← Beranda
Dokter Baru Unusa Dilarang Kehilangan Empati di Tengah Teknologi
Ardini PramithaJumat, 14 Agustus 2026 | 03.43 WIB
Unusa melantik dokter baru FK Unusa. Mereka diminta menguasai teknologi kesehatan tanpa kehilangan integritas, empati, dan sisi kemanusiaan dalam melayani pasien. (Humas Unusa)

JawaPos.com - Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Prof. Tri Yogi Yuwono meminta agar dokter baru tidak hanya mengandalkan kemampuan medis, tetapi juga menjaga etika dan empati saat menjalankan profesi.

Hal itu disampaikan Prof Yogi saat melantik dan mengambil sumpah dokter baru Fakultas Kedokteran (FK) Unusa, Kamis (13/8). 

Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono mengatakan, sumpah dokter merupakan komitmen moral yang harus dipegang sepanjang menjalankan tugas. 

Menurut dia, profesi dokter tidak semestinya hanya dipandang sebagai pekerjaan untuk memperoleh penghasilan.

“Profesi dokter harus kalian dudukkan sebagai sebuah panggilan kemanusiaan, bukan alat mengejar materi semata,” kata Tri Yogi saat memberikan sambutan.

Dia menilai tantangan profesi dokter semakin kompleks seiring perkembangan teknologi kesehatan. Penggunaan kecerdasan buatan (AI), telemedicine, genomik, dan big data membuat dokter dituntut terus memperbarui pengetahuan.

Namun, kemajuan teknologi tersebut tidak boleh menghilangkan sisi kemanusiaan dalam pelayanan kesehatan.

“Teknologi medis akan terus berubah, penyakit baru akan terus muncul, namun esensi kemanusiaan dari seorang dokter tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun,” ujarnya.

Prof Yogi juga mengingatkan para dokter baru mengenai pentingnya etika ketika berhadapan dengan pasien maupun saat berkomunikasi melalui media digital.

Dia menyinggung kasus almarhum Yurizal Tri Chaerawan yang sebelumnya menyampaikan keluhan terkait pelayanan kesehatan melalui media sosial. 

Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi pembelajaran bagi tenaga kesehatan agar tetap mengedepankan adab dan empati.

“Kejadian memilukan seperti itu tidak boleh terjadi lagi. Saya haramkan perbuatan nirempati itu keluar dari jari atau lisan seorang dokter lulusan Unusa,” tegasnya.

Prof Yogi kemudian menitipkan enam karakter yang menurutnya harus melekat pada dokter lulusan Unusa. Keenamnya adalah integritas, adab, sopan santun, empati, solidaritas, dan sikap menghormati sesama.

Integritas diperlukan agar dokter tetap berpegang pada prinsip moral dalam menjalankan profesi. Sementara adab dan sopan santun menjadi dasar dalam membangun komunikasi dengan pasien.

Adapun empati, lanjut dia, penting karena pasien datang dalam kondisi membutuhkan pertolongan dan kerap disertai rasa takut, sakit, serta kecemasan.

“Pasien adalah amanah kudus, bukan beban,” katanya.

Dia juga meminta para dokter memberikan pelayanan secara adil tanpa membedakan latar belakang sosial maupun kondisi pasien.

Menurut Tri Yogi, karakter tersebut harus menjadi identitas dokter lulusan Unusa. Kemampuan klinis memang penting, tetapi perilaku dokter ketika berhadapan dengan pasien juga menentukan kualitas pelayanan.

Prof Yogi mengatakan, perkembangan teknologi membuat dokter tidak bisa berhenti belajar setelah memperoleh gelar profesi. Para dokter baru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat agar mampu mengikuti perkembangan ilmu kedokteran.

“Dunia kedokteran masa depan adalah dunia yang sangat bergantung pada inovasi dan teknologi interdisipliner,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar teknologi hanya menjadi alat pendukung, bukan pengganti hubungan manusia antara dokter dan pasien.

Para dokter baru yang selanjutnya menjalani internship dan bertugas di berbagai fasilitas kesehatan juga diminta menjaga nama baik almamater.

“Di mana pun kalian ditempatkan, jaga nama baik almamater Unusa. Kibarkan bendera Unusa melalui prestasi, dedikasi, dan akhlakul karimah yang kalian tunjukkan kepada masyarakat,” pesannya.

Prof Yogi turut menyampaikan apresiasi kepada orang tua para dokter baru yang telah mendampingi pendidikan mereka. Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan pendidikan kedokteran tidak terlepas dari dukungan keluarga.

“Kepada para dokter baru, selamat berjuang, selamat mengabdi. Selamat menyelamatkan kehidupan. Jadilah lilin yang menerangi kegelapan, dan jadilah rahmat bagi alam semesta,” pungkasnya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra