JawaPos.com – Siswa SMP IL Kapten Fatubaa di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), berhasil mengubah limbah kulit pisang menjadi berbagai produk bernilai ekonomi mulai dari es krim, pupuk kompos organik, hingga pupuk cair.
Inovasi tersebut tidak hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan pembelajaran kewirausahaan bagi para pelajar.
Melalui program Huka Upcycling Project (HUP), para siswa mengolah limbah kulit pisang yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan di sekolah menjadi produk yang bermanfaat.
Program ini mengintegrasikan pembelajaran sains, kewirausahaan, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Sebagai sekolah yang berada di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste, SMP IL Kapten Fatubaa membuktikan bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk berinovasi.
Melalui HUP, siswa belajar mengenai ekonomi sirkular sekaligus mengembangkan keterampilan berwirausaha sejak dini.
“Limbah kulit pisang tidak hanya kami daur ulang menjadi berbagai produk bernilai ekonomis, tetapi juga bentuk harapan serta cara pandang baru kami bahwa setiap tantangan dapat menjadi peluang untuk belajar dan berinovasi,” ujar perwakilan guru SMP IL Kapten Fatubaa, Antonius Kapitan, Kamis (25/6).
Program tersebut telah memberikan manfaat kepada lebih dari seribu penerima, mulai dari siswa, orang tua, petani lokal, hingga komunitas di wilayah perbatasan.
Bahkan, manfaatnya juga dirasakan oleh para pelajar di Timor Leste, sehingga memperkuat kolaborasi dan kepedulian terhadap kesehatan serta lingkungan di kawasan perbatasan.
Keberhasilan Huka Upcycling Project mengantarkan SMP IL Kapten Fatubaa meraih juara pertama kompetisi proyek sekolah sehat AIA Healthiest Schools 2026 tingkat SMP.
Prestasi tersebut sekaligus membuat sekolah itu mewakili Indonesia dalam ajang AIA Healthiest Schools 2026 tingkat regional yang akan digelar di Bangkok pada Juli mendatang.
Head of Corporate Communication AIA, Lia Merdekawaty, mengatakan setiap sekolah memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan di lingkungannya.
“AIA percaya setiap sekolah memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan bagi komunitasnya. Melalui AIA Healthiest Schools, kami ingin terus mendukung lahirnya inovasi yang tidak hanya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan peserta didik, tetapi juga menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat luas,” katanya.
Pada penyelenggaraan AIA Healthiest Schools 2026, Indonesia menjadi negara dengan partisipasi terbesar dibandingkan negara-negara Asia Pasifik tempat AIA beroperasi.
Tercatat sebanyak 2.896 pendaftar dan 359 proyek sekolah sehat mengikuti program tersebut, menunjukkan semakin kuatnya peran sekolah dalam mendorong pola hidup sehat dan berkelanjutan di lingkungan masyarakat.