← Beranda
Bukan Sekadar Ziarah! UT Purwokerto Hidupkan Kembali Spirit Tokoh Nasional dan Daerah
Latu Ratri MubyarsahMinggu, 30 Agustus 2026 | 21.06 WIB
Universitas Terbuka Purwokerto menggelar ziarah budaya sebagai pembuka rangkaian agenda Halaqah. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Universitas Terbuka (UT) Purwokerto menggelar ziarah budaya sebagai pembuka rangkaian agenda Halaqah bertema Dari Akses Terbuka Menuju Maslahat Bersama: Membangun Inklusivitas Ekonomi Syariah di Lingkungan UT.

Kegiatan ziarah itu bukan sekadar agenda seremonial.

Momentum itu menjadi wahana refleksi untuk menyambungkan nilai-nilai perjuangan masa lalu, dengan tantangan akses pendidikan, penguatan ekonomi rakyat, dan pembangunan masyarakat di era modern.

Baca Juga: AI Bakal Ubah Semua Profesi, Mahasiswa Diingatkan Jangan Jadi ‘Budak’ Teknologi

Sejumlah tokoh penting hadir dalam kesempatan tersebut, di antaranya anggota DPR RI Hj Teti Rohatiningsih serta Ketua Umum Paguyuban Seruan Eling Banyumas (Serulingmas) Dr Wisnu Suhardono.

Kehadiran para tokoh mempertemukan lintas pemangku kepentingan mulai dari akademisi, wakil rakyat, hingga pelestari sejarah lokal.

Bagi Universitas Terbuka Purwokerto, ziarah di pusara R.M. Margono Djojohadikusumo menjadi penanda penting bahwa pesatnya perkembangan teknologi dan dinamika pendidikan tinggi tidak boleh melepaskan masyarakat dari akar sejarah.

Baca Juga: Mendikdasmen Dorong Pendidikan Fleksibel, LKP Jadi Jalan Anak Siap Kerja

Nilai perjuangan tersebut sejalan dengan visi pendidikan terbuka yang diusung UT dalam menjangkau masyarakat dari berbagai latar belakang.

Direktur UT Purwokerto Prasetyarti Utami menegaskan, ziarah ini memiliki arti strategis bagi seluruh civitas akademika dalam menggali sumber inspirasi bagi peran perguruan tinggi.

”Nilai perjuangan para pendahulu harus menjadi sumber inspirasi bagi kita untuk terus memberikan kontribusi terbaik kepada masyarakat. Sebagai perguruan tinggi terbuka, UT memiliki tanggung jawab untuk terus membuka akses, memberdayakan masyarakat, dan menghadirkan pendidikan yang memberikan manfaat nyata,” ujar Prasetyarti.

Dia menambahkan, akses pendidikan yang luas tidak sekadar berfokus pada kesempatan memperoleh ijazah formal.

Lebih dari itu, pendidikan sejatinya adalah instrumen pemberdayaan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, membuka peluang, serta memberikan bekal menghadapi perubahan zaman.

”Kami berharap semangat dari kegiatan ziarah ini terus hidup dalam berbagai program kerja nyata. Nilai perjuangan diterjemahkan menjadi semangat untuk memberikan akses pendidikan yang semakin luas, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat,” kata Prasetyarti.

Baca Juga: PPI Dunia Buka Portal Berisi Hampir 100 Peluang Beasiswa S1-S3 dari 68 Negara, Cek 5 Keuntungannya

Kehadiran Teti Rohatiningsih dan Wisnu Suhardono mempertegas pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan organisasi sosial-budaya.

Sinergi ini diperlukan agar warisan keteladanan tokoh sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan bertransformasi menjadi aksi kebudayaan dan pembangunan yang konkret.

Bagi generasi muda dan kalangan akademik, ziarah ini membawa pesan bahwa kemajuan membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis.

Baca Juga: Sebanyak 2.800 Mahasiswa Baru Unika Atma Jaya Bersiap Menjadi Future Leaders

Pendidikan juga harus melahirkan manusia yang memiliki kesadaran sejarah, integritas, dan kepedulian sosial.

Prinsip keadilan, pemerataan, amanah, dan kebermanfaatan dalam nilai perjuangan masa lalu itu selanjutnya ditarik sebagai benang merah pembahasan Halaqah UT Purwokerto.

Forum akademis tersebut dirancang untuk mengaitkan gagasan pendidikan inklusif dengan pengembangan ekonomi syariah.

Baca Juga: Mobil Hybrid Bimasakti UGM Siap Diuji di Formula SAE Italy 2026

Rangkaian kegiatan ini dirancang secara berkesinambungan, dimulai dari ziarah kebudayaan, dilanjutkan dengan Gala Dinner untuk mempererat silaturahmi, hingga dipuncaki dalam forum diskusi ilmiah Halaqah.

Melalui tatanan kegiatan tersebut, UT Purwokerto menegaskan komitmen masa depan boleh dibangun dengan teknologi dan inovasi mutakhir, namun arah kemajuan harus senantiasa berpijak pada akar nilai-nilai perjuangan bangsa.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah