JawaPos.com - Sepak bola Asia kerap dipandang sebelah mata di level dunia. Salah satu alasan yang paling sering muncul adalah persoalan fisik.
Banyak yang menilai pemain-pemain Asia memiliki postur tubuh yang lebih kecil dibandingkan pemain dari Eropa, Amerika Selatan, maupun Afrika sehingga dianggap akan kesulitan bersaing di ajang sebesar Piala Dunia.
Pandangan tersebut sempat menjadi stigma yang melekat cukup lama. Ketika menghadapi lawan dengan kekuatan fisik yang lebih baik, tim-tim Asia sering diprediksi hanya akan menjadi pelengkap turnamen. Namun, perkembangan sepak bola modern perlahan mengubah cara pandang tersebut.
Jepang menjadi salah satu contoh paling nyata bagaimana stigma itu berhasil dipatahkan. Dalam beberapa dekade terakhir, Samurai Biru menunjukkan perkembangan yang sangat konsisten.
Mereka tidak hanya rutin lolos ke Piala Dunia, tetapi juga mampu memberikan perlawanan sengit kepada negara-negara besar.
Keberhasilan Jepang bukan terjadi secara instan. Fondasinya dibangun melalui sistem pembinaan yang terstruktur sejak usia dini.
Baca Juga: Jepang Pernah Belajar dari Indonesia, Kini Jadi Kekuatan Asia Berkat Visi Sepak Bola Jangka Panjang
Kompetisi yang sehat, akademi yang berkembang, pendidikan pelatih yang terus ditingkatkan, hingga keberanian mengirim pemain muda ke luar negeri menjadi bagian dari proses panjang tersebut.
Hasilnya mulai terlihat dalam berbagai turnamen internasional. Jepang kini tidak lagi mengandalkan semangat juang semata.
Mereka mampu bermain dengan disiplin taktik, teknik yang baik, serta kecepatan berpikir yang membuat mereka bisa bersaing melawan tim-tim elite dunia.
Menariknya, banyak pemain Jepang modern yang juga memiliki kondisi fisik yang kompetitif. Mereka menunjukkan bahwa kualitas pembinaan dapat membantu pemain berkembang secara menyeluruh, termasuk dari aspek kekuatan, daya tahan, dan atletisme.
Keberhasilan Jepang seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, sepak bola Indonesia memang menunjukkan perkembangan yang cukup positif. Prestasi kelompok umur mulai meningkat, kompetisi semakin mendapat perhatian, dan kesempatan pemain muda untuk berkembang juga lebih terbuka.
Baca Juga: Piala Asia vs Piala Dunia: Mengapa Qatar dan Jepang Menunjukkan Wajah yang Berbeda?
Meski demikian, perjalanan menuju level yang dicapai Jepang masih sangat panjang. Tantangan dalam pembinaan usia muda, kualitas kompetisi, hingga kesinambungan program pengembangan pemain masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Jika ingin benar-benar bersaing di level tertinggi, Indonesia perlu membangun fondasi yang kuat dan konsisten dalam jangka panjang.
Jepang telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang utama. Yang lebih menentukan adalah kualitas sistem, pembinaan, dan keseriusan dalam menjalankan visi sepak bola nasional.