JawaPos.com - Timnas Iran harus menelan kekecewaan setelah bermain imbang 1-1 melawan Mesir dalam laga terakhir Grup G Piala Dunia 2026. Pelatih Iran Amir Ghalenoei mengungkapkan ketidakberuntungan dan situasi sulit yang dihadapi timnya sepanjang turnamen.
Dalam laga yang berlangsung tegang di Seattle pada Sabtu (27/6), Iran sebenarnya nyaris mencetak sejarah. Bek Shoja Khalilzadeh sempat mencetak gol pada menit ke-93 yang dianggap sebagai gol kemenangan. Para pemain Iran pun langsung melakukan selebrasi.
Khalilzadeh bahkan melepas jersey dan merayakan gol bersama rekan-rekannya. Namun, harapan itu pupus setelah wasit menganulir gol lewat tinjauan VAR karena offside yang sangat tipis, hanya selisih beberapa milimeter dari posisi kaki pemain.
Baca Juga: Timnas Tanjung Verde Lolos ke Babak 32 Besar, Vozinha Tak Sabar Hadapi Argentina dan Lionel Messi
Tak hanya itu, Iran juga hampir mencetak gol dramatis lainnya di masa tambahan waktu lewat sundulan Saeid Ezatolahi. Sayangnya, bola hanya membentur mistar gawang.
Hasil itu pun membuat Mesir lolos dari fase grup Piala Dunia untuk pertama kalinya. Mesir memastikan langkah ke babak 32 besar dan akan menghadapi Australia pada babak berikutnya.
Ghalenoei mengaku menerima keputusan teknologi VAR, tetapi tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Sang pelatih menilai timnya kurang beruntung dalam momen krusial.
Baca Juga: Timnas Uruguay Gugur di Fase Grup Piala Dunia, Marcelo Bielsa Pilih Salahkan Diri Sendiri
“Semua berdasar aturan dan teknologi, saya menerimanya. Namun kami sangat tidak beruntung. Hanya karena milimeter, gol kami dianulir. Itu memang adil, tetapi tetap menyakitkan,” ujar dia dalam konferensi pers dikutip dari ESPN.
Selain faktor di lapangan, pelatih Iran itu juga menyoroti kondisi nonteknis yang dinilai sangat merugikan timnya. Iran harus memindahkan base camp dari Arizona ke Tijuana, Meksiko, menjelang turnamen akibat situasi perang dengan Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah.
“Sebelumnya, saya mengira kami adalah tim yang tertindas, tetapi saya menyadari bahwa kami juga tim yang kurang beruntung,” kata Ghalenoei.
Akibatnya, tim Iran harus bolak-balik terbang dari Meksiko ke Amerika Serikat untuk menjalani pertandingan. Mereka bahkan hanya tiba sehari sebelum laga melawan Selandia Baru dan Belgia, lalu langsung kembali setelah pertandingan selesai. Kondisi itu dinilai mengganggu pemulihan fisik pemain.
“Setelah pertandingan, tubuh berada dalam kondisi lemah. Namun kami harus langsung terbang tiga jam kembali ke Meksiko. Itu sangat menghambat proses pemulihan. Ini sudah terjadi tiga kali dan perlakuan ini sangat buruk bagi kami,” kata Ghalenoei.
Meskipun demikian, Ghalenoei tetap memberikan apresiasi kepada para pemainnya. Pelatih berusia 62 tahun itu menilai performa tim Iran tetap membanggakan di tengah berbagai keterbatasan.
“Meskipun demikian, kami berhasil tampil. Dunia kini bangga terhadap Iran dan tim kami,” ujar Ghalenoei.
Dia juga mendesak FIFA untuk bersikap lebih tegas terhadap tuan rumah agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Dia menyebut Presiden FIFA Gianni Infantino telah berupaya membantu, tetapi tanggung jawab utama tetap berada pada negara penyelenggara.
“Saya tahu Infantino telah berupaya semaksimal mungkin untuk meminimalkan masalah yang kami hadapi, tetapi negara tuan rumahlah yang tidak memperlakukan kami dengan baik. Saya mendesak FIFA agar hal ini tidak terulang lagi. Saya mendesak Bapak Infantino untuk bersikap tegas terhadap pihak tuan rumah,” tegas Ghalenoei.
Sementara itu, berdasar regulasi FIFA, perjalanan tim dari base camp ke lokasi pertandingan satu hari sebelum laga memang merupakan prosedur standar. Namun, kondisi khusus yang dialami Iran membuat aturan itu menjadi lebih memberatkan.
Hasil imbang itu membuat Iran belum dipastikan tersingkir. Mereka saat ini berada di peringkat ketiga klasemen Grup G dengan tiga poin dan selisih gol nol. Iran masih harus menunggu hasil pertandingan lain untuk mengetahui apakah mereka dapat lolos ke 32 besar sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.