← Beranda
Semua Berawal dari Sistem: Rahasia Jepang Unggul dari Korea Selatan di Sepak Bola Dunia
Andre Rizal HanafiMinggu, 28 Juni 2026 | 18.05 WIB
Timnas Jepang akan bertemu Brasil di babak 32 besar Piala Dunia 2026. (Instagram.com/@jfa_samuraiblue) 

 

JawaPos.com - Perjalanan Jepang dan Korea Selatan di Piala Dunia kali ini memperlihatkan kontras yang sulit diabaikan.

Jepang mampu melewati fase grup tanpa menelan kekalahan, sementara Korea Selatan harus berjuang hingga akhir dan bergantung pada hasil pertandingan tim lain untuk menjaga asa melaju ke babak berikutnya.

Perbedaan hasil tersebut memunculkan banyak kritik terhadap pelatih Korea Selatan, Hong Myung-bo.

Baca Juga: Panama Menyusul Indonesia, Masuk Daftar Negara yang Gagal Cetak Gol di Piala Dunia

Namun, jika melihat lebih dalam, persoalannya tampaknya tidak sesederhana pergantian pelatih. Kesenjangan yang kini terlihat merupakan hasil dari proses panjang yang dibangun dengan pendekatan berbeda oleh kedua negara.

Salah satu indikator paling mencolok adalah jumlah pemain yang berkarier di liga-liga elite Eropa. Jepang kini memiliki sekitar 62 pemain yang tersebar di delapan kompetisi utama Benua Biru. Sementara itu, Korea Selatan hanya memiliki sekitar 13 pemain.

Di Premier League, Jepang memiliki empat pemain aktif, sedangkan Korea Selatan hanya diwakili oleh Hwang Hee-chan.

Baca Juga: Korea Selatan Tersingkir dari Piala Dunia 2026, RD Kongo Lolos Dramatis ke 32 Besar

Di Bundesliga, Jepang memiliki sekitar 15 pemain, sedangkan Korea hanya empat. Bahkan di Liga Belgia, jumlah pemain Jepang mencapai 19 orang, menunjukkan betapa luasnya penyebaran talenta mereka di kompetisi Eropa.

Banyaknya pemain yang tampil secara rutin di level tertinggi membuat kualitas dan pengalaman mereka berkembang lebih cepat.

Para pemain Jepang terbiasa menghadapi lawan dengan intensitas tinggi setiap pekan, sehingga ketika kembali memperkuat tim nasional, mereka membawa standar permainan yang lebih kompetitif.

Keberhasilan tersebut bukanlah sesuatu yang muncul secara instan. Sejak 2005, Asosiasi Sepak Bola Jepang telah menetapkan target jangka panjang untuk menjadi juara dunia pada tahun 2050.

Target tersebut kemudian diterjemahkan menjadi berbagai kebijakan yang melibatkan federasi, klub, hingga para pemain.

Klub-klub J.League tidak ragu melepas pemain mudanya ke Eropa, bahkan ketika harus kehilangan aset penting.

Baca Juga: Hasil RD Kongo vs Uzbekistan 3-1: The Leopards Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026

Prioritas mereka bukan hanya keuntungan finansial, melainkan mempercepat perkembangan pemain agar mampu bersaing di level tertinggi dunia.

Di sisi lain, para pemain Jepang juga dikenal berani mengambil tantangan baru. Banyak yang memilih kesempatan berkembang di Eropa dibanding bertahan dengan kontrak bernilai besar di dalam negeri. Budaya tersebut membuat regenerasi pemain terus berjalan.

Langkah Jepang juga tidak berhenti pada pengembangan pemain. Baru-baru ini, inisiatif federasi mereka mendorong kerja sama antara AFC dan UEFA terkait pengakuan lisensi kepelatihan.

Baca Juga: Jadwal Afrika Selatan vs Kanada di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Kick-off Jam Berapa?

Kesepakatan itu membuka peluang lebih besar bagi pelatih Jepang untuk bekerja, belajar, dan menimba pengalaman langsung di Eropa.

Sebaliknya, Korea Selatan masih lebih banyak mengandalkan program pelatihan jangka pendek atau kesempatan yang bergantung pada jaringan pribadi. Hal tersebut membuat proses transfer ilmu berlangsung lebih lambat.

Korea Selatan memang masih memiliki pemain kelas dunia seperti Son Heung-min. Namun, keberadaan satu atau dua bintang belum cukup untuk menjaga daya saing sebuah tim nasional dalam jangka panjang.

Sebaliknya, Jepang berhasil membangun sistem yang mampu melahirkan pemain berkualitas secara berkesinambungan tanpa harus bergantung pada satu sosok. Itulah yang kini menjadi pembeda terbesar antara kedua negara.

Hasil di Piala Dunia kali ini menjadi gambaran bahwa keberhasilan sepak bola modern tidak hanya ditentukan oleh kualitas individu ataupun pergantian pelatih.

Fondasi yang dibangun melalui visi jangka panjang, pembinaan yang konsisten, serta keberanian berinvestasi pada masa depan menjadi faktor utama yang membuat Jepang kini selangkah, bahkan beberapa langkah, berada di depan Korea Selatan.

EDITOR: Banu Adikara