← Beranda
Pakar Sarankan Partai-partai di Luar Pengusung Prabowo-Gibran Menyatakan Diri Jadi Oposisi Jokowi
Sabik Aji TaufanJumat, 19 Januari 2024 | 15.33 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri acara Konvensi Kampus XXIX dan Temu Tahunan XXV Forum Rektor Indonesia (FRI) 2024, di Graha UNESA, Surabaya, Senin (15/01/2024).
JawaPos.com - Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting, Sirojudin Abbas mendorong partai-partai di luar pengusung pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka agar menyatakan diri menjadi oposisi pemerintah Joko Widodo (Jokowi).
 
Dorongan ini mendasari kritik banyak pihak yang menilai demokrasi saat ini dalam kondisi mengkhawatirkan.
 
Baca Juga: Daihatsu Klaim Pertahankan Posisi Nomor 2 Penjualan Otomotif Nasional Selama 15 Tahun Berturut-turut
 
Sirojudin menilai, dibutuhkan pelembagaan oposisi kritis untuk menyeimbangkan demokrasi. Menurutnya, publik bisa mendorong sejumlah partai politik untuk memainkan peran itu.
 
“Saat situasi memanggil seperti saat ini, diharapkan ada pelembagaan oposisi yang lebih steril. Misalnya, kenapa tidak kita dorong saja PDIP dengan kekuatan yang dimiliki untuk mulai mengambil sikap jelas dalam konteks penyelamatan demokrasi Indonesia ke depan,” ujar Sirojudin dalam webinar nasional yang digelar Moya Institute bertajuk Demokrasi Indonesia Terancam?, Kamis (18/1) kemarin.
 
Baca Juga: Lagi Jalani Program Diet Tapi Tetap Ingin Ngemil, Berikut 10 Camilan Rendah Kalori yang Boleh Dikonsumsi
 
Sirojudin menyampaikan, oposisi terhadap praktik kekuasaan pemerintah harus dilakukan. Oposisi pun langkah konstitusi yang dibolehkan.
 
“Ini tanda problemnya sudah sangat serius. Publik masih bisa mendorong institusi politik sebesar PDIP, Nasdem, PKS, PPP, dan PKB mengambil jalan tegas oposisi untuk menyelamatkan demokrasi. Ini dipastikan akan mendapat dukungan dari masyarakat sipil, mahasiswa, dan dunia internasional,” tegasnya.
 
Baca Juga: TKN Jelaskan Maksud Prabowo Soal Sanksi Tidak Lapor LHKPN Bagi Penyelenggara Negara
 
Sementara, Pendiri Setara Institute, Hendardi menilai, vetokrasi mengalami penguatan di era pemerintahan Jokowi, merujuk pada veto dan pemblokiran aspirasi kolektif masyarakat oleh sekelompok orang. 
 
"Vetokrasi di era Jokowi belakangan malah menjadikan proses legislasi di DPR menjadi ugal-ugalan hingga meruntuhkan independensi Mahkamah Konstitusi;" pungkasnya.
EDITOR: Banu Adikara