← Beranda
UNUSA dan KCGI Jepang Siapkan Transformasi Pendidikan Berbasis AI, dari SKS Digital hingga Riset Global
ARMJumat, 22 Mei 2026 | 02.52 WIB
Guest lecturer KCGI Jepang di UNUSA membahas pemanfaatan AI untuk transformasi pendidikan tinggi dan pengakuan kredit akademik digital. (Dok. UNUSA)

JawaPos.com — Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) menjajaki kolaborasi internasional bersama Kyoto College of Graduate Studies for Informatics (KCGI) Jepang untuk pengembangan Artificial Intelligence (AI) dalam transformasi pendidikan tinggi di Surabaya. Kerja sama ini membuka peluang pemanfaatan AI untuk pengakuan kredit akademik, distribusi pengetahuan digital, hingga pertukaran mahasiswa dan dosen dalam mendukung SDGs poin ke-17 tentang kemitraan global.

Komitmen internasional tersebut diwujudkan melalui penjajakan kerja sama yang berlangsung di ruang rapat lantai 8 Gedung Tower UNUSA Kampus B.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan guest lecturer bertema “AI Architecture in Higher Education” di Auditorium UNUSA lantai 9.

Bagaimana AI Mulai Mengubah Sistem Pendidikan Tinggi?

Dalam pemaparannya, Mr. Ananda Nepal menjelaskan perkembangan Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah sistem pendidikan tinggi di berbagai negara.

Salah satu konsep yang mendapat perhatian ialah pengakuan kredit akademik melalui pembelajaran mandiri berbasis sertifikat digital atau “independent study”.

Baca Juga: UNUSA Gandeng Hear The World Foundation, Siapkan Prodi Audiologi untuk Anak dengan Gangguan Pendengaran

Mahasiswa disebut tidak lagi hanya memperoleh kompetensi dari ruang kelas formal kampus.

Mereka kini bisa belajar dari berbagai platform global seperti Coursera, edX, maupun pelatihan industri profesional yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Menurut Mr. Ananda Nepal, sertifikat digital yang dimiliki mahasiswa nantinya dapat diverifikasi menggunakan sistem berbasis AI.

Teknologi tersebut mampu memastikan keaslian dokumen, kesesuaian materi pembelajaran, hingga relevansi kompetensi dengan capaian pembelajaran di perguruan tinggi.

“Universitas tidak lagi menjadi satu-satunya tempat mahasiswa mendapatkan kredit akademik, tetapi menjadi lembaga yang mengakui kompetensi dari berbagai sumber pembelajaran,” jelasnya.

Meski AI digunakan dalam proses verifikasi awal, keputusan akademik tetap berada di tangan fakultas dan dosen. Peninjauan akhir tetap dilakukan secara manual sebelum kredit atau SKS diberikan kepada mahasiswa.

Konsep tersebut dinilai menjadi salah satu model pendidikan masa depan yang lebih fleksibel dan terbuka.

Perguruan tinggi tak lagi hanya menjadi pusat pengajaran konvensional, tetapi juga institusi yang mengintegrasikan kompetensi lintas platform digital.

AI Disebut Bisa Mengubah Aktivitas Kuliah Jadi Konten Digital

Tak hanya membahas pengakuan kredit akademik, Mr. Ananda Nepal juga memaparkan pemanfaatan AI dalam mengubah aktivitas akademik menjadi media publik berbasis digital.

Aktivitas seperti kuliah, seminar, praktikum, hingga proyek mahasiswa dapat direkam dan diolah menjadi berbagai bentuk konten edukatif.

Data pembelajaran berupa video, audio, maupun transkrip disebut dapat diproses menggunakan AI untuk membuat ringkasan materi otomatis.

Teknologi yang sama juga memungkinkan penerjemahan multibahasa hingga pengelompokan informasi agar lebih mudah dipahami masyarakat luas.

“Hasilnya dapat dipublikasikan menjadi podcast, video edukasi, maupun micro-credentials yang bisa dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.

Pemanfaatan AI tersebut dinilai mampu memperluas akses pengetahuan di era digital.

Kampus bukan hanya menjadi tempat belajar formal, tetapi juga pusat distribusi pengetahuan digital yang dapat diakses lintas negara dan lintas generasi.

Konsep itu juga membuka peluang baru bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan visibilitas akademik secara global.

Konten pembelajaran yang diolah AI dapat menjadi sumber edukasi publik sekaligus memperkuat reputasi institusi di bidang inovasi teknologi pendidikan.

Kolaborasi UNUSA dan KCGI Jepang Bisa Buka Peluang Global

Dalam sesi diskusi, Mr. Ananda Nepal menyampaikan sejumlah peluang kerja sama yang dapat dilakukan antara KCGI dan UNUSA.

Kolaborasi itu meliputi pertukaran mahasiswa dan dosen, student and staff inbound, join courses, hingga riset bersama di bidang teknologi dan Artificial Intelligence (AI).

Ia menyebut peluang kerja sama tersebut masih sangat terbuka untuk dikembangkan sesuai kebutuhan kedua institusi.

Fokus pengembangan nantinya dapat diarahkan pada bidang yang memberi dampak langsung terhadap peningkatan kompetensi mahasiswa dan dosen.

“Dalam hal ini kita bisa menentukan bidang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama,” katanya.

Kolaborasi internasional semacam ini dinilai penting di tengah percepatan transformasi digital global.

Perguruan tinggi dituntut mampu menyiapkan lulusan dengan kompetensi teknologi, kemampuan lintas budaya, dan daya saing internasional.

Kehadiran mitra dari Jepang juga memberi peluang transfer pengetahuan terkait pengembangan sistem pendidikan berbasis teknologi.

Jepang selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang aktif mengembangkan integrasi AI dalam dunia pendidikan dan industri.

UNUSA Ingin Mahasiswa Lebih Siap Hadapi Era Digital

Wakil Rektor III UNUSA Prof. Bambang Sektiari Lukiswanto menyambut positif peluang kerja sama tersebut.

Menurutnya, kolaborasi internasional harus berfokus pada implementasi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi sivitas akademika.

Ia berharap kerja sama bersama KCGI Jepang mampu membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dan dosen UNUSA untuk mendalami bidang Artificial Intelligence (AI).

Selain itu, kolaborasi ini juga diharapkan memperkuat kompetensi global di tengah perubahan dunia pendidikan yang semakin digital.

Penguatan jejaring internasional disebut menjadi langkah strategis untuk mendukung kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.

Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman akademik, tetapi juga pemahaman global terkait perkembangan teknologi masa depan.

UNUSA juga menunjukkan komitmennya dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Pengembangan AI dalam pendidikan dinilai menjadi salah satu upaya konkret menghadapi tantangan era transformasi digital.

 

 

EDITOR: Mohamad Nur Asikin