JawaPos.com - Piala Dunia 2026 bukan hanya menjadi ajang pembuktian bagi timnas Belgia di lapangan. Turnamen di Amerika Utara itu juga menghadirkan cerita menarik dari luar pertandingan, yakni tentang bagaimana sepak bola mampu menyatukan masyarakat Belgia yang selama ini dikenal memiliki perbedaan bahasa dan identitas budaya.
Saat Belgia bersiap menghadapi Mesir pada laga pembuka fase grup, ribuan pendukung Red Devils diperkirakan akan memadati stadion di Seattle. Namun ada satu pemandangan unik yang hampir selalu muncul ketika tim nasional Belgia bertanding: para suporter tidak menyanyikan lagu kebangsaan dalam bahasa yang sama.
Belgia memiliki tiga bahasa resmi, yaitu Belanda (Flemish), Prancis, dan Jerman. Kondisi tersebut membuat lagu kebangsaan negara itu dapat dinyanyikan dalam beberapa versi berbeda secara bersamaan.
Baca Juga: Prediksi Piala Dunia 2026 dari Para Jurnalis Dunia: Favorit Juara hingga Tim Kejutan
Meski terdengar tidak biasa bagi negara peserta Piala Dunia lainnya, hal tersebut justru menjadi simbol persatuan yang selama ini dijaga oleh para pendukung tim nasional Belgia. Di Belgia, perbedaan bahasa bukan sekadar persoalan komunikasi.
Negara dengan populasi sekitar 11 juta jiwa itu terdiri dari wilayah Flanders yang mayoritas berbahasa Belanda di bagian utara, Wallonia yang menggunakan bahasa Prancis di selatan, serta komunitas kecil berbahasa Jerman di bagian timur.
Perbedaan tersebut bahkan kerap memunculkan perdebatan politik dan sosial di dalam negeri. Namun ketika tim nasional bermain, batas-batas itu seolah menghilang.
Bagi banyak warga Belgia, sepak bola menjadi salah satu sedikit ruang yang mampu menghadirkan rasa kebersamaan tanpa memandang latar belakang daerah maupun bahasa. Semangat itu tercermin dari slogan yang paling sering diteriakkan para pendukung Belgia, yakni Tous Ensembles yang berarti Bersama-sama.
Menariknya, slogan berbahasa Prancis tersebut juga diteriakkan oleh suporter dari wilayah Flanders yang sehari-hari menggunakan bahasa Belanda. Sebaliknya, lagu-lagu dukungan yang berasal dari komunitas Flemish juga dinyanyikan oleh pendukung dari Wallonia.
Fenomena tersebut menjadi gambaran bagaimana sepak bola berhasil menjembatani perbedaan yang selama ini ada di masyarakat Belgia. Tradisi kebersamaan para suporter Belgia juga terlihat saat mereka melakukan perjalanan mendukung tim nasional ke berbagai negara.
Kelompok pendukung garis keras yang jumlahnya mencapai ratusan orang dikenal selalu hadir di setiap pertandingan, baik kandang maupun tandang. Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, misalnya, ribuan suporter Belgia berkumpul dalam satu rombongan besar sebelum pertandingan berlangsung.
Mereka berjalan bersama menuju stadion dan menciptakan atmosfer yang menjadi salah satu ciri khas dukungan untuk Red Devils. Dalam beberapa kesempatan, para pendukung Belgia bahkan mengadakan pertandingan persahabatan melawan suporter negara lawan sebagai bentuk persaudaraan antarpenggemar sepak bola.
Sepak bola memang memiliki tempat khusus dalam perjalanan identitas nasional Belgia. Salah satu momen yang sering dikenang terjadi pada Piala Dunia 1986 ketika Belgia secara mengejutkan mampu melaju hingga semifinal.
Baca Juga: Ultras Lazio Boikot Total Musim Depan, Curva Nord Terancam Kosong untuk Tekan Claudio Lotito
Keberhasilan tersebut disebut-sebut meningkatkan rasa kebanggaan nasional di tengah masyarakat yang selama ini terbagi oleh perbedaan bahasa dan budaya. Efek serupa kembali muncul ketika generasi emas Belgia tampil pada dekade 2010-an.
Kehadiran pemain-pemain kelas dunia seperti Kevin De Bruyne, Eden Hazard, Romelu Lukaku, Vincent Kompany, hingga Thibaut Courtois membawa Belgia menjadi salah satu tim terbaik di dunia. Tim yang pernah menduduki peringkat pertama FIFA itu sempat digadang-gadang sebagai kandidat kuat juara dalam berbagai turnamen besar.
Prestasi terbaik mereka hadir pada Piala Dunia 2018 ketika berhasil finis di posisi ketiga. Meski gagal meraih trofi utama, era tersebut tetap menjadi salah satu periode paling membanggakan dalam sejarah sepak bola Belgia.
Baca Juga: Christian Eriksen Kolaps di Lapangan, Wolfsburg Berharap Pemain Andalannya Segera Pulih
Kini, Belgia memasuki fase baru. Sebagian besar pemain generasi emas telah meninggalkan tim nasional atau berada di penghujung karier internasional mereka. Harapan kini bertumpu pada wajah-wajah baru seperti Jeremy Doku dan Charles De Ketelaere yang diproyeksikan menjadi tulang punggung Red Devils dalam beberapa tahun ke depan.
Status Belgia menjelang Piala Dunia 2026 pun berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Mereka tidak lagi datang sebagai unggulan utama atau favorit juara.
Namun kondisi itu justru membuat ekspektasi terhadap tim menjadi lebih realistis. Bagi para pendukung setia, keberhasilan tim nasional tidak semata-mata diukur dari jumlah trofi yang diraih.
Baca Juga: Rekam Jejak Shin Tae-yong di Klub Terakhir Gagal Total, Dipecat Setelah Dua Bulan!
Yang lebih penting adalah bagaimana tim mampu merepresentasikan semangat persatuan seluruh rakyat Belgia. Di tengah berbagai perbedaan yang masih ada, sepak bola terus menjadi bahasa universal yang dipahami oleh semua kalangan di negara tersebut.
Karena itu, ketika lagu kebangsaan Belgia kembali berkumandang di Piala Dunia 2026 dan terdengar dalam berbagai bahasa sekaligus, pemandangan itu bukanlah tanda perpecahan. Sebaliknya, itulah simbol paling nyata bahwa Belgia tetap bisa berdiri sebagai satu kesatuan.
Berbeda bahasa, berbeda latar belakang, tetapi memiliki tujuan yang sama yaitu mendukung Red Devils dan membawa nama Belgia bersinar di panggung dunia.