← Beranda
Simulasi TKA 21 Sampai 27 September, Kemendikdasmen Uji Kesiapan Sekolah Sebelum Hari H
Antara• Jumat, 25 September 2026 | 03.32 WIB
Ilustrasi tes kemampuan akademik. (Willi Irawan/Antara)

 

JawaPos.com - Sebelum para siswa duduk menghadapi TKA, sekolah harus lebih dulu memastikan kesiapan sistem.

Hal itu menjadi inti dari simulasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 pada 21 sampai 27 September melalui uji coba menyeluruh terhadap jaringan, perangkat maupun aplikasi ujian sebelum jadwal resmi dimulai.

Simulasi ini bukan untuk latihan soal dan tahap berikutnya adalah gladi bersih pada 5 sampai 18 Oktober dan pelaksanaan TKA pada 26 Oktober sampai 8 November, dengan jadwal susulan 16 sampai 29 November, dan barulah akan menyentuh materi ujian.

Baca Juga: Potong Anggaran MBG untuk Pendidikan, Pengamat Yakin Kuliah di PTN Gratis Sangat Mungkin

Untuk saat ini, fokusnya murni teknis, yaitu apakah komputer menyala, jaringan stabil, dan aplikasi berjalan tanpa hambatan.

Sejumlah sekolah mulai memastikan kesiapan teknis mengikuti simulasi TKA.

Kepala SMKN 1 Monta, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat Olan Wardiansyah mengatakan, telah melakukan koordinasi dengan kantor cabang dinas (KCD) wilayah untuk memastikan tidak terdapat kendala teknis saat TKA.

Baca Juga: Regenerasi Petani Jadi Sorotan, UIN Jakarta Tekankan 5 Pilar Ekosistem Pertanian

”Setiap sekolah pasti sudah mempersiapkan dengan sebaik-baiknya karena ini menyangkut masa depan semua murid kami,” kata Olan Wardiansyah dilansir dari Antara.

Perawatan menyeluruh terhadap perangkat komputer, jaringan internet, dan infrastruktur Local Area Network (LAN) di ruang praktik dirawat rutin, bukan hanya menjelang simulasi saja.

Rutinitas itu yang membuat Olan percaya diri menghadapi hari H.

”Sejauh ini tidak ada kendala. Kami tetap mempersiapkan semaksimal mungkin,” tandas Olan.

Cerita serupa datang dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Gugun Guntoro, guru sekaligus Operator Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMA Negeri 1 Ciseeng menegaskan, simulasi kali ini hanya menguji keandalan sistem dan bukan kemampuan siswa.

Baca Juga: Nasib Guru Honorer Usai Guru P3K Paruh Waktu Diangkat Jadi Penuh Waktu

”Soal itu nanti waktunya di gladi bersih. Simulasi TKA ini soal aplikasinya, apakah berjalan baik atau tidak,” kata Gugun.

Oleh karena itu, tidak semua siswa dilibatkan. Sekolah menggunakan metode perwakilan (sampling) dan di SMA Negeri 1 Ciseeng hanya 30 dari 352 siswa yang ditunjuk mewakili.

”Itu sudah cukup untuk menunjukkan simulasi ini berjalan baik,” terang Gugun.

Baca Juga: Soal Pendidikan Gratis dari TK, Mendikdasmen Jelaskan Pemakaian Dana BOS

Ketersediaan perangkat, kata Gugun, sudah aman. Yang masih menjadi variabel adalah dua hal di luar kendali sekolah, pasokan listrik dari PLN dan stabilitas jaringan internet dari provider setempat.

Di tingkat pusat, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong percepatan persiapan, baik dari sisi administrasi maupun substansi.

Direktur SMA Kemendikdasmen Yuli Haryanto menjelaskan, lembaganya bertanggung jawab dalam melakukan koordinasi, penguatan kesiapan, memberi pendampingan, dan memantau pelaksanaan TKA di lapangan.

Baca Juga: 4.922 Sekolah Terdampak Bencana di Sumatera Sudah Gelar Pembelajaran Lagi

Yuli mengingatkan, satu hal yang seringk terlupa bahwa pendaftaran TKA saat ini masih dibuka dan batas dengan waktunya jatuh tepat di hari terakhir simulasi, yaitu 27 September.

Dia meminta agar kepala sekolah tidak menunggu sampai waktu paling akhir untuk menyelesaikan  pendaftaran.

”Mengapa harus lebih awal? karena dengan mendaftar lebih awal, sekolah memiliki waktu yang cukup untuk mengecek kembali data, menyiapkan sarana dan prasarana, mempersiapkan guru, dan yang paling penting, mendampingi murid kita dengan sebaik-baiknya,” terang Yuli.

Namun pesan Yuli tidak berhenti di urusan teknis saja.

Baca Juga: Perubahan Dunia Kerja dan Pendidikan Saat Ini Juga Berbasis Industri

Dia mengingatkan agar momentum ini tidak membuat sekolah berubah menjadi sekadar tempat latihan soal.

Evaluasi terhadap hasil TKA di tahun sebelumnya, menurut dia, sama pentingnya untuk memperbaiki mutu pembelajaran ke depan.

”Yang jauh lebih penting adalah memperkuat proses pembelajaran. Kita bantu para siswa memahami konsep, membangun kemampuan bernalar, membaca dengan baik, dan menguasai numerasi,” ungkap Yuli.

Baca Juga: Kemendiktisaintek Serius Siapkan Skema untuk Realisasikan Pendidikan Tinggi Negeri Gratis

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah