← Beranda
Wisuda ke-63 STIESIA Surabaya: 366 Lulusan Dilepas, Wisudawan S3 Raih IPK Sempurna 4,00
ARMSenin, 31 Agustus 2026 | 23.05 WIB
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya mewisuda 366 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan pada Wisuda ke-63 Periode I Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu (18/7/2026). (Dok. STIESIA)

JawaPos.com — Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya mewisuda 366 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan pada Wisuda ke-63 Periode I Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu (18/7/2026).

Momen ini semakin istimewa setelah wisudawan Program Doktor Ilmu Manajemen, Dr. I Gede Aryana Mahayasa, meraih predikat wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.

STIESIA Surabaya Lepas 366 Wisudawan dari Delapan Program Studi

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya yang terakreditasi Unggul serta mengantongi keanggotaan sertifikasi internasional IACBE kembali menggelar prosesi wisuda sebagai penanda kelulusan mahasiswa dari berbagai jenjang pendidikan.

Sebanyak 366 wisudawan mengikuti prosesi Wisuda ke-63 yang terdiri atas 17 lulusan Diploma-3 Akuntansi, 6 Diploma-3 Manajemen Perpajakan, 117 Sarjana Akuntansi, 120 Sarjana Manajemen, 26 Magister Akuntansi, 18 Magister Manajemen, 44 Pendidikan Profesi Akuntan, serta 18 Doktor Ilmu Manajemen.

Ketua STIESIA Surabaya, Prof. Dr. Nur Fadjrih Asyik, S.E., M.Si., Ak., CA, menyebut wisuda menjadi bukti nyata perjuangan panjang mahasiswa selama menempuh pendidikan.  (Dok. STIESIA)
Ketua STIESIA Surabaya, Prof. Dr. Nur Fadjrih Asyik, S.E., M.Si., Ak., CA, menyebut wisuda menjadi bukti nyata perjuangan panjang mahasiswa selama menempuh pendidikan.  (Dok. STIESIA)

Ketua STIESIA Surabaya, Prof. Dr. Nur Fadjrih Asyik, S.E., M.Si., Ak., CA, menyebut wisuda menjadi bukti nyata perjuangan panjang mahasiswa selama menempuh pendidikan.

"Momen wisuda ini adalah sebuah pembuktian perjuangan panjang dari para mahasiswa untuk bisa lulus. Mereka telah melewati proses yang penuh perjuangan, penuh keringat, tawa, dan tangis yang dilakukan bersama-sama selama menempuh studi. Hari ini, mereka mendapatkan 'tiket emas' untuk bisa lulus," ujar Ketua STIESIA Surabaya, Prof. Dr. Nur Fadjrih Asyik kepada JawaPos.com, Sabtu, (18/7/2026).

Ketua STIESIA: Lulusan Bukan "Wisudawan Stroberi"
Dalam sambutannya, Prof. Nur Fadjrih menegaskan lulusan STIESIA tidak hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga karakter dan kompetensi yang siap bersaing di dunia kerja.

Menurutnya, kampus selalu menanamkan keseimbangan antara kemampuan berpikir kritis, keterampilan, dan etika kepada seluruh mahasiswa selama menjalani proses pendidikan.

"Kami meyakini bahwa wisudawan yang kami cetak hari ini bukan wisudawan stroberi. Artinya, indah secara tampilan yang dipakai dengan toga yang gagah, tapi rapuh dari aspek kompetensi.

Kami yakin lulusan kami adalah para lulusan yang tangguh, yang insya Allah akan mampu menaklukkan dunia."

Ia menambahkan, mahasiswa yang lulus dengan predikat Cum Laude telah menunjukkan kombinasi kerja keras dan kerja cerdas selama menjalani proses pembelajaran.

"Dengan kinerja akademik yang maksimal dan lulus dengan predikat Cum Laude, itu merupakan sebuah proses yang tentunya didasari pada kerja keras dan kerja cerdas. Kinerja cerdas dilatih dalam proses pembelajaran agar mahasiswa semakin kuat daya kekritisannya."

Wisudawan Terbaik S3 Cetak IPK Sempurna 4,00
Salah satu capaian yang paling mendapat perhatian dalam wisuda kali ini adalah keberhasilan Dr. I Gede Aryana Mahayasa menjadi wisudawan terbaik Program Doktor Ilmu Manajemen.

