JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya kepemimpinan dalam membawa perubahan. Menurutnya, kemajuan teknologi dan perkembangan zaman tidak serta-merta membuat peran seorang pemimpin menjadi tidak relevan.
AHY mengatakan, generasi muda Indonesia masih memiliki optimisme bahwa kepemimpinan dapat membawa perubahan dalam berbagai bidang. Karena itu, kapasitas seorang pemimpin tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan sebuah bangsa.
“Ada sebuah keinginan sekaligus juga harapan baik dari generasi muda Indonesia yang masih punya optimisme bahwa kepemimpinan itu bisa mengubah banyak hal. Leadership does matter,” kata AHY saat memberikan sambutan dalam peluncuran buku 'Kepemimpinan AHY' di Jakarta, Rabu (23/9).
Ketua Umum Partai Demokrat itu menyinggung pandangan yang menyebut berbagai hal kini dapat berjalan secara otomatis seiring pesatnya perkembangan teknologi. AHY tidak sepakat jika kemajuan teknologi dianggap membuat kapasitas kepemimpinan, termasuk kemampuan manajerial, menjadi tidak terlalu penting.
Baca Juga: Komitmen BPJS Hadirkan Layanan JKN yang Komunikatifar
“Ketika ada mengatakan sekarang itu sebetulnya segalanya autopilot dengan kemajuan teknologi, dengan kemajuan zaman, seolah tidak terlalu penting kapasitas kepemimpinan termasuk manajerial dalam organisasi, dalam masyarakat. Saya termasuk orang yang paling tidak setuju dengan tesis itu,” ujarnya.
Menurut AHY, pentingnya kepemimpinan dapat dirasakan melalui pengalaman nyata dalam kehidupan. Dia menyebut setiap orang yang hadir dalam berbagai lingkungan organisasi maupun masyarakat tentu memiliki pengalaman yang dapat menjadi bukti bahwa kepemimpinan tetap memiliki arti.
“Saya dan kita semua yang hadir di ruangan ini juga tentu bisa memiliki testimoni berdasarkan pengalaman empiris masing-masing, bahwa kepemimpinan itu bermakna,” tutur AHY.
AHY menilai kepemimpinan dapat menjadi faktor yang mengubah banyak hal. Meski teori mengenai kepemimpinan dapat dipelajari melalui berbagai buku dan penelitian, kemampuan memimpin pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan teori.
“Itu justru yang bisa mengubah banyak hal. Bukan hanya sekadar teori, tentu bisa dipelajari, ada ribuan judul buku tentang kepemimpinan. Bagi yang menulis disertasi, ada banyak sekali jurnal tentang leadership dari berbagai penjuru dunia. Tapi pada akhirnya kepemimpinan juga adalah sebuah seni,” jelasnya.
Karena itu, AHY mendorong lahirnya pemimpin yang memiliki kompetensi dan mampu menghadirkan solusi. Menurutnya, kemampuan tersebut tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan hasil yang diperoleh secara cepat atau instan.
“Pemimpin yang kompeten, pemimpin yang bisa menghadirkan solusi, bukan yang instan. Justru di sinilah mari kita tergerak untuk terus menempa diri kita, karena sesuatu yang instan biasanya juga tidak kokoh,” beber AHY.
Baca Juga: Cegah Petani Tebu Merugi Terus, DPR Minta Pemerintah Tunjuk BUMN untuk Impor Gula Rafinasi
AHY mengakui sesuatu yang instan tidak selalu berarti buruk. Dia bahkan memberikan perumpamaan sederhana mengenai kopi dan mi instan yang tetap dinikmati banyak orang. Namun, dalam konteks pembentukan kepemimpinan dan transformasi, dia menilai proses panjang tetap memiliki nilai penting.
“Instan bukan berarti tidak mungkin baik, kopi instan juga saya nikmati kopi instan, mi instan siapa yang enggak menikmati? Tapi juga tidak ada salahnya kalau kita melewati sebuah perjalanan, sebuah transformasi, karena yang kita nikmati bukanlah sekadar destinasi-nya, tapi perjalanannya, ups and downs-nya, pasang dan surutnya, jatuh dan bangunnya, suka dan dukanya. That is the real meaning of transformation,” pungkasnya.