JawaPos.com - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, menilai Proyek Strategis Nasional (PSN) pengembangan kawasan lumbung pangan (food estate) berupa pencetakan sawah baru seluas satu juta hektare di Wanam, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, merupakan langkah penting untuk mendukung ketahanan pangan nasional dalam jangka panjang.
Pernyataan itu disampaikan Panggah di tengah munculnya film Pesta Babi yang belakangan ramai diperbincangkan, karena dinilai menyerang program ketahanan pangan nasional yang diusung Presiden Prabowo Subianto.
"Cetak sawah baru ini penting untuk ketahanan pangan jangka panjang, untuk antisipasi kebutuhan pangan yang meningkat, dan menghindari ketergantungan pangan dari negara lain," kata Panggah kepada wartawan, Jumat (21/5).
Legislator Fraksi Partai Golkar itu menegaskan, upaya mencapai kedaulatan pangan juga perlu dilakukan melalui optimalisasi lahan yang sudah tersedia, khususnya untuk target jangka pendek dan menengah.
Baca Juga: Gangguan Listrik Massal Lumpuhkan Sumbagut, PLN Ungkap Biang Keroknya
"Selain itu untuk capaian ketahanan pangan dalam jangka pendek dan menengah secara simultan juga dengan mengoptimalkan lahan yang ada," jelasnya.
Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale tersebut menggambarkan perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan dalam mempertahankan tanah leluhur dan hutan adat dari ancaman proyek pembangunan berskala besar.
Namun, lokasi hutan dan lahan yang ditampilkan dalam film disebut bukan bagian dari PSN maupun kawasan Wanam yang menjadi lokasi program cetak sawah satu juta hektare.
Pernyataan senada disampaikan Direktur Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan. Ia menilai film Pesta Babi dapat menimbulkan persoalan apabila digunakan untuk kepentingan di luar karya seni.
"Yang salah adalah jika hal tersebut dilakukan dengan tujuan delegitimasi dan ageda politik terselubung," ujar Iwan.
Iwan menegaskan, melihat kondisi global saat ini, proyek PSN cetak sawah satu juta hektare di Wanam seharusnya tetap dilanjutkan karena dinilai memiliki visi jangka panjang terkait ketahanan pangan nasional.
"Kebijakan PSN Wanam ini cukup visioner, karena ke depan negara global pun akan fokus dengan isu pangan mereka masing-masing. Karena, kalau isunya malah Indonesia defisit pangan, itu lebih bahaya lagi," beber Iwan.
Ia menekankan, program cetak sawah di Wanam diproyeksikan untuk memperkuat kemandirian pangan nasional melalui berbagai manfaat, seperti pencapaian swasembada beras, penciptaan lapangan kerja baru di pedesaan, peningkatan pendapatan masyarakat dan petani hingga 20–30 persen, serta pemanfaatan lahan tidur menjadi kawasan produktif.
Terkait isu lingkungan dan hutan, Iwan meyakini pemerintah telah memiliki kajian serta mengikuti aturan perundang-undangan yang berlaku dalam menjalankan proyek tersebut.
"Dalam situasi tekanan global yang berefek ke kondisi ekonomi Indonesia saat ini, kita perlu membangun narasi-narasi optimisme dan bukan malah melakukan provokasi," pungkasnya.