Ia menyelesaikan studi selama tiga tahun, mulai Februari 2023 hingga Februari 2026, dengan IPK 4,00 dan predikat Dengan Pujian.

Prof. Nur Fadjrih menyebut prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi STIESIA Surabaya.

"Salah satu wisudawan S3 kami memperoleh predikat sebagai wisudawan terbaik dengan IPK Full 4.0. Ini adalah sebuah kebanggaan yang tentunya menjadi kinerja perguruan tinggi.”

“Kami selalu menekankan bahwa mahasiswa tidak hanya harus baik secara akademik (kognitif) dan skill, tetapi juga harus baik secara afektif atau etika (attitude)."

Wisudawan terbaik, Dr. I Gede Aryana Mahayasa mengaku perjalanan menyelesaikan studi doktor bukan proses yang mudah. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)
Wisudawan terbaik, Dr. I Gede Aryana Mahayasa mengaku perjalanan menyelesaikan studi doktor bukan proses yang mudah. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)

Dalam kesempatan yang sama, Dr. I Gede Aryana Mahayasa mengaku perjalanan menyelesaikan studi doktor bukan proses yang mudah. Ia menilai dukungan keluarga, kolega, serta para promotor menjadi faktor penting hingga mampu meraih hasil terbaik.

"Baik, terima kasih. Jadi, ini tentu merupakan satu perjalanan yang cukup panjang. Dengan waktu yang tiga tahun, cukup panjang harus saya lalui.”

“Tetapi berkat dukungan semua doa keluarga, kemudian kolega, juga pembimbing-pembimbing termasuk promotor dan ko-promotor, akhirnya saya bisa menyelesaikan dengan hasil yang maksimal dan sesuai dengan yang saya harapkan."

Ia juga mengonfirmasi masa studinya berlangsung tepat tiga tahun.

"Kebetulan untuk masa studi persis tiga tahun. Jadi, dari Februari 2023 sampai Februari 2026."

Saat ditanya mengenai capaian akademiknya, ia mengaku bersyukur mampu meraih nilai sempurna.

"IPK, ya syukur saya memperoleh IPK yang maksimal, jadi 4.00."

Jadi Motivasi Mahasiswa Lain untuk Terus Tekun

Sebagai seorang dosen, Dr. I Gede berharap pencapaiannya tidak berhenti sebagai prestasi pribadi. Ia ingin keberhasilannya menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain agar berani menetapkan target tinggi dalam pendidikan.

"Terima kasih. Tentu ini mungkin bisa menjadikannya sebuah motivasi juga bagi teman-teman, juga bagi adik-adik mahasiswa.”

“Kebetulan juga saya sebagai seorang dosen, jadi tentu mengharapkan apa yang saya capai juga nanti akan menjadi motivasi dan bisa ditiru oleh adik-adik maupun juga mahasiswa-mahasiswa saya nanti ke depannya."

Ia menilai kunci utama menyelesaikan studi tepat waktu bukan hanya kecerdasan akademik, melainkan kemampuan mengelola diri sendiri.

Menurutnya, mahasiswa harus mampu melawan rasa malas sekaligus disiplin membagi waktu di tengah berbagai kesibukan.

"Baik, terima kasih. Jadi sebenarnya yang saya rasakan ketika bisa menyelesaikan studi tepat waktu seperti ini—yang mungkin banyak juga orang mengatakan ini cukup cepat, ya—tentu yang paling utama itu adalah mengalahkan diri sendiri sebenarnya.”

“Jadi bagaimana kita mampu mengelola, mengatur waktu kita sendiri, mengalahkan rasa malas. Walaupun dengan berbagai kesibukan, tentu yang perlu diharapkan adalah bagaimana kita mampu mengatur waktu dengan baik. Dan kata kuncinya yang mungkin bisa saya sampaikan adalah tekun."

Selain memberikan penghargaan kepada wisudawan terbaik setiap program studi, STIESIA Surabaya juga menyerahkan cinderamata, piagam penghargaan, dan uang pembinaan sebesar Rp2.500.000 dari PERPENDIKNAS kepada para penerima penghargaan berdasarkan Keputusan Ketua STIESIA Surabaya Nomor A.95/01.3k/VII/2026.

Penghargaan tersebut diberikan kepada lulusan dengan IPK tertinggi maupun masa studi tercepat sebagai bentuk apresiasi atas prestasi akademik mereka.

 

EDITOR: Mohamad Nur Asikin