← Beranda
Ketika Seniman Bicara Seni dan AI, Akankah Teknologi Menggantikan Kreativitas Manusia?
Abdul RahmanSenin, 24 Agustus 2026 | 00.34 WIB
Artist Talk tentang seni dan AI dalam rangkaian pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration. (Abdul Rahman/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - SBY Art Community (SAC) kembali menghadirkan ruang dialog tentang seni, perdamaian, dan perkembangan teknologi AI (artificial intelligence) melalui Artist Talk dalam rangkaian pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration. 

Kegiatan yang berlangsung di Galeri Emiria Soenassa dan Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, ini mempertemukan sejumlah seniman muda dengan gagasan kreatif yang berangkat dari isu perdamaian global. 

Artist Talk tersebut menghadirkan tiga seniman muda, yakni Koelo Maryam, Guntur Wibowo, dan La Ode Umar Arsuria. Diskusi dipandu oleh Gie Sanjaya yang juga merupakan kurator pameran.

Pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration merupakan bagian dari agenda SBY Art Community dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan HUT ke-499 DKI Jakarta. Pameran ini berlangsung hingga 30 Agustus 2026 di kompleks Taman Ismail Marzuki.

Baca Juga: Artis EJR Berikan THC Dosis Gorilla ke Korban, Kekerasan Seksual Terjadi di Rumahnya

Gagasan tentang perdamaian menjadi benang merah utama pameran SAC tahun ini. Ide tersebut berawal dari keresahan terhadap berbagai persoalan perdamaian yang terjadi di dunia. Presiden ke-6 RI sekaligus founder SBY Art Community, Susilo Bambang Yudhoyono, mengajak 20 anggota komunitas untuk menuangkan keresahan sekaligus harapan mereka dalam sebuah karya kolaboratif.

Proses penciptaan karya tersebut melibatkan seniman dari sejumlah kota, termasuk seniman dari Jakarta, Bandung, Solo, dan Yogyakarta, serta seniman independen. Menurut Guntur Wibowo, gagasan awal kemudian dikembangkan melalui diskusi, pemetaan ide, hingga pembuatan sketsa.

Menariknya, proses kreatif di kalangan seniman juga membuka ruang bagi pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi digunakan sebagai salah satu sarana untuk mengeksplorasi gagasan dan membantu seniman menemukan kemungkinan visual yang sesuai dengan tema perdamaian.

“Dari ide gagasan Pak SBY, lalu kita buatkan atau kita ilustrasikan dengan media gambar yang kita diskusikan dari empat institusi dari Jakarta, Bandung, Solo dan Jogja, termasuk seniman independen. Banyak ide gagasan yang muncul, kemudian kita membuat sketsa. Kita terbuka atas teknologi AI yang membantu kita dalam mencetuskan konsep perdamaian,” ujar Guntur Wibowo.

Perdebatan mengenai penggunaan AI dalam seni juga menjadi salah satu topik yang menarik dalam Artist Talk. Kurator Gie Sanjaya menilai, perkembangan teknologi tidak bisa dilepaskan dari dunia seni visual. Namun, menurut dia, kehadiran AI tetap perlu ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti proses kreatif manusia.

“Teknologi berkembang cepat di semua sektor, termasuk di dunia visual artistik. Terkait pemanfaatan AI di seni lukis, pada saat awal mind mapping dapat menggunakan AI. Selanjutnya ada goresan tinta, mix colour, dan lainnya yang tetap harus dikerjakan sendiri oleh seniman,” kata Gie.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa teknologi dapat membantu membuka kemungkinan baru dalam proses penciptaan karya. Meski demikian, sentuhan manusia tetap menjadi bagian penting karena pengalaman, emosi, intuisi, dan perspektif seniman tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi.

Seniman muda La Ode Umar Arsuria dan Koelo Maryam juga melihat perkembangan AI sebagai bagian dari dinamika baru dalam dunia seni. Bagi mereka, teknologi dapat menjadi ruang untuk berdiskusi dan mengeksplorasi gagasan, sementara karakter utama karya tetap lahir dari goresan, warna, serta ekspresi personal masing-masing seniman.

"Kalau bagi saya teknologi tidak dapat dihindarkan, bagaimana kita bisa memperbudak AI tanpa mengurangi kreativitas kita sebagai manusia," kata La Ode Umar Arsuria.

Sedangkan Koelo Maryam kerap menggunakan AI untuk tujuan minta pendapat atas karya yang dihasilkannya. Biasanya dia meminta AI untuk menginterpretasikan hasil karya lukisannya dan juga meminta masukan dari AI jika diperlukan.

"AI bagi saya teman diskusi. Karena untuk ketemu sama seniman lain terkadang tidak selalu ada kesempatan," ungkapnya.

Pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration tidak hanya menawarkan karya seni rupa, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan sosial. Di tengah berbagai konflik dan persoalan global, karya kolaboratif para seniman SAC mencoba menghadirkan perspektif lain bahwa perdamaian dapat dibicarakan melalui kreativitas dan dialog.

Baca Juga: Disutradarai Hanung Bramantyo, Film Oki & Nirmala Siap Diproduksi, Tayang di Bioskop 2027

Pameran ini mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kornfeld Galerie Berlin, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta sejumlah mitra seni dan budaya. Dukungan tersebut sekaligus memperkuat upaya menghadirkan Jakarta sebagai salah satu ruang penting bagi perkembangan seni rupa dan kolaborasi seni di tingkat internasional.

Bagi SBY Art Community, seni rupa tidak berhenti hanya pada persoalan estetika. Seni juga dapat menjadi ruang untuk membaca perubahan zaman, menyampaikan keresahan, sekaligus merawat harapan tentang masa depan yang lebih baik.

EDITOR: Abdul Rahman