← Beranda
Digdaya di Kejuaraan Asia Melempemg di Panggung Dunia, Mengapa Negara Asia Barat kesulitan di Pentas Piala Dunia
Andre Rizal HanafiKamis, 25 Juni 2026 | 07.28 WIB
Timnas Qatar tampil di piala dunia 2026. (sportskeeda)

 

JawaPos.com - Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan perbedaan nyata antara persaingan di level Asia dan tantangan yang harus dihadapi saat memasuki panggung sepak bola dunia. Setelah matchday kedua fase grup selesai, sejumlah wakil Asia Barat mulai kehilangan peluang untuk melaju ke babak berikutnya.

Situasi ini kembali memunculkan perdebatan yang hampir selalu muncul setiap edisi Piala Dunia. Di media sosial, tidak sedikit yang beranggapan bahwa tim-tim Asia Barat hanya menjadi pelengkap kompetisi.

Namun jika melihat perjalanan mereka menuju turnamen ini, kenyataannya tidak sesederhana itu. Negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, Qatar, Irak, dan Yordania datang ke Piala Dunia bukan tanpa alasan. Mereka berhasil melewati kualifikasi yang panjang dan kompetitif. 

Baca Juga: Vozinha Dilirik Tiga Klub Série B Brasil, Kiper Tanjung Verde Bersiap Jalani Petualangan Baru

Dalam prosesnya, mereka juga mampu mengungguli sejumlah negara kuat Asia lainnya yang memiliki ambisi serupa untuk tampil di panggung terbesar sepak bola dunia. Masalah mulai terlihat ketika lawan yang dihadapi bukan lagi tim-tim terbaik Asia, melainkan negara-negara yang diperkuat pemain dari liga-liga elite Eropa dan Amerika Selatan. 

Perbedaan tempo permainan, kualitas pengambilan keputusan, hingga pengalaman menghadapi pertandingan berintensitas tinggi menjadi faktor yang sulit diabaikan. Banyak negara Asia Barat sebenarnya telah melakukan investasi besar dalam beberapa tahun terakhir.

Infrastruktur modern, stadion berstandar internasional, hingga kompetisi domestik yang semakin profesional menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sepak bola mereka.

Baca Juga: Adam Przybek Tinggalkan Persib, Ini Alasan di Balik Perpisahannya

Namun, perkembangan liga domestik tidak selalu berjalan seiring dengan peningkatan performa tim nasional. Piala Dunia sering kali menjadi ajang yang memperlihatkan bahwa pengalaman bermain di level tertinggi masih menjadi pembeda utama.

Di sinilah Jepang dan Korea Selatan kerap dijadikan contoh. Kedua negara tersebut memang tidak selalu memiliki pemain yang lebih berbakat dibanding negara-negara Asia Barat. Akan tetapi, mereka berhasil membangun sistem pembinaan yang mendorong pemain muda untuk berkarir di luar negeri sejak usia dini.

Akibatnya, banyak pemain Jepang dan Korea Selatan yang terbiasa menghadapi tekanan tinggi setiap pekan di kompetisi papan atas dunia. Pengalaman tersebut kemudian terbawa saat mereka membela tim nasional di turnamen besar.

Sementara itu, sebagian besar pemain dari negara-negara Asia Barat masih menghabiskan mayoritas karier mereka di kompetisi domestik. Liga yang kuat memang membantu perkembangan pemain, tetapi pengalaman menghadapi standar permainan global secara rutin tetap menjadi faktor penting.

Meski hasil di Piala Dunia kali ini belum sepenuhnya memuaskan, bukan berarti sepak bola Asia Barat mengalami kemunduran. Justru sebaliknya, mereka tetap menjadi kekuatan penting di kawasan Asia dan masih memiliki potensi besar untuk berkembang.

Piala Dunia 2026 tampaknya kembali memberikan pelajaran yang sama. Untuk mampu bersaing lebih konsisten di level dunia, tantangan berikutnya bukan hanya membangun liga dan fasilitas, tetapi juga menciptakan jalur yang membuat semakin banyak pemain mampu beradaptasi dengan kompetisi tertinggi dunia. Dari situlah peta kekuatan sepak bola Asia kemungkinan akan terus berubah dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga: Mengapa Lagu Kebangsaan Spanyol Tanpa Lirik? Ini 4 Alasan Marcha Real Hanya Instrumental

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah