← Beranda
Said Abdullah Sebut Jawa Timur Basisnya Ijo-Abang, Ajak NU Jadikan PDIP Rumah Politik
Muhammad RidwanSenin, 13 April 2026 | 06.28 WIB
Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, dalam acara bihalal DPD PDIP Jatim, Minggu (12/4). (Istimewa)

JawaPos.com - Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menegaskan pentingnya memahami jati diri masyarakat Jawa Timur sebagai pijakan dalam merumuskan arah perjuangan ke depan. Ia mengajak seluruh elemen untuk merefleksikan diri, serta bagaimana semangat kolektif dibangun untuk menjawab tantangan zaman.

Menurut Said, refleksi tersebut menjadi semakin relevan di tengah kondisi dunia yang kian dipenuhi kepalsuan. Ia menekankan bahwa momentum Syawal seharusnya menjadi pengingat akan nilai ketulusan dan kejujuran, sekaligus menjadi pedoman dalam bersikap di kehidupan sosial maupun politik.

“Pertama tentang jati diri kita di Jawa Timur, siapa kita, apa masalah kita bersama, dan bagaimana elan perjuangan ke depan. Kedua, tentang wajah dunia yang makin dipenuhi kepalsuan, padahal Syawal itu pesan ketulusan dan kejujuran, serta bagaimana kita harus bersikap,” kata Said Abdullah, Minggu (12/4).

Baca Juga: Sikap 'Agak Lain' Jenderal Uganda: Klaim Siap Kirim 100 Ribu Tentara untuk Bela Israel dan Hancurkan Iran

Ia menjelaskan, Jawa Timur sejak lama dikenal sebagai basis “Ijo-Abang”, yang merepresentasikan dua kekuatan besar dalam masyarakat. Menurutnya, Nahdlatul Ulama (NU) dan PDIP memiliki akar di Jatim.

“Jawa Timur ini basisnya Ijo-Abang (hijau-merah), santri dan abangan, santri cerminan dari kekuatan Nahdlatul Ulama (NU), abang menandakan kekuatan nasional, PDI Perjuangan. Keduanya menjadi akar politik hingga ke kampung kampung di Jawa Timur,” ujarnya.

Namun, Said melihat bahwa pembelahan sosial yang dulu digambarkan oleh Clifford Geertz kini semakin melebur. Ia menyebutkan, dalam berbagai survei nasional, pemilih yang mengaku sebagai bagian dari NU justru banyak menyalurkan suaranya kepada PDI Perjuangan.

“Oleh sebab itu, PDI Perjuangan, apalagi di Jawa Timur tidak akan meninggalkan NU,” tegasnya.

Baca Juga: Tenis Putri Indonesia Lolos Playoff Piala Billie Jean King, PELTI Siapkan Program Lanjutan

Said juga menyoroti kesamaan kondisi sosial antara kelompok santri dan abangan. Ia menilai perbedaan di antara keduanya sangat tipis, sementara tantangan yang dihadapi justru sama.

“Santri dan abangan ini hanya beda sehelai bulu saja, yang satu rajin sholat, yang satu kurang rajin sholat. Tetapi nasibnya sama, sama-sama miskin, sama-sama mayoritas yang terbelakang dari sisi pendidikan, sama-sama susah mendapatkan pekerjaan yang layak, pokoknya sama-sama kisah sedih isinya. Banyak kesamaannya, minim perbedaanya,” bebernya.

Ketua DPP PDIP itu juga mengungkapkan pembagian peran antara organisasi keagamaan dan partai politik. Menurutnya, NU memiliki tugas sosial dalam memberdayakan umat, sementara PDI Perjuangan berperan dalam memperjuangkan kebijakan publik yang berpihak pada rakyat.

Ia menilai, NU dan PDI Perjuangan memiliki kesamaan cita-cita ideologis, terutama dalam menjunjung nilai-nilai Islam moderat atau Wasathiyah. Nilai tersebut mencerminkan prinsip keadilan, keseimbangan, dan toleransi dalam kehidupan berbangsa.

Ia menekankan, nilai-nilai Islam Wasathiyah juga menjadi pedoman dalam langkah politik PDI Perjuangan. Ia menolak keras pendekatan keagamaan yang menimbulkan rasa takut, terutama terhadap kelompok minoritas.

“Islam Wasathiyah ini menjadi pedoman langkah langkah politik PDI Perjuangan, kita menolak Islam dihadirkan secara menakutkan, terutama dihadapan terhadap kelompok minoritas, padahal mereka saudara sebangsa sendiri. Keislaman kita harus memayungi, memberi rahmat, dan kedamaian,” tuturnya.

Baca Juga: Kian Memanas, Pasukan Israel Diperintahkan Bersiap Melawan Iran Jika Perang Berlanjut

Said juga mengungkapkan kegembiraannya terhadap kehadiran tokoh-tokoh NU yang bergabung dengan PDI Perjuangan. Ia menyebut sejumlah nama sebagai contoh, baik di tingkat daerah maupun pusat.

“Dengan demikian, kami senang sekali bila ada tokoh tokoh NU ikut menjadikan PDI Perjuangan sebagai rumah politiknya, kami di Jawa Timur ada Gus Wahab, di pusat ada KH Dr Abdullah Aswar Anas, dan masih banyak lagi, saya berharap para kiai, gus, bu nyai dan ning ikut ber-ijtihad politik, membersamai PDI Perjuangan, agar tadinya anak anak ini kurang baik ibadahnya, kemudian menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Said menekankan bahwa keterlibatan dalam dakwah sekaligus aktivitas politik bersama PDI Perjuangan memiliki nilai yang besar.

“Jadi, berdakwah dan membersamai PDI Perjuangan itu ganjarannya berlipat lipat,” pungkasnya.

EDITOR: Bintang Pradewo
Tags:nupdip