JawaPos.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan tidak ada toleransi pada kecurangan sekecil apapun dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun ini.
Sanksi tak lagi hanya berupa teguran, namun ancaman diskualifikasi. Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti ditemui usai acara halal bihalal di Kemendikdasmen.
“Kalau ada murid yang curang atau sekolah yang curang, maka langsung kita nol-kan nilainya,” tegasnya.
Mu’ti beralasan, sanksi tegas ini diberikan lantaran pihaknya ingin membangun karakter utama anak-anak Indonesia dengan fondasi kejujuran. Sehingga, nilai ini bisa tertanam dan diimplementasikan hingga mereka dewasa.
Menurut dia, pengalaman pelaksanaan TKA di jenjang SMA menjadi modal utama pada pelaksanaan dan pengawasan TKA di jenjang SD dan SMP nanti.
Dia memastikan bahwa secara sistem sudah lebih siap dan lebih tegas mengenai isu kecurangan ini.
Selain itu, kata dia, pihaknya telah menyiapkan prosedur tetap mengenai tata laksana penyelenggaraan TKA ini.
Setiap sekolah penyelenggara juga memiliki SOP yang berpedoman pada aturan yang dibuat pusat.
Meski lebih tegas akan isu kecurangan ini, menurutnya, TKA juga dibangun dengan berazaskan kegembiraan.
Baca Juga: Praktisi Pendidikan Nilai Pembatasan Medsos dapat Melindungi Masa Depan Anak
Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi tekanan psikologis siswa saat ujian yang berisiko mental block.
“Enggak usah khawatir, enggak usah takut. Siapkan saja sebaik-baiknya,” katanya. Dia pun mengimbau agar orang tua maupun siswa tak perlu khawatir soal nilai. Sebab, TKA bukan penentu kelulusan.
“Itu juga hanya menilai dua mata pelajaran saja kan, Bahasa Indonesia dan Matematika. Yang lainnya kan penilaiannya di masing-masing satuan pendidikan,” paparnya.
Lebih lanjut, Sekum PP Muhammadiyah itu menyebut jika persiapan TKA jenjang SD dan SMP ini secara keseluruhan sudah sangat siap.
Sebab, telah dilakukan uji coba berulangkali, baik secara teknis menyangkut penggunaan internet hingga yang berkaitan dengan ketersediaan sarana komputer.
Baca Juga: Tolak Wacana Pembelajaran Daring, Komisi X Ungkit Buruknya Kualitas Pendidikan saat Pandemi Covid-19
“Jadi semua tes kita TKA itu berbasis komputer. Nah, sekolah-sekolah yang tidak atau belum punya komputer memang kita atur sedemikian rupa supaya bisa pinjam di sekolah lain yang tidak menyelenggarakan TKA,” paparnya.
Senada, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kemendikdasmen, Toni Toharudin menyatakan kesiapan pelaksanaan TKA yang sudah mencapai tahap akhir. Ia menegaskan prinsip kejujuran menjadi fondasi utama dalam asesmen tersebut.
“Memang harus didasarkan pada kejujuran dan kegembiraan. Ini adalah asesmen yang standar, jadi budaya jujur itu yang kita bangun,” ungkapnya.
Tingginya partisipasi peserta juga menjadi sorotan. Toni menyebut sekitar 98 persen siswa SD dan SMP akan mengikuti TKA pada April mendatang.
Ia menilai, tingginya angka tersebut mencerminkan kesadaran sekolah dan siswa terhadap pentingnya evaluasi kualitas pembelajaran.
Baca Juga: Pemerintah Kebut Reformasi Pendidikan Indonesia, Target Renovasi 300 Ribu Sekolah
Hal ini juga didorong oleh keinginan siswa untuk masuk ke jenjang selanjutnya melalui jalur prestasi.
“Itu juga sebuah pendorong, tetapi kita jangan menonjolkan hal tersebut. Yang penting budaya muridnya naik itu yang kita harapkan,” ujarnya.
Disinggung soal gangguan teknis yang sempat terjadi saat uji coba, Toni memastikan, pihaknya telah melakukan perbaikan agar pelaksanaan TKA berjalan lancar.
Selain itu, Kemendikdasmen juga menyiapkan posko aduan di sejumlah titik untuk mengantisipasi kendala di lapangan.