← Beranda
Sajak: Barzakh
Didik WahyudiMinggu, 9 Februari 2025 | 04.16 WIB
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Barzakh

Dan, pastilah ia telah lenyap

dari air matanya

Dari tetek bengek

kecemasan sajak-sajak senja

 


Tak ada tilas pantai

Tak ada bekas luka

Ia mungkin trembesi,

mungkin kuda,

Ia Kresna di padang Kurusetra

Dan luka-luka adalah Arjuna

Yang terpana pada wujudnya

Pada ketiadaannya sendiri juga

 


Sedang aku kesatria buta

Dalam sihir kabut Pambayun

Terlampau gegabah

Aku memasukinya, menyesapnya

Hingga kepala bahasa pecah

Dan kata-kata berserakan

Tinggal tanpa detak, tanpa makna

 


Tidak, kekasih, sejak saat itu

Aku tak mungkin lagi

Baik-baik saja. Beri aku jeda.

Beri aku doa-doa.

(2023)

---

Serentang Pantai

Seseorang telah membuat serentang pantai bagi dirinya sendiri. Ia baringkan senja di sana dan tangannya yang jingga itu mengusap segala luka di matanya.

 


Kapal, ia punya kapal dengan tujuan yang hanya tercatat di kedalaman hatinya. Tujuan yang dicatatnya sendiri bersama sebuah kisah rahasia. Yang mengendap. Yang mengendap, mungkin untuk seluruh sisa napasnya.

 


Seseorang telah membuat

serentang pantai bagi dirinya sendiri. Sungguh, ia ingin pergi ke suatu cinta dari suatu cinta. Keinginan pergi yang aku luput memahami.

(2023–2025)

 

 

DIDIK WAHYUDI adalah penulis, berdomisili di Jombang

EDITOR: Ilham Safutra