← Beranda
Soal Dugaan Pemalsuan Riset, Menteri Brian: Pihak Dalam Kasus Ini Bukan Dosen atau Peneliti Aktif di Perguruan Tinggi In
Zalzilatul HikmiaKamis, 28 Mei 2026 | 19.35 WIB
Mendiktisaintek Brian Yuliarto. (Novia Herawati/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Dunia riset Tanah Air diguncang isu dugaan pemalsuan penelitian. Gongnya lagi, hasil riset yang diduga abal-abal tersebut telah dibawa ke konferensi ilmiah para ahli pneumonia seluruh dunia, ISPPD, di Kopenhagen, Denmark pada 17-21 Mei.

Sekilas, seolah tak ada yang aneh dari riset berjudul Multi-Strain Machine Learning Identifies Transcriptomic Combination Vulnerabilities In Multidrug-Resistant Streptococcus Pneumoniae itu ditulis tiga peneliti WNI atas nama Prihatini, Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti. Sampai akhirnya, beberapa kejanggalan dibongkar peneliti lain, Wa Ode Dwi Daningrat dan Ida Bagus Mandhara Brasika yang turut hadir.

Keduanya pun menuliskan kejanggalan-kejanggalan melalui akun Instagram. Kejanggalan tersebut antara lain, melakukan pemalsuan identitas. Salah satu panelis dari riset tersebut diketahui sempat gonta-ganti nama saat presentasi dengan bermodal ganti jilab dan nametag.

Baca Juga: Mendikdasmen Akui Masih Ada Perundungan di Sekolah, Kelompok Ini Paling Rentan

Kedua, soal lokasi riset. Dwi Daningrat dan Mandhara Brasika menilai lokasi penelitian agak sedikit tidak masuk akal. Pasalnya, riset dilakukan di beberapa negara mulai dari Peruvian Andes, Dataran Tinggi Wthiopia, Dataran Tinggi Guetemala, Lebanon, Nepal, Hingga India Utara.

Kecurigaan semakin menguat ketika seluruh periset merupakan warga Indonesia tanpa kolaborator setempat dan keterangan persetujuan etik. Puncaknya, afiliasi institusi yang disebut para peneliti tersebut tidak ditemukan di Indonesia.

Dalam papper yang disampaikan, ketiga peneliti ini menyebutkan AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-Biomed Research Foundation, Jakarta, Indonesia sebagai afiliasi organisasinya. Tak hanya itu, ketiganya diduga membuat penelitian ini dengan bantuan Artificial Intelligence (AI).

Baca Juga: Mendiktisaintek Brian Yuliarto Dalami Dugaan Pemalsuan Riset 'Demi Jalan-jalan Gratis' ke Denmark

”Risetnya dibuat terlihat sangat hebat padahal tidak pernah ada. Data palsu, digenerate AI, gambar dan tulisannya juga,” ujar Dwi Daningrat saat dihubungi Jawa Pos, Rabu (27/5).

Dia bahkan mengaku sempat bertanya langsung ke salah satu peneliti, Prihantini, untuk meminta penjelasan mengenai penelitian mereka. Termasuk poster yang dibawa. Sayangnya, Prihantini tak bisa menjelaskan apapun.

”Katanya seluruh abstrak mereka degenerate oleh leader mereka atas nama Rifaldy Fajar,” ungkap Dwi Dananingrat.

Diduga, ini bukan kali pertama aksi penipuan ini dilakukan mereka. Ini adalah cara para pelaku mendapatkan dana travel grant yang bisa membawa mereka ke luar negeri gratis.

Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto sudah mengeluarkan statement terkait kasus ini. Mendiktisaintek berkoordinasi bersama pihak-pihak terkait untuk melakukan pendalaman dan memastikan fakta-fakta yang sebenarnya. Termasuk, status yang bersangkutan, bentuk afiliasi yang digunakan, serta keterkaitannya dengan institusi pendidikan tinggi atau lembaga riset di Indonesia.

”Berdasar informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia,” ujar Brian saat dikonfirmasi.

Baca Juga: Hasil Nilai Rata-rata TKA SD-SMP 2026: Matematika 40 dan Bahasa Indonesia 60

Brian mengaku, memahami betul jika kasus seperti ini memunculkan khawatirkan tersendiri terhadap persepsi internasional pada integritas peneliti Indonesia. Namun demikian, pihaknya tidak akan serta merta memberikan sanksi.

Menurut dia, dalam menangangi kasus dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian ini, pihaknya akan mengedepankan prinsip kehati-hatian. ”Semua pihak perlu diberikan ruang klarifikasi, dan setiap dugaan perlu diverifikasi secara objektif berdasarkan bukti serta mekanisme yang berlaku di lingkungan akademik dan penelitian,” jelas Brian.

Selain itu, dia pun meminta pihak internasional untuk melihat hal ini secara proporsional. Indonesia memiliki sangat banyak peneliti, dosen, mahasiswa, dan inovator yang bekerja secara profesional, menjunjung standar etik dan integritas yang baik, memiliki reputasi, serta terus menghasilkan riset yang diakui secara internasional.

Baca Juga: Orang Tua Mulai Prioritaskan Kampus Berbasis AI demi Masa Depan Karier Anak

”Karena itu, kasus yang melibatkan segelintir pihak tidak boleh menutupi capaian dan kerja keras komunitas ilmiah Indonesia secara keseluruhan,” tegas Brian.

Indonesia lanjut dia, memiliki mekanisme evaluasi integritas riset melalui perguruan tinggi, komite etik, LPPM, sistem penjaminan mutu akademik, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi dari Kemdiktisaintek maupun BRIN sesuai kewenangannya. Untuk penelitian yang dilakukan dosen dan peneliti di Indonesia pun prosesnya berada dalam koridor pemantauan berkala yang ditujukan untuk menjaga mutu hasil penelitian.

”Bahkan, sejak tahap pengajuan proposal. Kemudian, penelitian pun dilakukan melalui proses review bertingkat, mulai dari LPPM hingga tim reviewer Kemdiktisaintek. Pada tahap pelaksanaan, laporan kemajuan dan laporan akhir juga dievaluasi dan dimonitoring,” papar Brian.

Baca Juga: Lowongan 8.000 Guru dan Tenaga Kependidikan Sekolah Rakyat Dibuka Tahun Ini, Cek Ketentuannya

Tak hanya itu, pada tingkat publikasi internasional, luaran penelitian dalam bentuk artikel ilmiah juga melalui proses editorial, peer review, serta mekanisme koreksi atau retract apabila ditemukan pelanggaran.

”Dengan keseluruhan mekanisme tersebut, validitas data, mutu riset, dan integritas publikasi ilmiah diharapkan dapat tetap terjaga. Apabila proses-proses tersebut dilewati atau tidak dijalankan dengan benar, tentu hal itu dapat berdampak pada mutu riset dan membuat data penelitian tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” tandas Brian. 

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah