JawaPos.com - Timnas Maroko kembali mencuri perhatian dunia sepak bola setelah berhasil menahan Brasil dengan skor 1-1 dalam laga internasional pada Sabtu (14/6) pagi WIB. Pertandingan berlangsung sengit dan menghadirkan sejumlah momen menarik, termasuk fakta unik dari susunan pemain utama Singa Atlas.
Dalam pertandingan piala dunia itu, timnas Maroko lebih dulu unggul melalui gol Ismael Saibari pada menit ke-21. Brasil kemudian menyamakan kedudukan lewat Junior pada menit ke-32. Skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.
Namun di luar hasil pertandingan, publik juga menyoroti komposisi starting XI Maroko. Dari 11 pemain yang diturunkan sejak menit awal, hanya satu pemain yang lahir di wilayah Maroko, yaitu Azzedine Ounahi yang berasal dari Casablanca.
Sementara itu, 10 pemain lainnya lahir di berbagai negara di luar Maroko. Kiper Yassine Bounou atau Bono lahir di Montreal, Kanada. Noussair Mazraoui lahir di Leiderdorp, Belanda. Issa Diop berasal dari Toulouse, Prancis, sedangkan Chadi Riad lahir di Palma, Spanyol.
Nama-nama lain seperti Achraf Hakimi dan Brahim Diaz juga lahir di Madrid, Spanyol. Neil El Aynaoui berasal dari Nancy, Prancis. Sementara Ayyoub Bouaddi lahir di Senlis, Prancis. Bilal El Khannouss lahir di Molenbeek, Belgia, dan Ismael Saibari berasal dari Terrassa, Spanyol.
Fenomena ini tidak lepas dari sejarah diaspora Maroko yang cukup besar di Eropa. Secara geografis, Maroko memang berada di Afrika Utara, tetapi lokasinya sangat dekat dengan Eropa.
Jarak antara Maroko dan Spanyol hanya dipisahkan Selat Gibraltar. Sehingga mobilitas penduduk antara kedua kawasan telah berlangsung selama puluhan tahun.
Selain Spanyol, negara-negara seperti Prancis, Belgia, dan Belanda juga menjadi tujuan utama masyarakat keturunan Maroko. Akibatnya, banyak pemain berbakat lahir dan berkembang dalam sistem sepak bola Eropa sebelum akhirnya memilih membela negara leluhur mereka.
Keberhasilan federasi sepak bola Maroko merangkul pemain diaspora menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan tim nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Kombinasi pengalaman kompetisi Eropa dan identitas kebangsaan yang kuat membuat Singa Atlas mampu bersaing di level tertinggi. Saat ini Maroko menempati peringkat ketujuh dunia FIFA dan terus menunjukkan konsistensi sebagai salah satu kekuatan sepak bola terbaik, tidak hanya di Afrika tetapi juga di panggung internasional.