadi kenyataan.
Liga Champions musim ini jelas akan lebih seru dengan kehadiran tim debutan seperti Kairat. Siapa tahu, mereka bisa mengulang kisah dongeng ala Leicester City di Premier League.