JawaPos.com - Pertandingan antara tim nasional Qatar dan Kanada tidak hanya menyita perhatian karena skor mencolok di atas lapangan, tetapi juga karena insiden yang terjadi setelah laga berakhir.
Duel yang berakhir dengan kemenangan telak Kanada 6-0 itu diwarnai keributan yang melibatkan pemain serta staf kepelatihan kedua tim.
Qatar menjalani pertandingan yang sangat sulit. Selain tertinggal jauh dalam skor, mereka juga harus mengakhiri laga dengan hanya sembilan pemain setelah kehilangan dua pemain akibat kartu merah. Situasi tersebut membuat tim asuhan Julen Lopetegui semakin tertekan hingga peluit panjang dibunyikan.
Baca Juga: Prediksi Skor Brasil vs Haiti di Piala Dunia 2026: Magis Vinicius Junior Siap Bawa Selecao Pesta Gol
Namun, ketegangan rupanya belum berakhir setelah pertandingan selesai. Berdasarkan laporan yang beredar dari DAZN Futbol, salah satu pemicu ketidakpuasan kubu Qatar adalah sikap para pemain Kanada yang tetap berusaha menambah gol meski lawan sudah tertinggal enam gol dan bermain dengan sembilan orang.
Momen yang menjadi sorotan terjadi pada masa injury time. Kanada disebut masih terus melancarkan serangan untuk mencari tambahan gol meskipun hasil pertandingan secara praktis sudah tidak mungkin berubah. Situasi itu diduga membuat Lopetegui merasa timnya tidak mendapat respek yang cukup dari lawan.
Saat kedua pelatih melakukan tradisi saling berjabat tangan setelah pertandingan, kamera menangkap momen ketika Lopetegui terlihat membisikkan sesuatu kepada pelatih Kanada, Jesse Marsch.
Baca Juga: Enam Bintang Piala Dunia 2026 yang Sebenarnya Bisa Membela Timnas Inggris
Reaksi Marsch cukup menarik perhatian karena ia langsung melepaskan jabat tangan tersebut dan berjalan meninggalkan lokasi.
Isi percakapan antara kedua pelatih memang tidak diketahui secara pasti. Namun banyak spekulasi yang menyebut bahwa komentar Lopetegui berkaitan dengan agresivitas Kanada pada menit-menit akhir pertandingan.
Ketegangan semakin meningkat ketika Marsch merayakan kemenangan timnya. Pelatih asal Amerika Serikat itu terlihat mengangkat enam jari sebagai simbol jumlah gol yang berhasil dicetak Kanada ke gawang Qatar.
Aksi tersebut ternyata memancing emosi kubu Qatar. Beberapa anggota staf dan pemain terlihat mendatangi area tengah lapangan sehingga terjadi adu argumen yang kemudian berkembang menjadi keributan singkat.
Beruntung, situasi tidak berlangsung lama setelah sejumlah pihak berusaha memisahkan kedua kubu.
Terlepas dari insiden tersebut, kemenangan 6-0 menjadi hasil yang sangat meyakinkan bagi Kanada.
Sebaliknya, Qatar harus segera berbenah setelah mengalami kekalahan telak yang semakin berat karena diwarnai dua kartu merah dan ketegangan seusai pertandingan.
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa emosi dalam sepak bola tidak hanya muncul selama 90 menit pertandingan berlangsung.
Dalam situasi tertentu, selebrasi, gestur, maupun persepsi mengenai sportivitas dapat menjadi pemicu ketegangan yang sama besarnya dengan persaingan di atas lapangan.