← Beranda
Bu Muslimah, Guru Inspiratif dalam Buku Laskar Pelangi Meninggal Dunia, Ini Kata Andrea Hirata
Tazkia Royyan HikmatiarSabtu, 27 Juni 2026 | 18.53 WIB
Ibu Muslimah, guru inspiratif yang ada dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata (Instagram Pritaramadiani)

 

 

JawaPos.com - Sosok Bu Muslimah, guru inspiratif yang menjadi tokoh penting dalam novel fenomenal Laskar Pelangi, meninggal dunia. Kabar duka tersebut disampaikan langsung oleh penulis novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata, melalui akun Instagram pribadinya.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah Ibunda Guruku Ibu Muslimah, Alfatihah," tulis Andrea Hirata dalam unggahannya, dikutip Sabtu (27/6).

Unggahan tersebut hanya menampilkan gambar berwarna hitam pekat sebagai tanda duka. Pria yang akrab disapa Pak Cik itu juga menonaktifkan kolom komentar pada unggahan tersebut.

Kepergian Bu Muslimah menjadi kabar duka bagi banyak pembaca dan penggemar Laskar Pelangi. Sosok guru tersebut dikenal sebagai inspirasi utama karakter Bu Muslimah dalam novel yang mengangkat kisah perjuangan pendidikan di Belitung.

Pak Cik selama ini kerap menyebut Bu Muslimah sebagai guru yang memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan. Ketulusan dan semangatnya dalam mengajar anak-anak di sekolah sederhana menjadi salah satu inti cerita yang membuat Laskar Pelangi dikenal luas.

Novel Laskar Pelangi yang terbit pada 2005 kemudian diadaptasi menjadi film dan berhasil menginspirasi banyak orang tentang pentingnya pendidikan, mimpi, dan perjuangan di tengah keterbatasan.

 

Profil Singkat Bu Muslimah

Muslimah Hafsari atau yang akrab disapa Bu Mus, merupakan guru di SD Muhammadiyah Gantong, Belitung Timur. Ia dikenal sebagai sosok pendidik yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar anak-anak di sekolah yang memiliki keterbatasan fasilitas.

Bu Mus menjadi inspirasi tokoh Bu Muslimah dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Dalam cerita tersebut, Bu Mus digambarkan sebagai guru yang sabar, penuh kasih sayang, dan tidak pernah menyerah dalam mendidik murid-muridnya, termasuk Pak Cik yang dalam novel itu dipanggil Ikal bersama Lintang dan kawan-kawan.

Dedikasi Bu Mus terhadap pendidikan membuat namanya dikenal luas hingga menjadi simbol perjuangan guru di daerah. Sosoknya dinilai berhasil menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak Indonesia. (*)

 

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan