← Beranda
Rumah Modular Tahan Gempa Ditampilkan di Danantara Housing Expo 2026 
Dinarsa KurniawanSelasa, 1 September 2026 | 19.58 WIB
Inovasi rumah modular tahan gempa ditampilkan di Danantara Housing Expo 2026. (Istimewa)

 

 

JawaPos.com - Percepatan pembangunan hunian menjadi salah satu tantangan dalam merealisasikan Program Tiga Juta Rumah.

Teknologi konstruksi modular ditawarkan sebagai salah satu solusi untuk mempercepat pembangunan rumah sekaligus memenuhi aspek ketahanan terhadap gempa dan ramah lingkungan.

”Kami memberikan dukungan agar Program Tiga Juta Rumah ini bisa terwujud,” kata Director of Engineering and Production WIKA Beton Verly Widiantoro saat ditemui dalam Danantara Housing Expo 2026 di NICE PIK 2 Jakarta.

Menurut Verly, pembangunan rumah dalam jumlah besar membutuhkan metode konstruksi yang mampu memangkas waktu pengerjaan. ”Dengan membangun secara masif, salah satu tantangannya adalah kecepatan,” ujarnya.

Melalui pameran tersebut, WIKA Beton memperkenalkan WHOME, inovasi rumah yang dikembangkan melalui riset kolaboratif bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Teknologi ini menggunakan konsep modular precast. Komponen rumah diproduksi terlebih dahulu di pabrik, kemudian dikirim ke lokasi proyek dan dirakit. ”Inovasi WHOME ini mencoba menjawabnya,” tutur Verly.

Berdasarkan dua kali uji lapangan yang telah dilakukan, struktur rumah dapat diselesaikan sekitar dua hari. Sementara itu, keseluruhan proses hingga rumah dalam kondisi all furnished dapat dikerjakan sekitar 10 hari. ”Sedangkan struktur rumah bisa kami selesaikan sekitar dua hari,” jelasnya.

Selain mengejar kecepatan pembangunan, WHOME dirancang untuk memiliki ketahanan terhadap gempa. Pengembangannya melibatkan BRIN serta tenaga ahli eksternal. "Kami juga mengembangkan fitur tahan gempa,” kata Verly.

Struktur WHOME dikembangkan dengan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Tingkat keamanan strukturnya telah diuji untuk memenuhi standar Kategori Desain Seismik (KDS) D dari Kementerian Pekerjaan Umum.

Aspek lingkungan juga menjadi bagian dari teknologi tersebut. Sejumlah material sisa industri, seperti fly ash dari limbah batu bara dan slag dari limbah besi, dimanfaatkan sebagai bagian dari material bangunan. ”Kami memanfaatkan barang-barang limbah, sehingga itu fitur green-nya,” ujarnya.

Teknologi tersebut telah diuji penerapannya di luar lokasi pameran, salah satunya dalam pembangunan rumah di Aceh Tamiang.
”Di Aceh Tamiang, tantangannya cukup banyak,” ungkap Verly.

Kondisi proyek yang memiliki keterbatasan akses kendaraan, tempat tinggal pekerja, hingga kebutuhan air membuat kecepatan pembangunan menjadi faktor penting.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, WIKA Beton dapat menerapkan konsep mobile plant dengan menempatkan fasilitas produksi lebih dekat dengan lokasi pembangunan. ”Kami bisa menggunakan mobile plant,” katanya.

Dengan konsep tersebut, kapasitas produksi untuk pembangunan rumah di Aceh Tamiang disebut dapat mencapai sekitar 5.000 rumah dalam satu bulan.
”Dengan segala keterbatasan, kami bisa secara cepat membangun rumah di sana,” tutur Verly.

Sementara itu, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan tantangan penyediaan hunian juga berkaitan dengan akses masyarakat terhadap pembiayaan.
”Tantangannya tidak hanya soal pasokan rumah,” kata Rosan.

Karena itu, Danantara mempertemukan ekosistem BUMN properti, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), dan pengembang swasta dalam Danantara Housing Expo 2026. ”Kami berupaya menghadirkan pasokan terbaik dengan harga terjangkau,” ujarnya.

Pameran tersebut juga menawarkan sejumlah kemudahan kepemilikan rumah, termasuk uang muka mulai 1 persen dan tenor pembiayaan panjang. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan