JawaPos.com - Prestasi Qatar dan Jepang dalam beberapa tahun terakhir menghadirkan fenomena yang menarik di sepak bola Asia.
Qatar mampu menjuarai Piala Asia 2019 dan 2023 secara beruntun, sementara Jepang yang sering dianggap sebagai tim terkuat Asia justru gagal mengangkat trofi pada dua edisi tersebut.
Sebaliknya, ketika berbicara mengenai Piala Dunia, situasinya hampir berbanding terbalik. Jepang tampil impresif pada edisi 2022 dan 2026 dengan sejumlah kemenangan penting atas tim-tim besar, sedangkan Qatar belum mampu menunjukkan pengaruh yang sama di level global.
Baca Juga: Zlatan Ibrahimovic: Berhenti Panggil Jepang Sebagai Tim Kuda Hitam! Ini Tim Elit!
Perbedaan hasil ini memunculkan berbagai pandangan dari pengamat maupun suporter. Salah satu topik yang sering menjadi bahan diskusi adalah faktor nonteknis dalam kompetisi Asia, termasuk kualitas kepemimpinan wasit.
Dalam beberapa kesempatan, kalangan sepak bola Jepang pernah menyoroti tantangan yang mereka hadapi di ajang Asia.
Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) diketahui beberapa kali mengeluhkan kualitas pengadilan pertandingan pada level regional.
Baca Juga: Main Agresif! Jepang Cukur Tunisia 4-0, Hajime Moriyasu Beberkan Strategi Samurai Biru
Menurut mereka, pertandingan di Asia sering kali tidak hanya ditentukan oleh kualitas permainan, tetapi juga kemampuan tim dalam menghadapi tekanan dan situasi nonteknis di lapangan.
Pandangan tersebut membuat Jepang memilih fokus pada peningkatan kualitas sepak bola secara menyeluruh.
Filosofi yang berkembang di Negeri Sakura adalah menjadi jauh lebih kuat dibanding lawan sehingga faktor-faktor di luar permainan tidak lagi memiliki pengaruh besar terhadap hasil akhir pertandingan.
Di sisi lain, sejumlah suporter Asia Tenggara, termasuk Indonesia, juga kerap mengungkapkan pengalaman serupa saat menghadapi beberapa tim dari kawasan Teluk dalam ajang resmi AFC maupun Kualifikasi Piala Dunia.
Kontroversi keputusan wasit sering menjadi bahan perdebatan setelah pertandingan berakhir.
Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan seluruh keberhasilan Qatar di Piala Asia semata-mata disebabkan oleh faktor pengadilan pertandingan.
Baca Juga: Tunisia vs Jepang Jadi Laga ke-1000 Piala Dunia! FIFA Siapkan Jersey Wasit Edisi Khusus
Qatar tetap memiliki fondasi sepak bola yang kuat, investasi besar pada pengembangan pemain muda, serta fasilitas modern yang telah dibangun selama lebih dari satu dekade.
Selain itu, performa Jepang di Piala Dunia juga menunjukkan bahwa kualitas sepak bola mereka memang berada di level yang sangat tinggi.
Kemenangan atas tim-tim elite dunia dalam beberapa edisi terakhir menjadi bukti bahwa sistem pembinaan pemain Jepang berhasil menghasilkan skuad yang mampu bersaing di panggung internasional.
Pada akhirnya, perbedaan prestasi Qatar dan Jepang kemungkinan merupakan kombinasi dari banyak faktor.
Mulai dari karakter turnamen, gaya bermain lawan, tekanan kompetisi, hingga aspek nonteknis yang masih sering menjadi bahan diskusi di sepak bola Asia.
Yang jelas, baik Qatar maupun Jepang telah menjadi dua kekuatan penting yang membentuk wajah sepak bola Asia modern.