JawaPos.com - Program Teacher Tech Championship 2026 dari Bakti BCA dukung pengembangan profesional bagi guru SMA/MA dari Sulawesi yang mengampu mata pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, Informatika, serta Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU).
Diikuti lebih dari 350 pendaftar dari enam provinsi di Sulawesi pada 2026, kompetisi ini mengangkat tema inovasi alat bantu pembelajaran berbasis STEM yang difokuskan pada koding dan Artificial Intelligence (AI).
Harapannya, hasil inovasi dapat mendukung Deep Learning atau pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, yang jadi program Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Baca Juga: Cegah Perundungan dan Kekerasan Seksual di Pesantren, Santri Diminta Berani Bersuara
Direktur BCA Antonius Widodo menuturkan, memasuki tahun kedua, jumlah pendaftar Teacher Tech Championship mengalami peningkatan pesat. Tercatat sebanyak 357 orang pendaftar dari berbagai daerah di Pulau Sulawesi.
Angka ini meningkatdibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 147 pendaftar dari wilayah Maluku dan Papua.
”Ini menunjukkan antusiasme besar, setidaknya menurut kami, bahwa arti pendidikan yang kami coba deliver dengan sasaran adalah para guru,” ujar Antonius Widodo.
Baca Juga: Unair Gandeng Profesor AS Kembangkan Tes Darah untuk Deteksi Tingkat Keparahan Cedera Otak
Selain memperluas wilayah peserta, dia berharap inovasi para guru dapat terus dikembangkan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.
Kendati demikian, dia pun mengimbau agar pemanfaatan teknologi dalam ini harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat pembelajaran.
”Apa pun teknologi itu adalah tools. Yang harus menang itu manusianya, jangan sampai nanti yang menang teknologinya,” papar Antonius Widodo.
Tak hanya membantu pengembangan inovasi para guru yang lolos, Widodo menyatakan akan membantu yang berpotensi untuk memperoleh perlindungan hak kekayaan intelektual.
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Peningkatan STEM dan Kompetensi Guru Maila Dinia Husni Rahiem mengapresiasi inisiasi Bakti BCA di bidang pendidikan.
Sebab menurut dia, pemerintah tidak akan bisa bekerja sendiri dalam upaya pemerataan akses dan mutu pendidikan ini.
Baca Juga: Survei Global: 91 Persen Pelajar Indonesia Khawatir AI Bikin Belajar Kurang Mendalam
Maila pun sempat menyebut jika saat ini, akses pendidikan bagi anak Indonesia menunjukkan perkembangan positif.
Hal ini terlihat dari hasil data Programme for International Student Assessment (PISA) 2025
Dia menjelaskan, ketika Indonesia pertama kali mengikuti PISA pada 2003, baru 48 persen anak Indonesia berusia 15 tahun yang masih bersekolah.
Baca Juga: Soal TKA 2026 Lebih Menantang, Siswa Diuji Bernalar Bukan Sekadar Menghafal
Kini, proporsinya telah melampaui 90 persen. Artinya, akses kepada pendidikan ini sudah mulai meluas.
”PISA menunjukkan bahwa akses pendidikan Indonesia itu udah meningkat dua kali lipat dari pertama kali Indonesia masuk atau ikut dalam PISA,” jelas Maila Dinia Husni Rahiem.
Dengan capaian tersebut, menurut dia, tantangan berikutnya adalah memastikan perluasan akses tersebut diikuti pemerataan kualitas pendidikan di berbagai daerah.
Baca Juga: Soroti Persoalan Global, 700 Delegasi dari 25 Negara Ikut dalam Forum Simulasi PBB
Pemerintah menjalankan revitalisasi sekolah serta memberikan dukungan perangkat digital, seperti komputer, laptop, dan papan interaktif digital.
Upaya tersebut diharapkan membantu guru mengembangkan pembelajaran yang lebih kreatif sekaligus memperkecil kesenjangan mutu pendidikan antardaerah.
Salah satu fokus yang didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) adalah penguatan science, technology, engineering, and mathematics (STEM).
Program ini tidak hanya menempatkan matematika dan ilmu pengetahuan alam sebagai ruang penerapan sains dan teknologi, tetapi juga mendorong pendekatan lintas mata pelajaran melalui proyek pemecahan masalah.
Baca Juga: Bidik Wirausaha Baru, Kolaborasi Luncurkan The Sandiaga Uno Entrepreneurship Scholarship
Maila menyebut, pembelajaran STEM perlu dikembangkan dengan prinsip 5M, yakni mudah, murah, menyenangkan, bermakna, dan membahagiakan.
Dengan pendekatan tersebut, guru diharapkan mampu mengajak siswa berani mencoba dan kreatif menciptakan solusi dari persoalan di lingkungan mereka.
”Saat ini kami berharap kerja sama dari berbagai pihak untuk memperluas mutu pendidikan ini karena kementerian tidak mungkin bekerja sendiri,” terang Maila Dinia Husni Rahiem.
Baca Juga: Jadi Instrumen Kemandirian Sosial, Warek UIN Jakarta Dorong Penguatan Riset Tentang Zakat