Barzakh
Dan, pastilah ia telah lenyap
dari air matanya
Dari tetek bengek
kecemasan sajak-sajak senja
Tak ada tilas pantai
Tak ada bekas luka
Ia mungkin trembesi,
mungkin kuda,
Ia Kresna di padang Kurusetra
Dan luka-luka adalah Arjuna
Yang terpana pada wujudnya
Pada ketiadaannya sendiri juga
Sedang aku kesatria buta
Dalam sihir kabut Pambayun
Terlampau gegabah
Aku memasukinya, menyesapnya
Hingga kepala bahasa pecah
Dan kata-kata berserakan
Tinggal tanpa detak, tanpa makna
Tidak, kekasih, sejak saat itu
Aku tak mungkin lagi
Baik-baik saja. Beri aku jeda.
Beri aku doa-doa.
(2023)
---
Serentang Pantai
Seseorang telah membuat serentang pantai bagi dirinya sendiri. Ia baringkan senja di sana dan tangannya yang jingga itu mengusap segala luka di matanya.
Kapal, ia punya kapal dengan tujuan yang hanya tercatat di kedalaman hatinya. Tujuan yang dicatatnya sendiri bersama sebuah kisah rahasia. Yang mengendap. Yang mengendap, mungkin untuk seluruh sisa napasnya.
Seseorang telah membuat
serentang pantai bagi dirinya sendiri. Sungguh, ia ingin pergi ke suatu cinta dari suatu cinta. Keinginan pergi yang aku luput memahami.
(2023–2025)
DIDIK WAHYUDI adalah penulis, berdomisili di Jombang