JawaPos.com — Politeknik Ubaya menggelar Project Based Learning (PBL) Kewirausahaan di Maspion Square, Surabaya, pada 10–11 Juli 2026 sebagai wadah mahasiswa mengembangkan kreativitas, keterampilan berwirausaha, dan kemampuan bersaing melalui praktik bisnis langsung.
Program yang terbuka untuk umum itu juga menjadi ajang menguji kesiapan mahasiswa menghadapi dunia usaha sekaligus memperkuat pembelajaran berbasis proyek.
Kegiatan bertajuk "Berani Berkarya, Siap Berwirausaha!" tersebut menghadirkan pameran produk mahasiswa, workshop interaktif, hingga praktik penjualan langsung kepada masyarakat.
Melalui konsep ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga merasakan pengalaman nyata menjalankan bisnis.
Mengapa Expo PBL Digelar di Luar Kampus?
Wakil Direktur Politeknik Ubaya Slamet Wahyudi, S.E., M.IB menjelaskan Expo Produk Project-Based Learning merupakan agenda rutin dua kali dalam setahun untuk mata kuliah Kewirausahaan dan Inovasi.
Berbeda dengan pameran internal pada Mei lalu, kali ini kegiatan sengaja dipindahkan ke Maspion Square sebagai lokasi eksternal.
"Pameran ini merupakan Expo Produk Project-Based Learning (PBL) untuk mata kuliah Kewirausahaan dan Inovasi yang diadakan rutin dua kali dalam setahun oleh Poltek Ubaya," ujarnya kepada JawaPos.com, Jumat (10/7/2026).
Menurut Slamet, pemilihan Maspion Square dilakukan karena adanya kerja sama jangka panjang yang telah terjalin dengan pihak pengelola.
Lokasi tersebut dinilai memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat sebagai calon konsumen.
"Pameran kali ini sengaja dibawa ke luar kampus untuk menguji apakah teori kewirausahaan yang dipelajari mahasiswa di kelas dapat diaplikatifkan langsung di dunia nyata, serta melatih kemampuan mereka menarik minat pembeli langsung," katanya.
Pembelajaran Berbasis Proyek Dukung Kurikulum Berdampak
Slamet menilai metode Project Based Learning selaras dengan kebijakan pemerintah yang mendorong pembelajaran berbasis proyek.
Mahasiswa tidak lagi hanya dinilai melalui ujian tertulis, tetapi juga melalui kemampuan mengembangkan produk dan mengelola usaha.
"Program ini mendukung program pemerintah yang menginginkan mata kuliah dirancang khusus melalui basis proyek (project-based), bukan sekadar teori konvensional yang diakhiri dengan UTS/UAS tertulis saja," jelasnya.
Ia menambahkan penilaian dilakukan secara komprehensif mulai dari proses pembuatan produk, kerja sama tim, strategi pemasaran, promosi, hingga pencatatan administrasi keuangan.
Pendekatan tersebut dinilai lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan dunia usaha saat ini.
Untuk mendukung proses belajar, terdapat empat dosen pembimbing yang masing-masing mendampingi empat kelompok mahasiswa.
Politeknik Ubaya juga mengundang kepala sekolah SMK dan SMA mitra, MKKS, serta MGBK Surabaya untuk melihat langsung hasil karya para mahasiswa yang merupakan alumni sekolah mereka.
"Proyek ini diharapkan terus berlanjut ke semester berikutnya agar saat lulus nanti mahasiswa memiliki opsi nyata untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, bukan hanya mencari kerja," tutur Slamet.
Dosen Nilai Mahasiswa Lebih Kreatif dan Siap Terjun ke Dunia Usaha
Dosen Perpajakan Politeknik Ubaya sekaligus tim pengajar mata kuliah Kewirausahaan dan Inovasi, Widya Indah Nurmalasari, S.E., M.M., mengatakan program tersebut dirancang sebagai wadah pengembangan diri mahasiswa.
Mereka dilatih untuk menjadi pribadi yang kreatif, mandiri, sekaligus mampu bersaing di dunia kerja.
"Tujuan utama dari kegiatan ini adalah sebagai wadah pengembangan diri dan keterampilan mahasiswa agar mereka bisa menjadi pribadi yang kreatif, mandiri, dan bersaing. Melalui program ini, mahasiswa dilatih untuk terjun langsung ke dunia usaha atau praktik berjualan secara langsung," ujarnya.
Widya menjelaskan mata kuliah Kewirausahaan diikuti seluruh program studi di Politeknik Ubaya. Tim dosen pengajarnya pun berasal dari berbagai program studi sehingga proses pembelajaran berlangsung secara multidisiplin.
Menurutnya, pengalaman praktik langsung memberi manfaat yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran di kelas.
Mahasiswa belajar menghadapi konsumen, mengelola usaha, hingga memahami tantangan berwirausaha sejak dini.
"Program PBL ini terbukti sangat membantu mahasiswa untuk menjadi lebih kreatif, mandiri, serta memiliki daya saing yang bagus. Mereka juga bisa merasakan langsung bagaimana terjun ke dunia usaha," katanya.
Ia berharap kegiatan serupa terus berlanjut setiap semester. Mahasiswa yang telah memulai usaha juga diharapkan tidak berhenti setelah tugas kuliah selesai, tetapi mampu mengembangkan bisnis mereka secara berkelanjutan.
Tas dari Jins Bekas Jadi Bukti Kreativitas Mahasiswa
Salah satu produk yang menarik perhatian pengunjung berasal dari kelompok “Tas Culture” yang mengusung konsep green entrepreneurship.
Kelompok tersebut mengolah limbah celana jins bekas menjadi berbagai produk baru yang memiliki nilai jual.
Mahasiswa Program Studi Digital Office Administration semester dua, Ayu Indah Syah, mengatakan seluruh tas dijahit sendiri bersama anggota kelompoknya.
Bahan bakunya berasal dari kain jins bekas yang sudah rusak, luntur, atau tidak lagi digunakan.
"Di sini saya mengikuti mata kuliah kewirausahaan dengan berjualan tas. Tas ini kami jahit sendiri bersama teman-teman kelompok. Bahan bakunya memanfaatkan kain dari jins bekas, jadi inovasi kami adalah mendaur ulang bahan tersebut," ujarnya.
Melalui proses tersebut, limbah tekstil diubah menjadi tas laptop, tas gawai, hingga tas kasual yang memiliki nilai estetika sekaligus ramah lingkungan.
Produk tersebut juga dipasarkan dengan harga yang terjangkau agar dapat diterima berbagai kalangan.
Ayu mengaku pengalaman paling berharga selama mengikuti PBL adalah kesempatan berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Pengalaman tersebut membuat mahasiswa memahami proses pemasaran sekaligus mengenal dunia kerja secara nyata.
"Melalui agenda ini, hal yang paling menarik adalah kami bisa langsung terjun ke lapangan. Kami belajar bagaimana cara berjualan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat," katanya.
Ia berharap usaha yang dirintis bersama kelompoknya tidak berhenti setelah semester dua berakhir.
Menurutnya, bisnis tersebut akan terus dikembangkan pada mata kuliah Administrasi Bisnis Terintegrasi (ABT) di semester empat yang memiliki cakupan pengelolaan usaha lebih luas, termasuk penyusunan proposal bisnis dan Memorandum of Understanding (MoU).
"Kami berharap bisnis ini bisa terus berlanjut hingga mata kuliah berikutnya, dan pastinya kami bisa mendapatkan nilai yang bagus," pungkasnya.