JawaPos.com - Tokyo menempati peringkat kedua kota dengan risiko gelembung properti tertinggi di dunia setelah Zurich, Swiss. Harga apartemen seluas 60 meter persegi di dekat pusat Tokyo kini bahkan lebih tinggi dibandingkan pendapatan selama 10 tahun pekerja jasa terampil rata-rata.
Dilansir dari Kyodo, Selasa (29/9), temuan tersebut tercantum dalam UBS Global Real Estate Bubble Index terbaru yang dirilis bank asal Swiss UBS pada pertengahan September. Tokyo dan Zurich menjadi dua kota yang dinilai memiliki risiko tinggi mengalami koreksi harga properti secara signifikan.
Dubai, Seoul, Jenewa dan Lisbon berada satu tingkat di bawahnya dalam kategori risiko meningkat. Miami, yang tahun lalu menempati peringkat tertinggi, juga masuk dalam kategori tersebut.
Di kawasan Asia-Pasifik, Sydney, Hong Kong dan Singapura menjadi tiga kota yang dinilai memiliki risiko moderat.
Menurut UBS, permintaan properti di Tokyo masih ditopang oleh meningkatnya daya beli rumah tangga, migrasi internasional, serta investor asing yang memburu apartemen premium.
Namun, kenaikan harga rumah membuat sebagian warga Tokyo mulai bergeser ke kawasan pinggiran kota dan memilih hunian sewa.
Harga Rumah Makin Jauh dari Pendapatan
Laporan UBS mencatat harga properti di banyak kota mulai semakin tidak sebanding dengan pendapatan masyarakat setempat. Kondisi tersebut membuat kepemilikan rumah sulit dijangkau, terutama di Hong Kong yang menjadi pasar paling tidak terjangkau dalam survei.
Harga rumah di Hong Kong kembali melonjak sejak pertengahan 2025. Kenaikan tersebut antara lain didorong suku bunga kredit yang lebih rendah dan meningkatnya permintaan seiring para profesional dari Tiongkok daratan berpindah ke Hong Kong.
Harga rumah seluas 60 meter persegi di Hong Kong kini setara dengan sekitar 15 tahun pendapatan pekerja jasa terampil rata-rata.
Rasio harga rumah terhadap pendapatan juga telah melampaui 10 tahun di Tokyo, Seoul, Singapura dan sejumlah kota lainnya.
Di Tokyo, permintaan terhadap kondominium berkualitas tinggi di kawasan pusat diperkirakan tetap kuat. Peningkatan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja juga dinilai dapat semakin memperkuat daya beli rumah tangga.
Namun, UBS memperingatkan adanya tanda-tanda bahwa lonjakan harga properti Tokyo saat ini mulai mendekati batasnya.
Kenaikan biaya pembiayaan lebih lanjut juga dapat mengurangi daya tarik kepemilikan rumah dan meningkatkan kemungkinan terjadinya koreksi harga, menurut laporan tersebut.
UBS Global Real Estate Bubble Index edisi ke-12 tersebut menganalisis pasar properti hunian di 23 kota besar di seluruh dunia. Lisbon dan Seoul menjadi dua kota yang baru dimasukkan dalam survei tahun ini.