← Beranda
Peluang Michael Oliver Pimpin Partai Final Piala Dunia 2026 Semakin Tipis, Ini Alasannya!
Aprillia JPSabtu, 11 Juli 2026 | 12.06 WIB
Michael Oliver terancam tak bisa pimpin laga final Piala Dunia 2026. (@michael.oliver_ref/Instagram)

 

JawaPos.com - Wasit asal Inggris Michael Oliver mencatatkan sejarah sebagai wasit Inggris dengan jumlah pertandingan terbanyak di Piala Dunia saat memimpin laga perempat final antara Spanyol dan Belgia pada Sabtu (11/7) di Los Angeles. Pertandingan itu menjadi laga ketujuh Oliver di Piala Dunia edisi 2026.

Meskipun demikian, peluang Oliver untuk memimpin partai final Piala Dunia pada 20 Juli di MetLife Stadium terbilang kecil. Bukan karena faktor performa, melainkan dipengaruhi pertimbangan geopolitik yang menjadi bagian dari kebijakan penunjukan wasit oleh FIFA.

Sesuai regulasi, seorang wasit tidak diperkenankan memimpin pertandingan yang melibatkan negaranya sendiri guna menghindari konflik kepentingan dan menjaga netralitas. Namun, dalam kasus Oliver dan rekan senegaranya Anthony Taylor, pembatasan tidak hanya berlaku untuk Inggris, tetapi juga terhadap Argentina.

Baca Juga: Singkirkan Belgia, Gol Mikel Merino antar Timnas Spanyol ke Semifinal Piala Dunia Hadapi Prancis

Larangan tersebut berkaitan dengan sejarah konflik antara Inggris dan Argentina dalam Perang Falklands pada 1982. Konflik yang berlangsung selama 74 hari itu berakhir dengan kemenangan Inggris dan meninggalkan dampak politik yang masih terasa hingga saat ini.

Kedaulatan Kepulauan Falklands tetap menjadi isu sensitif yang tinggi di Argentina, bahkan terus ditegaskan Presiden Argentina Javier Milei. Dampaknya, wasit asal Inggris tidak diizinkan memimpin pertandingan yang melibatkan Argentina, begitu pula sebaliknya.

Aturan itu membuat peluang Oliver maupun Taylor untuk memimpin final bergantung pada hasil pertandingan lain. Oliver dan Taylor hanya akan dipertimbangkan jika Norwegia atau Swiss berhasil melaju ke final, mengingat Inggris dan Argentina berada di jalur yang sama dan berpotensi bertemu di semifinal.

Baca Juga: Arema FC Sampaikan Duka atas Wafatnya Tokoh Bonek Andi Peci, Tekankan Persaudaraan di Atas Rivalitas

Dilansir dari The Athletic, situasi serupa juga pernah dialami Anthony Taylor pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Saat itu, Taylor tampil impresif dan masuk kandidat wasit final, tetapi gagal terpilih karena Argentina melaju hingga partai puncak melawan Prancis.

Dalam proses penunjukan wasit, FIFA menggunakan pendekatan berbasis kinerja sebagai faktor utama. Namun, pertimbangan geopolitik juga memainkan peran penting untuk menghindari potensi bias atau persepsi ketidakadilan dari tim yang bertanding.

Contoh lain dari kebijakan itu ialah wasit asal Amerika Serikat yang tidak ditugaskan untuk memimpin pertandingan yang melibatkan Iran dan sebaliknya. Selain itu, wasit juga tidak diperkenankan memimpin laga yang berkaitan langsung dengan jalur kompetisi negaranya.

Pada Piala Dunia 2026, total 160 ofisial pertandingan telah dipilih. Penugasan mereka ditentukan secara kasus per kasus oleh tim yang dipimpin kepala wasit FIFA Pierluigi Collina yang memiliki keputusan akhir dalam setiap penunjukan.

Pendekatan itu juga berlaku di level kompetisi domestik. Di Liga Inggris, misalnya, wasit tidak diperbolehkan memimpin pertandingan klub yang memiliki keterkaitan personal dengan mereka.

Michael Oliver yang berasal dari wilayah Timur Laut Inggris, tidak diizinkan memimpin pertandingan Newcastle United atau Sunderland. 

Baca Juga: Resmi! Achmad Jufriyanto Jadi Staf Pelatih Persib Bandung, Awali Karir Baru Bersama Igor Tolic

Sementara itu, kebijakan berbasis geopolitik itu menuai kritik. Mantan wasit Premier League Graham Scott menilai aturan tersebut sudah saatnya ditinjau ulang.

Menurut Scott, wasit profesional dilatih untuk bersikap netral dan tidak seharusnya dibatasi oleh rivalitas sejarah atau konflik masa lalu. “Sepak bola seharusnya sudah lebih dewasa. Wasit hanya melihat warna jersey, bukan sejarah konflik,” ujar Scott.

Dia bahkan menyebut situasi itu sebagai hal yang tidak masuk akal. Sebab, banyak wasit saat ini tidak memiliki keterkaitan langsung dengan konflik yang terjadi puluhan tahun lalu.

Baca Juga: Widodo C Putro Pimpin Latihan Perdana PSIS Semarang, Manajemen Bidik Promosi ke Super League Musim Ini

Meskipun demikian, perubahan kebijakan tampaknya belum akan terjadi dalam waktu dekat. Terutama di tahap akhir turnamen sebesar Piala Dunia.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah