← Beranda
Melihat Pentas Politik Pilgub di Papua Induk, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan
Ilham SafutraRabu, 7 Agustus 2024 | 04.28 WIB
Cagub Papua Selatan Yusak Yaluwo (tengah) bersama Cagub Papua Tengah Willem Wandik (kanan). (Istimewa)

JawaPos.com - Pemilihan gubernur (Pilgub) di Pilkada Serentak 2024 menjadi pesta demokrasi penuh makna di Papua. Sebab, terdapat beberapa provinsi yang menggelar Pilgub di provinsi paling timur Indonesia itu. Mulai dari Papua Induk, Papua Pegunungan, Papua Tengah, hingga Papua Selatan.

Menjelang hari pendaftaran sejumlah tokoh setempat terus mengatur kekuatan agar mendapat dukungan dari partai politik (parpol) yang memiliki kursi di DPRD provinsi setempat.

Peneliti dan Analis Politik dan Universitas Paramadina Herdi Sahrasad menuturkan, konfigurasi politik setiap provinsi di Papua memiliki kekhasan sendiri. Untuk Pilgub Papua Pegunungan, dukungan Partai Gerindra kepada calon Gubernur John Tabo dinilai bakal menguatkan soliditas Koalisi Indonesia Maju (KIM) dan berpotensi meraih kemenangan.

"Ajakan Wasekjen DPP Golkar Dereck Loupatty kepada Gerindra untuk bergabung mengusung John Tabo perlu dicermati," Herdi kepada wartawan di Jakarta pada Selasa (6/8).

Untuk diketahui, peta politik di Pilgub Papua Pegunungan terdapat kompetisi antara John Tabo dan Befa Yigibalom. John Tabo sudah memastikan wakilnya adalah Ones Pahabol. Dia pun mengklaim telah mengantongi rekomendasi dari Golkar dan Demokrat. Sedangkan, Befa Yigibalom mengantongi rekomendasi dari Nasdem, PKS, dan Perindo.

Menurut Herdi, kekuatan KIM yang solid berpengaruh terhadap John Tabo. Sebab, dia dikenal sebagai sosok yang bekerja keras untuk pemenangan Prabowo-Gibran dalam Pilpres 2024. Ketika itu John Tabo merupakan ketua tim pemenangan Prabowo-Gibran di Papua Pegunungan.

Ditegaskan Herdi, dalam literatur ilmu politik dikenal istilah "quid pro quo" dan "Reciprocal Support". Kedua istilah itu menggambarkan konsep timbal balik dalam politik. Dukungan yang diberikan pada suatu waktu pantas dibalas dengan dukungan yang setara di waktu lain.

Di antara semua calon, hanya Tabo yang memiliki kedekatan historis dan emosional dengan Prabowo sebagai presiden terpilih. Kedekatan ini akan memudahkan penerjemahan kebijakan nasional Prabowo di Provinsi Papua Pegunungan, memastikan sinergi antara pemerintahan pusat dan daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Herdi menganalisis kemungkinan besar Befa Yigibalom akan mengubah strategi politik. Ada potensi dia mengganti calon wakil agar lebih kompetitif.

Penggantian calon wakil dalam politik praktis adalah strategi yang biasa digunakan untuk meningkatkan peluang kemenangan, merespons perubahan situasi, atau mengatasi masalah yang muncul. Proses itu melibatkan penilaian menyeluruh dan evaluasi internal.

Strategi baru Befa ini sangat beralasan, mengingat Natan Bahabol dulunya digadang-gadang akan menjadi wakilnya dinilai tidak akan menyumbang elektoral secara signifikan. Sebab, ketokohannya masih di bawah Ones Pahabol.

Selain itu, ada penolakan sejumlah kader Gerindra jika Natan menjadi wakil Befa. Meski Natan merupakan kader Gerindra, tapi resistensi terhadapnya di internal Gerindra sangat kuat jika dia digandeng Befa, bahkan hingga ke level elit.

Hal itu akibat persaingan keras di Pilpres kemarin dimana Befa berada di kubu 01 berhadapan dengan John Tabo dan kader Gerindra di kubu 02. "Kabarnya Befa akan menggandeng Usman Wanimbo, mantan Bupati Tolikara dua periode sebagai Calon Wakil Gubernur," jelas Herdi.

Usman merupakan pilihan paling realistis bagi Befa karena basis massanya lebih jelas dan lebih mampu bersaing dengan lawan politik, meski harus meninggalkan Natan Pahabol.

Koalisi Besar di Papua Tengah

Sementara itu, untuk Pilgub Papua Tengah Herdi melihat ada penyatuan dua kekuatan besar. Willem Wandik dan Natalis Tabuni yang tadinya maju sendiri-sendiri diprediksi akan menyatu dan mendapat dukungan dari mayoritas parpol.

Willem Wandik sebelumnya menyatakan bergabung dengan Gerindra dan telah mendapat Kartu Tanda Anggota (KTA). Dengan menggandeng cawagub dari Nasdem Natalis Tabuni, pasangan itu diprediksi mendapat dukungan 10 parpol. Yaitu, Gerindra, Nasdem, PKB, Golkar, Hanura, Demokrat, PKS, Perindo, PSI, dan Garuda.

"Kemungkinan besar, pasangan Willem Wandik - Natalis Tabuni akan menghadapi calon gubernur yang akan diusung PDIP," ujar Herdi.

Melihat banyaknya partai yang mendukung Wandik dan besarnya kekuatan massa yang dimiliki, Herdi yakin Pilgub di Papua Tengah akan berlangsung tidak seimbang dengan kemenangan mutlak di pihak Wandik.

Papua Selatan dan Papua Induk

Untuk peta politik Pilgub di Papua Selatan, Herdi menyoroti kecerdikan Yusak Yaluwo yang menggandeng kader organik Partai Gerindra Otniel Hindom sebagai cawagub. Koalisi Golkar-Gerindra ini diprediksi akan menghadapi Apolo Safanjo yang merupakan Pj Gubernur Papua Selatan (PDIP dan PKS) dan Romanus Mbara (Nasdem dan PAN)

"Dari ketiga pasangan calon tersebut yang paling kuat masih Yusak Yaluwo - Otniel Hindom," katanya.

Untuk Papua Induk, ada empat poros yang akan bertanding memberebutkan kursi gubernur. Partai Gerindra diprediksi akan mengusung kader sendiri Yan Permenas Mandenas yang kini menjabat anggota DPR RI berpasangan dengan Yunus Wonda dari Demokrat. "PAN dan PSI kemungkinan akan turut bergabung dengan pasangan Yan Mandenas - Yunus Wonda," katanya.

Pasangan ini akan melawan tiga kandidat dari poros lainnya yaitu Paulus Waterpauw, Mathius Fakhiri, dan Benhur Tomi Mano.

Menurut Herdi, secara keseluruhan, para gubernur terpilih nantinya akan memiliki legitimasi politik yang kuat karena dipilih rakyat langsung dan akan memberi corak kepemimpinan yang baru bagi Papua.

"Kita berharap Pilkada berlangsung lancar dan partisipasi politik masyarakat tinggi, apalagi Pilkada kali ini adalah yang pertama sejak Pemekaran Papua menjadi enam provinsi," demikian Herdi Sahrasad.

EDITOR: Ilham Safutra